DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
259



Heru menarik tangan pria itu dengan kasar ke arah pintu. Pria itu menolak dan juga berontak, tapi tubuh kurus nya tdak mampu membuat di bisa bertahan.


"G, lepaskan lah dia. Aku tidak mau berurusan lagi dengan dia." ucap Tiara saat tidak tahan mendangar rengekan dan juga mohon pengampunan pria tu padanya.


Gio menatap Tiara dan kemudian menggerakkan tangannya, membuat Heru kini berhenti.


"Aku tidak mau berurusan lagi dengan dia, kau suruh saja dia kemana, Bahkan dia juga tidak pantas untuk mati di tangan kita. Biarkan Tuhan sendiri yang mengambil nyawanya dengan jalan dan juga takdirnya." ujar Tiara. Gio kesal sebenarnya, lepas kan begitu saja, enak sekali pria itu dengan kemurahan hati istri nya hidupnya aman dan juga selamat.


"Hem ... Oke baiklah, apapun yang kau mau. Heru, lakukan seperti biasanya." Gio berkata dengan tegas.


Heru mnurut, sayaag sekali, tidak ada adegan menyenangkan setelah ini, dia melepaskan kecoak begitu saja. Tapi tidak akan mudah, karena tempat sampah mana pun tidak akan mau menerima kehadirannya.


Tiara duduk di sofa, pikirannya kacau dengan kejadian barusan. Benarkah Gio akan melakukan potong tangan orang jika dirinya tidak datang?


Tiara terdiam menatap kosong pada dinding di depannya. Gio mendekat dan duduk di samping sang istri yang kini maih diam.


"Ada apa?"tanya Gio kini merangkul bahu sang istri dengan lembut.


Tiara menoleh ke arah Gio dan menatapnya dengan tajam.


"Aku hanya main-main sja. Itu hanya mainan, apa kau tidak percaya? Aku hanya sedang marah karena perlakuan dia sama kamu, jadi itu hanya untuk menakuti dia saja. Beneran." Gio berkata dengan megalihkan wajahnya ke arah lain, dia sangat tidak mau kalau Tiara memikirkan hal burk terhadapnya. APa jdiinya jika tiara memikirkan hal itu? Tukang jagal? lalu dia tidak mau lagi dengan dia? Bissa mati tersiksa batinnya karena tidak bisa dengan Tiara.


"Aku gak mau kamu lakukan itu G. Menakkuti orang dengan sangat keterlaluan. apalagi kalau benar sampai terjad pertumpahan darah disini." Gio tersenyum dengan canggung. Dia mengambil Tiara ke dalam pelukannya.


"Tidak, aku gak akan lakukan itu, lagian aku hanya bermain-main saja. Sungguh. Kau lihat kan dia tidak apa-apa. Dia masih utuh." Gio menyandarkan kepalanya pada bahu sang istri, tangannya memegang tangan Tiara yang tadi di sentuh oleh pria itu.


"Aku sangat marah, Ra saat tadi kau d sentuh dia. Kau sampai semarah itu, apa lagi yang dia lakukan? Apa dia mengatakan sesuatu yang buruk sama kamu?" tanya Gio.


Tiara diam, dia menatap ke arah luar jendea. "Dia pria berengsek." hnaya itu yang dia katakan setelah itu Tiara diam.


"Maaf, kar na aku gak jagain kamu dengan baik. Aku abai dengan keselamatan mu, maafkan aku, ya." pinta Gio. Dia mengelus tangan Tiara seakan membersihkan kotoran yang melekat disana.


"Aku mau pulang saja, G. Tolong kau telpon orang rumah untuk jemput aku disini." pinta Tiara. Pikirannya kembali pada kejadian tadi d kantin, dia ingin melanjutkan istirahatnya.


"Aku saja yang antarkan. Lagi pula tidak ada pekerjaan lain disini, aku akan pulang." ucap Gio seraya bangkit dan menarik tangan Tiara.