DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 115



Renata sedang berbaring di dalam kamarnya. Dia sedang memikirkan sesuatu. Mengingat orang tadi meskipun hanya dari arah belakang tapi dia seperti melihat Axel. Ah mungkin bukan!


Bentuk kepala dan potongan rambut pria kan hampir sama.


Renata berguling ke kanan dan ke kiri, dia tak bisa tidur, rasa rindunya yang membuncah membuat dirinya tak bisa memejamkan matanya.


Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus pulang sekarang?


...***...


Gio menatap iba pada Axel, tubuh yang dulunya segar menjadi terlihat layu, seperti bunga yang tak mendapatkan air selama beberapa hari.


Semenjak Renata pergi dia kembali ke kediaman Keluarga Aditama. Mama meminta supaya dia menemani Axel di kala masa-masa terpuruknya.


...***...


Tiara menatap bingung pada atasannya yang hanya diam selama beberapa hari terakhir ini. Senang juga sebenarnya, telinganya tak lagi sakit karena suara bos yang keras. Akan tetapi, ada rasa sepi yang merasuk ke dalam relung hatinya tak mendengar teriakan bosnya ini.


"Ini sudah selesai, Pak!" Tiara memberikan berkas yang baru saja ia selesaikan. Gio tak menyahut atau apapun, bahkan saat dia memanggilnya sekali lagi. Pandangan Gio menerawang ke depan, entah kemana.


"Pak! Bapak?! Halo?!!" dengan lancangnya Tiara melambaikan tangannya di depan wajah Gio.


Dia terkejut saat Gio menangkap tangannya dan sedikit menariknya, wajah mereka hampir saja beradu. Dada Tiara kembang kempis, nafas Gio terasa dengan jelas hangat di pipinya.


"Ngapain kamu?" tanya Gio dengan nada dinginnya.


"Tidak apa-apa. Cuma... cuma... tadi Bapak sepertinya melamun." lirih Tiara. Dia hendak menarik tangannya tapi tak bisa. Cengkeraman tangan Gio sangat erat di tangannya.


"Makan siang. Yuk!" ucap Gio tanpa melepaskan tangan Tiara.


"Ini belum jam makan siang Pak!" ucap Tiara. Dia yakin makan siang masih dua jam lagi. Bahkan dia saja belum merasa lapar.


"Tapi saya lapar. Saya belum sarapan!"


Eh? Belum sarapan? Bukannya sekarang tingal di Rumah Pak Axel, ya? Kok bisa belum sarapan? batin Tiara.


"Oke deh. Tapi tolong lepaskan tangan saya. Gak enak di lihat sama yang lain!" ucap Tiara. Gio berhenti melangkah, dia kemudian berbalik dan menatap tangannya yang masih menarik k tangan Tiara.


"Kamu ngapain pegang-pegang saya?" tanya Gio.


Tiara melongo, siapa yang pegang tangan Bapak? Apa bapak amnesia? perlu saya jedotin kepalaya ke tembok?


Jangan kira Tiara bisa mengatakan hal itu, tentu itu hanya dia ucapkan di dalam hatinya saja. Di pecat bisa mamp*s dia!


Rencana mengundurkan diri yang sempat ia pikirkan waktu di di bali ia hempaskan jauh-jauh. Dia tak boleh egois, apalagi saat dia melihat gudang di belakang rumahnya ambrol atapnya.


Fiuhhh. Sabar saja dengan nasibnya, toh hanya tinggal satu tahun sembilan bulan lagi. Huuu....😭😭😭 lama sekalii....


Oke sabar Tiara! Kamu pasti bisa! Anggap saja dia ini beruang kutub! Eh kalau beruang kutub dia bisa saja dimakan jika dia sedang marah, anggap aja dia panda deh! Dengan segala tingkah lakunya kau tertawa saja. Hem... Ya begitu saja. Tertawa saja!


"Kalau mau pegang tanganku bisa gak permisi dulu?" tanya Gio. Peringatan sebenarnya. Dia lalu melangkah meninggalkan Tiara yang kini hanya bisa menepuk jidatnya.


Dia harus bagaimana dengan bosnya ini?


Sepertinya diamemang harus menyiapkan balok kayu atauapapun itu untuk menyadarkan si bos!


Dia yang berbuat. Kenapa dirinya yang di salahkan?