DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 29



"Anye kamu sakit? Wajah kamu pucat terus dari kemarin." tanya Nanda.


"Iya Nye, masih masuk angin?" tanya Nayara.


"Gue kerokin, sini!" Sofia.


"Enggak mau di kerok, sakit!" ucapku. "Udah minum obat kok. Tenang aja!"


"Jangan di paksain. Kalau sakit, ijin pulang aja!" Nanda.


"Iya. Nanti lah, orang aku gak pa-pa juga! Tolong ijinin sama pak Fredy ya aku gak ikut olah raga." ucapku.


"Oke." Nayara membentuk lingkaran dengan jarinya.


Sofia dan Nayara keluar terlebih dahulu.


"Kamu ke ruang kesehatan gih, aku antar!" Nanda khawatir.


"Enggak usah aku disini aja."


"Yakin?" Aku mengangguk.


"Apa kamu..."


"Nan, Ayok!!" seru Sofia dan Nayara dari pintu kelas.


"Iya!!" teriak Nanda. "Aku keluar dulu." ucap Nanda lalu pergi.


Seperti kemarin aku hanya menelungkupkan kepalaku di atas meja. Akhir-akhir ini aku merasa lemas. Tapi untuk mual muntah sudah jarang terasa pada siang hari, meski pagi setelah sarapan aku langsung lari ke kamar mandi, mungkin karena obat dan vitamin yang di berikan dokter waktu itu, membuatku lebih baik sekarang.


Pulang sekolah, sudah ada seseorang yang menungguku. Suruhan Devan. Sejak Devan tahu aku mengandung anaknya, dia tidak membiarkanku berangkat dengan kendaraan umum. Aku sempat protes, tapi dia juga mengancam akan datang pada mama dan Kak Mel.


"Aku turun di jalan saja." saat mobil akan masuk ke dalam.


"Tapi Nona, tuan muda menyuruh saya antar sampai depan rumah."


"Berhenti atau aku akan cium kamu, dan aku akan bilang sama Devan!" aku sudah menahan pundaknya dan akan memajukan wajahku.


"Jangan coba-coba nona!" serunya.


"Turunkan aku di depan sana!"


"Baik!" aku tersenyum melepaskan tanganku dari pundaknya.


Jangan fikir aku gila dengan mencium manusia es seperti orang ini. Aku hanya menggertak saja. Bibirku terlalu mahal! Meski aku sempat terlihat murah saat bersama Noval, tapi kalian tahu sendiri bagaimana keadaanku saat itu!


Sampai di rumah, aku membaringkan diriku dan tertidur masih dengan memakai seragam.


Seseorang menggoyangkan lenganku.


"Anye!"


Nanda?


"Eh, Nan? Kamu lagi apa disini?" tanya ku bingung sambil duduk.


"Aku mau nginep disini boleh? ibu sama bapak lagi ke luar kota kondangan." Nanda tersenyum dengan lebar.


"Tadi aku chat kamu tapi gak di bales. Tahunya lagi enak tidur!" bibirnya mengerucut sebal.


Aku mengambil hpku di dalam tas. Lima panggilan dan tiga pesan dari Nanda, dan ada beberapa dari Devan, dan dari teman sekolah yang lainnya!


"Hehe, aku cape jadi tidur."


"Jorok banget pulang sekolah tuh langsung mandi, trus ganti baju, baru tidur!" cercanya.


Kami makan malam bersama. Mama dan kak Mel sangat senang dengan adanya Nanda. Dan papa hanya tersenyum sebentar lalu kembali pada sifat dinginnya!


Huhhh... pada Nanda saja dia bisa tersenyum walau sedetik, tapi kenapa padaku tidak?!


Selesai makan malam kami mengobrol sebentar bersama mama dan kak Mel di ruang tv. Lalu kembali ke kamar pada jam setengah sembilan.


Nanda berbaring di atas kasur sedangkan aku duduk di meja belajar. Kami membuka buku yang akan di pelajari esok hari di sekolah.


"Kamu udah sembuh Nye?" tanya Nanda menutup buku di tangannya kami sudah selesai belajar.


"Udah mendingan." ucapku.


"Gak ah. Lagian malam ini juga ibu sama bapak pulang lagi, yang ada capek di jalan! Dan...aku gak mau di tinggal cuma berdua sama..." ucap Nanda terpotong tanpa ingin meneruskan kalimatnya lalu duduk di atas kasur. Aku tahu maksudnya.


Nanda menatapku lalu diam, terlihat dia seperti ingin berbicara tapi urung di lakukan.


"Ada apa?" tanyaku.


"Kamu..." ragu.


"... kamu yakin cuma masuk angin Nye?" Aku menatap Nanda. "Aku minta maaf Nye, bukannya apa-apa aku cuma khawatir. Kamu mual, muntah, pusing, lemas, kamu seperti orang yang lagi... hamil." lirihnya di akhir kalimat.


Deg...Nanda tahu?


Nanda berdiri mengambil sesuatu di dalam tasnya lalu kembali mendekat ke arahku.


Dengan ragu Nanda menyerahkan bungkusan plastik di tangannya.


"Sorry Nye, kamu boleh marah tapi aku cuma khawatir." Aku mengigit bibirku melihat raut wajah Nanda yang khawatir akan diriku. Bagaimana Nanda bisa tahu?


"Aku sering lihat mbak Dian muntah waktu hamil, gejalanya sama seperti kamu." mbak Dian adalah kakak sepupu Nanda.


Aku tersenyum. "Tidak usah Nan." Lalu aku mengambil tiga buah benda yang pernah aku gunakan beberapa hari kemarin dan menyimpannya di atas meja. Percuma juga menyembunyikan semua dari Nanda, toh dia sudah bisa menebaknya.


Mata sipit Nanda mendadak bulat melihat benda-benda itu, dia menutup mulutnya tidak percaya.


"Kamu... bagaimana bisa? Gak mungkin!"


Aku menghela nafas berat.


"Aku memang sedang hamil." lirihku.


"Tapi sama siapa? Aku tahu kamu Nye. Kamu gak mungkin seperti itu kan? Apa yang terjadi? Apa kamu di paksa?" Aku menggelengkan kepalaku.


"Tapi...gak mungkin... kamu..." Nanda tidak bisa berkata lagi. "...siapa? siapa yang udah berani sentuh kamu? Kamu pasti di ancam kan?" Nanda terlihat emosi.


"Bukan di ancam atau dipaksa Nan, pada kenyataannya aku yang memaksa dia!" ujarku.


"Maksud kamu... Apa?"


"Noval, dia..."


"Jadi dia yang paksa kamu?" Nanda sudah berdiri dari duduknya. Wajahnya terlihat marah.


"Bukan. Bukan Noval." aku melambaikan kedua tangan ku di depan Nanda.


"Duduk, aku akan ceritakan..." Nanda kembali duduk, aku beralih duduk ke atas kasur dan melipat kedua kakiku di depan. Nanda mendengarkan ku dengan seksama. Tidak ada yang ku lewatkan sama sekali. Dari mulai Noval memberi ku minuman, hingga aku yang bangun di apartemen Devan.


Mata Nanda berkaca-kaca, air matanya tidak berhenti mengalir.


"Maaf. Kalau saja kami tidak meninggalkan kamu malam itu pasti semua gak akan terjadi." sesal Nanda. "Kenapa aku gak nunggu kamu pulang!" Nanda memukul pahanya sendiri. Aku menahan tangan Nanda yang akan memukuli pahanya lagi. Nanda sangat menyesal.


"Ini semua takdir, Nan." Nanda memelukku, menangis dengan hebat. "Jangan nagis, aku aja kuat!" Lalu Nanda menjauhkan dirinya.


"Terus. om, tante, dan kak Mel tahu?" Aku menggelengkan kepala.


"Terus kamu ke depannya gimana? Apa kamu akan nikah sama Devan?"


"Gak tahu. Kak Mel sangat cinta sama Devan."


"Jangan mikir buat gugurin kandungan kamu, Nye! Aku akan bantu kamu!"


"Aku gak mikir gitu!" Aku menyentil jidat Nanda. Nanda mengusap keningnya.


"Mungkin aku akan minta mama ijinkan ke Bandung, aku akan kuliah disana. Ada salah seorang teman disana. Sementara aku akan kerja, dan kuliah di tahun berikutnya. Aku gak mungkin bilang sama mama dan papa. Mereka pasti akan marah dan malu sama keadaan aku."


Nanda kembali memelukku.


"Maafkan aku Anye. Maaf."


"Jangan beritahu yang lainnya." Nanda mengangguk, semenjak bersahabat dari SMP Nanda sudah tahu banyak bagaimana sifatku.


Malam ini menjadi malam yang panjang untuk kami berdua.


Sejak malam itu Nanda selalu overprotective padaku di sekolah. Dia selalu membantuku. Dan membelikan apapun yang sekiranya aku inginkan meski aku tidak ingin sebenarnya. Dia juga bahagia akan punya keponakan katanya.


...***...