DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 113



Suara pintu di ketuk dari luar. Sekretarisku masuk ke dalam sambil membawa berkas di tangannya.


"Nona, waktunya bertemu dengan perusahaan XX, Pak Chandra juga sudah siap menunggu anda di bawah." dia mengingatkan.


"Oke, aku segera turun." aku berdiri dan berjalan di depannya. Dia menyerahkan berkasnya padaku. Kami menuju ke area basemen. Pak Chandra sudah ada disana menungguku.


"Perlu saya temani nona?" tanya-nya.


"Tidak perlu. Sudah ada pak Chandra. Kamu kembali saja ke atas." dia mengangguk hormat. Aku masuk ke dalam mobilku, sedangkan pak Chandra ke mobil miliknya, kami pergi beriringan menuju tempat pertemuan di sebuah restoran hotel ternama.


Dua puluh menit perjalanan dan kami sudah sampai disana. Dua orang sudah menunggu kami. Mereka berdiri menyambut kami dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Setelah berbasa basi sedikit kami mulai membahas rencana kerja sama kami.


Satu jam berlalu akhirnya urusan kami selesai sudah. Kami melanjutkan dengan berbincang ringan sebelum kembali ke kantor masing-masing.


"Dasar J*l*ng!" aku tersentak kaget, seorang wanita paruh baya menarikku dari kursi ku hingga aku berdiri hampir terjatuh. Lenganku sakit. Satu tamparan keras terasa panas setelah telapak tangannya menyentuh pipiku dengan sekuat tenaganya. Aku masih terpaku tidak mengerti dengan suasana yang terjadi. Rasa amis darah di mulutku membuat ku sedikit mual. Beberapa pengunjung restoran menatap ke arahku sembari berbisik satu sama lain. Pak Chandra dan rekan bisnisku berdiri mereka terpana, tak menyangka dengan kejadian ini.


"Ternyata ini pekerjaan kamu, menggoda para pengusaha kaya supaya kamu mendapat hidup yang enak? Pantas saja kamu bisa membeli apa yang kamu mau. Toko perhiasan, hingga mall. Ternyata kamu menjadi sugar baby? Sudah berapa lama huhh?!! Semenjak kamu melahirkan anak haram kamu? Selama itu? Pantas saja kamu melarikan diri! Tidak tahu malu! Apa kekurangan putraku? Dia kasih segala yang kamu mau, dan kamu masih jadi wanita yang serakah? Sudah berapa orang yang jadi sugar daddy kamu, huhh?!!" Dia berkata dengan penuh emosi. Aku menatapnya dengan kesal.


"Nyonya Mauren, maaf. Anda salah faham. Nona ini bukan..."


"Pak Chandra, sudah!" aku mengangkat tanganku memotong perkataan Pak Chandra. Pak Chandra terdiam.


"Nyonya Mauren. Bukankah anda sendiri yang ingin aku pergi? Kenapa setelah aku pergi anda masih saja tidak suka? Haruskah aku kembali pada putramu?" tanyaku sinis.


"Jangan mimpi kamu! Wanita kotor seperti kamu mana mungkin pantas berdiri di sisi Devan." ucapnya lebih sinis lagi.


Dua bodyguard ku datang bersiap menarik mama Mauren dari hadapanku, tapi aku larang. Dia sedang mempermalukan dirinya sendiri di muka umum dan mana mungkin aku akan melarangnya.


"Huhh, aku tidak pantas? Lalu anda? Apa pantas berada di sebelah papa Stevan setelah menyingkirkan Lita? Padahal dia adalah nyonya Aditama yang sesungguhnya!" Dia membulatkan matanya terkejut dengan ucapan ku. Sepertinya karena terlalu emosi dia jadi lupa kalau aku sudah memegang kartunya. Ups, aku salah, dia bukan emosi, tapi dia sirik denganku.


"Dasar kamu wanita miskin! Ingat dimana kedudukan kamu! Kamu hanya bisa menjual tubuh kamu untuk mendapat yang kamu mau termasuk perlindungan dari mereka!" teriaknya sambil menunjuk ke arah relasiku. Ya ampun, dia benar-benar cari mati! Apa dia tidak tahu siapa yang dia tunjuk?


"Oh ya? Jangan sombong dulu nyonya. Bukankah sebentar lagi anda juga akan kembali ke keadaan yang semula? Aku bisa pastikan kalau sebentar lagi posisimu akan kembali di gantikan oleh yang berhak. Wanita licik!" ucapku dengan penuh penekanan.


"Coba saja kalau berani! Aku akan lakukan apapun untuk bertahan. Dan kamu, aku akan hancurkan kamu. Semua orang akan tahu kalau kamu hanyalah seorang simpanan!!"


"Cukup!" teriakku. "Bawa wanita gila ini!" titahku pada dua bodyguard ku. Mereka berdua langsung menarik tubuh mama yang meronta minta di lepaskan. Sumpah serapah terucap jelas terdengar di telingaku hingga dia di seret sampai keluar dari restoran.


Manajer hotel datang, setengah berlari mendekat ke arah kami. Dia meminta maaf atas ketidaknyamanan ini pada seluruh pengunjung restoran, khususnya padaku.


"Nona tidak apa-apa?" tanya Edward, dia relasiku. Pak Chandra juga mendekat ke arahku. Dia meminta es batu pada manajer hotel untuk mengompres pipiku yang bengkak.


"Jangan khawatir pak Edward, saya baik-baik saja." Aku mengelus pipi ku ini, rasanya lumayan ngilu, dan perih.


"Ayo duduk dulu." Tak lama manajer hotel datang lagi dengan beberapa es batu dan lap bersih. Edward dengan telaten mengompres pipiku, aku meringis saat rasa dingin dari es batu itu menempel di pipiku. Sakit.


"Maaf, aku akan pelan-pelan." ucapnya sambil menempelkannya perlahan. Aku merebut kompres dari tangannya. Tidak akan baik jika dia berbuat seperti itu. Aku tidak mau ada gosip yang beredar karena salah faham.


"Saya sendiri saja. Trimakasih!" ucapku.


"Maaf nona. Harusnya nona biarkan saya yang memberi pelajaran pada nyonya Mauren. Kalau saja dia tahu siapa nona saya yakin nyonya Mauren..." ucap Pak Chandra, wajahnya terlihat penuh sesalan dan dia juga terlihat agak tidak nyaman duduknya.


"Tidak apa-apa, Pak Chandra. Hal ini biar saya yang akan urus. Pak Chandra kembali saja ke kantor. Tolong jaga kantor dengan baik. Dan juga ada beberapa tikus di kantorku, tolong di awasi." pintaku. Pak Chandra mengangguk dan kemudian berdiri. Pamit kepada aku dan Edward. Asisten Edward pun sama dia juga di perintahkan kembali ke kantornya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Edward setelah kami hanya tinggal berdua.


"Seperti yang anda lihat tadi." ujarku santai masih menempelkan kompresan di pipiku.


"Sepertinya dia punya dendam? Apa kamu menyinggung dia?" tanya Edward lagi.


"Tepatnya dia yang lebih dulu nyinggung aku." ujarku.


"Jangan pura-pura Ed. Kamu juga tahu apa yang terjadi selama ini!" Aku memutar bola mataku, malas dengan sikapnya. Dia tertawa terkekeh. Dasar, dia tidak pernah berubah selalu jahil.


"Tapi aku salut, kamu semakin berani daripada dulu." Dia mengacak rambutku.


"Ed hentikan! Kamu bikin rambutku berantakan!" aku menepis tangannya. Dia semakin senang tertawa.


"Mau lanjut ke kantor apa pulang? Atau mau ke rumahku?" tanya dia lagi.


"Gak mau. Kamu kan mesum, kalau aku lengah suka curi-curi peluk dan cium." ujarku kesal.


"Gak bakal deh. Gak bakal." ujarnya merayu seperti biasa.


"Gak percaya!" tukasku.


Dia memanyunkan bibirnya. "Aku udah lama gak main skate board, sibuk gak? Temenin dong satu jam aja." bujuknya lagi. "Please!" dia memasang muka imutnya sambil mengedip-kedipkan pelupuk matanya.


"Ayo ah. Jijik gue lihat muka elo bang!" aku berdiri. Sedangkan dia berjingkrak senang saat berhasil memaksaku. Dasar! Eh, Iya bingung kan kenapa aku bisa akrab banget sama si Edward ini. Dia adalah Edgar Edward Narendra. Dia pakai nama Edward untuk dunia bisnis nya, biar keren katanya. Ish dasar!


Kami kembali bertemu dua tahun yang lalu. Saat itu Edgar sedang melakukan panggilan video call dengan salah satu teman Prancisnya, dia sedang mengantarkan keponakan kecilnya yang ternyata sama-sama belajar di playground yang sama dengan Daniel. Aku tidak sengaja berdiri di belakangnya. Aku pun tidak tahu kalau ternyata aku tersorot oleh kamera nya. Ya... dan begitulah selanjutnya. Dia meminta tolong pada temannya itu untuk memastikan kebenaran kalau memang itu aku ,dan aku benar-benar disana. Dan kemudian Edgar menyusulku ke Prancis, kami bertemu. Dunia sepertinya sempit ya.


"Kangen Sofia gak?" tanya Edgar saat kami sudah melaju di jalanan.


"Kangen, tapi gak bisa ketemu dulu!"


"Kenapa? Takut Devan tahu?" aku mengangguk.


"Dia selalu memantau mereka bertiga, bang. Gila kan ya?" aku memalingkan pandanganku ke luar jendela.


"Yah namanya juga cinta Nye. Dia sudah terlanjur di bilang gila, kenapa tidak sekalian saja. Memang dari dulu begitu kan? Gila dan posesif?!" Edgar tertawa mengejek.


"Iya."


"Apa rencana kamu sama nenek sihir itu?" tanya Ed lagi.


"Aku hanya akan bawa kembali orang yang pantas untuk ada di posisinya bang."


"Tante Lita?" Edgar bertanya. Aku mengangguk. "Kamu yakin kalau dia ibu kandung Devan?" aku mengangguk lagi. "Bagaimana kamu tahu kalau tante Lita adalah ibu kandung Devan?"


Aku menoleh pada Edgar, dan tersenyum dengan lebar.


"Ada deh. Kepo!" ujarku, Edgar mengulurkan tangannya hendak mengacak rambutku lagi. Aku mengelak, menyelamatkan kepalaku, tidak mau rambutku berantakan lagi.


"Jangan mulai deh bang. Lama-lama gue iket juga tuh tangan! Kesel gue!" dia tertawa keras melihat aku yang mulai marah dan kesal padanya.


"Abis kamu itu ngegesin! Ya sudah. Kalau kamu butuh bantuan, bang Ed pasti akan bantu kok."


"Harus! Kalau gak bantu, gue doain semoga jomblo seumur hidup!" aku melotot padanya.


"Dih, serem amat doanya. Yang baikan dikit napa neng? Moga tahun depan gue nikah, misalnya?!" kami tertawa bersama.


Rasanya senang sekali bisa bertemu lagi dengan Edgar. Meski awalnya aku juga canggung bertemu dengan dia, tapi dia bisa memastikan kalau dia memang sudah tidak apa-apa.


*


*


*