DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 52



"Kamu mau mandi? Akan aku siapkan!"


Memalukan!!! 🙈🙈🙈🙈


Setelah selesai mandi dan memakai piyama yang sama seperti Devan, aku duduk di samping Devan yang sedang duduk bersandar kepala ranjang memangku laptopnya. Apa Devan sedang bekerja?


"Sini." Menepuk tempat kosong di sampingnya. Aku menurut. Apa Devan akan melakukannya malam ini? Ih fikiranku, kenapa aku jadi dewasa secepatnya ini?


"Anye, sayang. Ambil buku kamu, sini aku temani belajar!" menepuk lagi tempat yang tadi. Ups, dasar otak korengan! Aku kira Devan ingin kami... anu...


Stop berfikiran terlalu dewasa Anyelir! KTP juga belum ada!


"Iya."


Malam ini akhirnya aku belajar dalam dekapan Devan. Devan layaknya ayah yang menemani anaknya belajar. Suami yang baik! Suami...


Tiba-tiba wajahku terasa panas...


"Dev..."


"Apa?"


"Kamu bilang waktu itu...anu...emmm..." kata-kata yang ku rancang hilang seketika.


"Apa?" tanya nya lagi.


"Anu...itu..." dalam otak ku tergambar jelas apa yang ingin aku ucapkan, tapi kenapa rasanya macet di tenggorokan.


"Apa...?" bukan bertanya, tapi nadanya sudah menggoda.


Aku tetap tidak bisa berkata.


"Kamu mau bilang apa?" menyentuh daguku, sengaja menyentuh ujung hidungku dengan ujung hidungnya. Dadaku berdebar keras. Jika biasanya aku akan langsung meraup bibirnya, tapi kali ini nyaliku malah ciut. Biasanya aku malah menggodanya, tapi sekarang aku malah takut!


"Haha..." Devan malah tertawa, aku membuka mata. Devan menjauhkan kepalanya dariku. "...Kamu masih ujian, aku gak mau bikin kamu capek kalau meladeni aku malam hari. Kamu harus belajar." Mengusap kepalaku dengan sayang.


"Sekarang fokus saja sama ujian kamu, oke. Setelah itu kita akan bersenang-senang." Aku memalingkan wajahku. Kecewa? Entahlah! Malu? Iya!


"Hei, aku juga mau. Aku juga ingin, tapi aku takut. Aku tidak yakin akan melakukannya cuma satu kali. Aku takut akan buat kamu begadang semalaman, besok kamu masih ujian kan?" aku mengangguk. Tadinya aku berfikir malah... Ah sudahlah. Bukankah alasan Devan masuk akal?


"Sudah selesai kan belajarnya?" lagi aku mengangguk. "Ya sudah ayo tidur!" mengambil buku ku dan meletakkannya di atas nakas. Membenarkan letak bantal ku dan menaikkan selimut menutupi hingga dadaku.


"Selamat malam, boy!" mengusap perutku dengan lembut dan mengecupnya. Lalu berbaring di sampingku.


"Selamat malam my wife!" ucapnya.


"Malam, Dev!" Merasa malu, karena pertama kalinya tidur satu ranjang dengan lelaki dan itu dengan keadaan sadar!


"No. No Dev. but, Honey? Lovely husband? or Hubby?"


"Geli!" aku terkekeh sambil menghadap ke arahnya.


"Geli? Aku tidak menggelitik kamu!"


"Panggilannya itu Dev, aku geli nyebutnya! Hehe."


"Pilih salah satu. Nanti juga terbiasa kan?" aku mengangguk.


Devan mencium keningku, dan memelukku erat, membawa kepalaku untuk tidur di atas lengannya.


"Aku bahagia sekali. Akhirnya kita bisa sama-sama. Menikah dan punya anak. Tidak khawatir lagi kalau kamu akan jauh dari aku karena kamu udah jadi milik aku untuk selamanya. Trimakasih. Ayo tidur. Besok harus bangun pagi, perjalanan ke sekolah jauh dari sini."


"Iya, kita tidur!" Devan menutup matanya begitu juga aku, tak berapa lama terdengar suara dengkuran halus dari mulutnya.


Aku membuka mata kembali. Mengusap pipi Devan dengan pelan. Dadaku berdebar tidak karuan.


"Andai kamu tahu siapa yang ingin kita pisah Dev!"


Apa yang harus aku lakukan nanti? Apa aku harus meninggalkan Devan setelah anak ini lahir? Atau aku harus bertahan?


Nikmati saja waktumu sekarang ini Anyelir!