DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 63



Aku terbangun di sebuah kamar berukuran cukup luas dengan cat putih, bau khas obat-obatan tercium kental disana, aku tidak pernah suka bau ini.


Aku sadar ini berada dimana.


Satu tanganku terpasang infus, sedangkan satu tangan yang lain, Devan menggenggamnya. Dia tidur di sampingku dengan posisi duduk, kepalanya tertelungkup di atas kasur. Dia masih memakai pakaian kerjanya. Wajahnya terlihat lelah. Nafasnya berhembus pelan.


Memutar memori, bagaimana aku bisa sampai berada disini. Mama...


Anakku!


Memaksakan diri untuk bangkit, seluruh tubuhku terasa sakit, lenganku di perban. Ku singkapkan selimutku. Aku sudah berganti pakaian dengan baju khas rumah sakit. Devan terbangun saat kasurku bergerak.


"Honey!" Devan segera bangkit saat melihat aku kesusahan, dia segera menolongku untuk duduk bersandar, menumpuk bantal di belakang punggungku.


"Dev..."


"Honey, kamu sudah sadar!" memeluk tubuhku erat, menciumi wajahku berkali-kali, air matanya membasahi pipiku. Terlihat betapa dia sangat khawatir.


"Maaf, maafkan aku! Aku tidak bisa jaga kamu dengan baik. Maaf, maaf." Devan mengambil tanganku yang terbebas dari infusan dan menciuminya berkali-kali.


Perkataan Devan seakan menyiratkan kalau aku tidak baik-baik saja sekarang. Apa yang sebenarnya terjadi. Apakah kami baru saja kehilangan anak kami?


Air mataku meluncur begitu saja, kata yang ingin aku ucapkan tercekat hanya sampai di tenggorokan. Rasanya sesak.


"Aku minta maaf, sayang. Kalau saja aku tidak minta kamu cepat pulang pasti semua ini tidak akan terjadi. Ini salahku. Salahku." Devan menangis.


"Dev, anak...kita?" akhirnya aku bisa bicara.


"Anak kita selamat. Tapi aku tidak akan memaafkan diriku sendiri kalau ada apa-apa lagi dengan kamu dan anak kita!" Aku memejamkan mataku, menghela nafas lega.


"Dev. Mama?" tanyaku sambil mendorong dada Devan. Baru aku ingat dengan mama. "Mama bagaimana? Maaf aku tarik mama sampai mama jatuh!" Sejahat apapun mama tetap dia adalah ibu dari suamiku yang harus aku hormati dan aku sayangi.


Devan merenggangkan pelukannya.


"Kamu lebih khawatir dengan mama daripada keadaan kamu sendiri?! Kamu gak inget keselamatan kamu dan anak kita!" bentak Devan dengan nada sedikit tidak suka. Rahangnya mengeras sinar matanya gelap.


"Tapi itu mama kamu Dev. Aku refleks berlari pada mama. Aku takut mama tertabrak."


"TAPI BUKAN BERARTI KAMU HARUS KORBANIN DIRI KAMU SENDIRI, ANYELIR!!" Nafas Devan memburu, matanya merah aku memejamkan mata. Takut. "Bagaimana kalau... kalau... kamu tidak selamat?" tanya Devan lirih di akhir kalimat memelukku lagi semakin erat.


"Tapi itu mama kamu Dev, apa kamu mau mama tertabrak mobil?" lirihku sedikit marah. Devan menggeleng. Aku tahu Devan akan sulit memilih antara aku dan mama.


"Aku tidak ingin mama kenapa-napa, tapi aku juga takut kehilangan kamu, sayang. Jangan pernah lakukan itu lagi lain kali. Please!" bahu Devan bergetar, betapa dia sangat ketakutan.


"Maaf, aku cuma refleks. Aku lihat mama akan menyebrang, tapi ada mobil dan aku...."


"Sudah lah. Yang penting kamu selamat."


Kami terdiam, masih posisi berpelukan. Tidak. Devan memelukku. Aku menikmati kehangatan dari tubuh suamiku. Rasanya menenangkan sekali. Sampai kami melepaskan pelukan karena mendengar suara sesuatu, tapi yang pasti bukan dari perutku.


Aku mendorong dada Devan.


"Kamu belum makan?" tanyaku. Devan hanya terkekeh.


"Aku tidak bisa makan karena menunggu kamu bangun." Devan menggaruk belakang kepalanya.


"Aku cuma ingin jagain kamu, dan saat kamu bangun aku ingin jadi orang pertama yang kamu lihat."


"Cih lebay!" cibir ku, sambil menyeka wajahnya yang basah.


"Mau bagaimana jagain aku kalau kamu kelaparan. Kamu juga harus makan supaya kuat, supaya sehat biar bisa jaga aku dan anak kita!" seruku, lagi-lagi Devan hanya terkekeh.


"Ya, princess. Karena kamu sudah bangun aku akan makan." Lalu Devan menelfon seseorang, menyebutkan makanan yang ia mau.


"Dev." panggilku menarik lengan jas Devan. Devan menjauhkan hp dari telinganya.


"Apa?" tanya nya lembut.


"Mau makan apa?"


"Roti kukus, isian coklat kacang!" ucapku sembari mengedip-kedipkan mata. Devan tersenyum lebar sambil mengusap kepalaku, membuat rambutku berantakan.


"Oke!" lalu kembali berbicara dengan seseorang di ujung telfon.


"Dev, mama dimana? Apa mama terluka?" tanyaku saat Devan baru saja menyimpan hpnya di atas nakas.


"Mama hanya shock. Selain luka lecet karena jatuh, mama baik-baik saja! Jangan khawatir!"


Aku lega! Tapi juga takut bagaimana kalau mama semakin marah, dan semakin membenciku karena membuat lecet kulit mulusnya?


Kami berbincang, tak lama pintu terbuka. Aku kira seseorang dengan membawa makanan, ternyata mama!


Aku bersembunyi di belakang punggung Devan, meremmas lengan kemejanya. Takut. Tangan mama terlihat lecet di beberapa bagian.


"Eh, ma. Mama sudah baikan?" tanya Devan. Mama berjalan mendekat. Aku semakin menunduk menyembunyikan wajahku.


"Anye!" Mama berjalan dengan cepat, ke arahku. "Anye, mama minta maaf." Mama langsung memelukku. Devan menyingkir memberikan ruang untuk kami. Aku terdiam cukup kaget dengan perlakuan mama.


"Mama minta maaf sayang. Maafkan mama. Kalau saja mama tidak teledor tentu kamu gak akan celaka." Mama menangis, aku baru tersadar dan mengangkat tanganku, mengusap punggung mama yang bergetar. Rasa hangat menjalar di dadaku.


Mama merenggangkan pelukannya, menatapku dan menciumi seluruh wajahku, pipi dan kening maksudnya.


"Mama sangat khawatir. Mama minta maaf, kalau bukan karena kamu mungkin mama sudah mati." air mata mama terus mengalir.


"Sudah lah ma. Maaf karena Anye mama jadi jatuh." mama menggelengkan kepala.


"Enggak sayang. Justru mama yang minta maaf, kamu bisa saja celaka atau kehilangan anak kalian. Mama sungguh minta maaf." sesal mama.


"Mama juga minta maaf atas perlakuan mama selama ini. Mama terlalu kasar sama kamu. Mama sudah buat kamu sakit hati karena perkataan mama. Maaf. Maaf." tiba-tiba mama melepaskan pelukan dariku dan berlutut di lantai, menangis tersedu sambil mereemas lututnya.


Aku terpekik kaget tidak menyangka mama akan berlutut seperti itu. Devan tak kalah kagetnya dia refleks berdiri dan mendekati mama.


"Mama, bangun ma. Mama tidak perlu seperti itu." ujar ku, ingin bangun tapi badanku masih terasa sakit. Terutama di bagian bawah perutku.


"Enggak Anye, mama gak akan bangun sebelum kamu maafkan mama. Mama banyak salah sama kamu." ucap mama.


Devan menarik satu tangan mama. "Apa yang mama lakukan ma, bangun."


"Enggak, Dev. Maafkan mama, selama kamu di luar kota mama mengaku, mama kasar sama Anye. Mama sudah banyak sakitin dia. Mama buat dia lelah, mama buat Anye sakit hati. Mama minta maaf, Dev. Karena mama selama ini berpura-pura baik. Mama hanya ingin kamu mendapat yang terbaik Dev. Mama...mama...hikss...maaf. Mama sempat fikir untuk kalian berpisah. Karena mama fikir Anye tidak akan baik untuk karier kamu. Anye...maaf...maafkan mama." Devan melepaskan tangannya dari mama, mundur beberapa langkah. Menggeleng kan kepala tidak percaya.


"Apa ini? Selama ini aku percaya jika mama menjaga Anye dengan baik. Aku percaya mama akan menjaga istri dan anakku, tapi... tapi...AAKHHH!!!!" Devan berteriak kencang, mereemas rambutnya dengan kasar.


"Mama minta maaf, Dev. Mama salah."


"Karena mama kami bertengkar ma. Aku menyesal karena aku tidak percaya dengan istriku sendiri. Selama ini aku fikir mama bisa terima Anye apa adanya, jadi benar kata Anye mama selalu menyinggung masalah adal usul Anye?!"


"Dev. Sudah. Jangan marahi mama." Aku khawatir, Devan sudah mengepalkan tangannya, bahkan memutih di setiap buku-buku tangannya. Rahangnya mengeras, matanya merah. Dadanya naik turun dengan cepat.


"Devan gak nyangka mama egois. AAAKKHHHH!!!" benda diatas nakas seketika berhamburan ke lantai akibat sapuan dari tangan Devan. Buah-buahan yang ada menggelinding ke segala arah. Mama semakin menunduk takut, masih bergeming di tempatnya sedangkan aku berteriak kaget, dan juga takut. Takut jika Devan lepas kontrol. Dia sangat menakutkan jika sedang marah.


"Dev!" teriakku. Kepalaku pusing. Perutku semakin linu. Ku ggigit bibir bawahku, menahan rasa sakit di perut.


"Dev..." aku mengulurkan tanganku. "Tolong...sakit!"


Devan menahan tubuhku. Mama menjerit seraya bangun dari lantai. Dan entahlah, aku tidak ingat lagi. Semua gelap.


*


*


*


Maaf ya kalau part ini kayaknya drama banget 😅