DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel. part 18



Matahari sudah agak meninggi saat Axel turun dari lantai atas. Wangi aroma masakan harum tercium di bawah hidungnya terasa berbeda dari biasanya.


Di dapur, Renata sedang bergerak lincah kesana kemari, memegang pisau dan sesekali mengurusi penggorengan. Koki keluarga Aditama hanya terdiam menyaksikan dari sudut ruangan, wilayah kekuasaannya di jajah oleh gadis muda itu.


"Kenapa kamu biarkan Renata memasak?!" Koki itu hanya menunduk takut saat putra majikannya menatapnya tajam.


"Maaf, Tuan Muda..."


"Aku yang ingin masak Xel!" potong Renata yang mendengar suara Axel.


Renata mendekat dan menarik tangan Axel, membimbingnya ke kursi pantry.


"Ada koki, kenapa kamu yang memasak?" tanya Axel tak suka. Dia menyingkirkan anak rambut Renata dan menyelipkannya di belakang telinga Renata.


Koki yang berdiri tak jauh dari mereka semakin mengkerutkan dirinya, merasa bersalah karena tak kuasa menyingkirkan orang asing dari daerah kekuasaanya. Apalagi orang asing itu adalah gadis yang disukai anak bungsu keluarga Aditama.


"Aku yang mau masak memangnya kenapa? Aku mau masak sesuatu buat kamu! Kamu gak mau?" Renata merengut.


Axel tersenyum melihat raut wajah kesal Renata. Mungkin terbiasa hidup mandiri membuat Renata tidak mau hanya berpangku tangan menunjuk ini dan itu, apalagi ini bukan rumahnya.


"Tapi nanti kamu capek!" ucap Axel.


"Aku sudah biasa capek, kamu sendiri tahu kan bagaimana aku biasanya di kafe."


"Ya, baiklah!


Axel mengalah. Dia membiarkan Renata menyelesaikan masakannya.


Dari tempatnya duduk dia bisa melihat bagaimana Renata berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Tubuh ramping itu terlihat lincah seperti menari-nari ke kanan dan ke kiri. Suara penggorengan beradu, lalu kemudian suara pisau memotong bawang dan sebagainya.


Axel tak hentinya memandang Renata dari tempatnya. Dia jadi berfikir, pasti akan sangat bahagia sekali jika menikah nanti dengan Renata, setiap hari bisa melihatnya memasak, dan menikmati masakannya.


"Kenapa tersenyum?"


Axel seperti tertarik kembali ke alam sadarnya.


"Tidak ada. Hanya membayangkan kalau setiap hari aku bisa makan masakan kamu!" ucap Axel. Renata tersipu malu. Wajahnya memerah bagai tomat yang hampir busuk.


Renata kembali pada masakannya.


Beberapa saat lamanya.


"Selesaiii!" seru Renata dengan dua piring di tangannya. Dia membawanya ke hadapan Axel.


"Aku gak tahu kamu suka makanan apa, jadi aku buatkan nasi goreng dan telor gulung." ucap Renata malu.


"Aku akan makan apapun yang kamu masak!" ucap Axel, lalu menarik piringnya ke dekatnya.


"Kamu,.. " tunjuknya pada koki. Koki itu mendekat sedikit. "... pergilah, bantu yang lain. Jangan ganggu kami!" usir Axel. Segera koki itu undur diri setelah menundukan tubuhnya.


Axel menikmati sarapan pertama yang dibuatkan Renata. Rasanya sungguh berbeda dari yang selama ini di buatkan oleh koki.


Pria itu sudah siap dengan stelan jas mahalnya.


Axel memukul tangan itu dengan sendok yang berada di tangannya. Gio cemberut seraya mengelus tangannya yang sakit.


"Pak Gio mau sarapan? Aku akan ambilkan!" tawar Renata.


"Hehe... Boleh!" ucap Gio dan tak tahu malunya pria itu duduk di sebelah Axel. Membuat Axel kesal luar biasa dan mengusap wajahnya kasar. Inginnya sarapan berdua dengan Renata. Kan romantis!


Dia melotot tajam seakan dari sorot matanya itu mengatakan, 'pergilah kau dari sini!!!'. tapi yang di tatap hanya cuek seperti bebek, dan lalu menikmati sarapan kreasi koki baru, alias Renata.


"Xel, jangan begitu! Pak Gio juga butuh sarapan. Lagian aku kan bikinnya juga sengaja banyak untuk sarapan kita bertiga!" Renata melirik tajam pada kekasihnya. Ya, semenjak semalam mereka memutuskan untuk menjalin hubungan, nyatanya meski Renata marah dengan kebohongan Axel selama ini, dan tak suka dengan orang kaya, tapi tak di pungkiri kalau pria itu membuatnya tak nyenyak tidur selama ini. Kalau pria itu membuat detak jantungnya tak beraturan melompat kesana kemari.


Axel hanya menunduk merengut, ucapan sang kekasih tak bisa ia bantah. Karena saking cintanya dia.


Melihat Axel -si tukang perintah- yang kini pasrah tak berdaya di depan kekasihnya membuat Gio menahan tawanya. Merasa puas karena selain sang mama ternyata ada satu orang lagi yang bisa membuatnya takluk dan takut. Renata!


Melihat Gio yang tertawa mengejeknya, rasanya Axel ingin menarik kerah belakang pria itu dan melemparkannya keluar saat ini juga. Dalam bayangannya dia sedang mengangkat seekor kucing keluar dari rumah dan lalu menendangnya jauh-jauh.


"Jangan panggil dia, Pak! Jangan terlalu formal, kita sedang tidak di tempat kerja!" cecar Axel kesal. Renata melongo, ada nada tak suka di dalam kalimat yang di ucapkan Axel.


"Iya, aku sudah terbiasa dengan panggilan itu. Jadi agak susah." ucap Renata kikuk.


"Kalau begitu mulai sekarang kamu juga harus biasakan panggil aku 'sayang'. Supaya nanti kamu terbiasa!" ucap Axel posesif. Renata terdiam, tak menyangka kalau Axel akan se-posesif ini pada dirinya.


Axel menatap ke arah Gio. Ingin tahu apa reaksi kakak, sahabat, dan asistennya pribadinya ini. Tapi percuma, tak ada reaksi apapun pada si muka datar, sedatar tembok itu!


Gio menutup telinga, dia lebih memilih menikmati sarapan paginya daripada mendengar gombalan Axel.


Setelah menghabiskan sarapannya, Gio bangkit terlebih dahulu.


"Trimakasih sarapannya!" ucap Gio membungkukkan setengah badannya pada Renata, membuat gadis itu canggung luar biasa.


"Siang ini ada rapat khusus dengan dewan direksi. Jangan terlambat!" ucap Gio lalu melangkah.


"Hei! Kamu gak mau tunggu aku?!" teriak Axel.


"Aku akan pergi sendiri, menikmati ganti rugi darimu!" ujar Gio lalu melangkah dan semakin menjauh pergi.


Axel mengusap wajahnya kasar, meratapi si Avi kesayangannya yang kini sudah berpindah tangan. Avi....


Axel sudah bersiap dengan stelan jas berwarna navy, dengan dasi berwarna senada. Dia terlihat gagah dan menawan dengan pakaian seperti itu. Rambutnya di sisir rapi ke belakang. Sepatu hitam mengkilat membuat sosoknya terlihat menawan dari atas sampai bawah.


Sesaat Renata tertegun menatap Axel yang turun dari tangga. Tidak menyangka, pria yang biasanya dia lihat memakai seragam kafe dan celana bahan, dan sepatu sneakers dengan kaca mata kotak berubah menjadi seperti Cinderella. Eh... Maksudnya pangeran! Ya Axel terlampau tampan hingga rasanya pangeran Inggris pun lewat oleh pesona pria berumur hampir dua puluh empat ini.


Axel tersenyum melihat reaksi di wajah Renata.


"Kenapa? Apa ada yang salah dengan ku?" tanya Axel membuyarkan lamunan gadis itu