
Hari ini Gio dan Tiara akan melakukan perjalanan bulan madu ke Bali. Tiara menolak pergi jauh karena ada rasa khawatir meninggalkan ibu. Gio pun menuruti apa kemauan istrinya. Paling tidak Bali dan Jakarta hanya membutuhkan waktu lebih kurang satu jam penerbangan.
"Ibu benar tidak akan ikut kami? Kita bisa melihat pantai loh, Bu!" tanya Tiara saat setelah membereskan pakaiannya.
"Kalian itu kan mau bulan madu. Masa iya Ibu akan ganggu kalian! Sudah sana kalian pergi saja."
"Aku tidak kau ajak, Ra?" tanya Cantik yang memang ada disini. Gio memerintahkan Cantik untuk menemani ibu selama mereka tidak ada.
"Kau harus menemani Ibu!" Heru menimpali, dia berdiri kaku bak patung di belakang Gio.
"Aku kan juga mau ikut liburan." cebik Cantik.
"Nanti kalau kau sudah pensiun aku bebaskan kau liburan kemanapun kau mau!" ucap Gio kali ini. Cantik semakin kesal. Dia sudah tidak pernah liburan semenjak menjadi pengawal Tiara.
"Sebagai anak baik, kau diam di rumah ya adik! Kau kan adikku yang paling cantik, yang paling baik, yang paling segalanya!" Tiara mencubit kedua pipi Cantik dan menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri.
"Tidak adil! Heru kalian ajak, kenapa aku tidak? Maaf ya, Bu. Bukannya akunl tidak mau menemani ibu, tapi liburan ke Bali kapan lagi?" ucap Cantik dengan mengerucutkan bibirnya. Cantik menepis tangan Tiara dan mengusap pipinya yang sakit.
"Hei Heru akan jadi sopirku. Lagipula kalau kau ikut, kau pasti akan mengganggu acara bulan maduku! Aku tahu bagaimana kalian berdua jika sudah bersama!" tunjuk Gio pada Cantik. Cantik menatap Tiara memohon dengan sorot matanya.
"Tadi kalian mengajak ibu. tapi kenapa tidak denganku?"
"Ibu berbeda! Sedangkan jika kami mengajakmu pergi yang ada istriku akan mengasuhmu terus."
"Ara!" puppy eyes di keluarkan sebagai senjata andalan.
"Jangan lihat aku. Lagipula aku sedang dalam acara khusus. Kau menyusul saja dengan pasanganmu!" ejek Tiara. Cantik semakin kesal.
"Kau mengejekku?" Cantik melotot tajam. Lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Sudah. Kita bisa lakukan acara ibu dan anak. Biarkan saja mereka pergi." bujuk ibu pada Cantik
Setelah drama Cantik siang ini akhirnya mereka bertiga pergi ke bandara. Gio dan Tiara, sedangkan Heru di tempat terpisah.
"Tadinya aku ingin ajak kamu ke Prancis. Kita sekalian kunjungi kakek." tutur Gio.
"Aki khawatir dengan Ibu G. Kau bisa mengerti, kan?" mohon Tiara dengan wajah tak rela. Tiara tidak pernah meninggalkan ibu sendirian. Gio mengangguk.
Satu jam kemudian. Mereka sudah sampai di bandara. Mobil telah tersedia. Herunl segera melajukan kendaraannya membawa pasangan pengantin baru ini ke hotel.
"G, ini hotel yang dulu itu kan?" tanya Tiara tidak menyangka. Gio hanya mengangguk.
Tiara tidak menyangka dia akan benar-benar menginap di hotel yang dulu pernah menjadi angan-angannya, dan lagi lebih tidak percaya jika dia kembali lagi kesini bersama dengan Gio. Hanya saja kini dengan statusnya berbeda.
"Benar. Ini hotel yang dulu kita tinjau. Ini sudah selesai. Mari kita lihat ke dalam." ajak Gio. Tiara mengagumi segala interior yang ada disana mulai dari lobi dan kini di kamar mereka.
"Kau terlihat senang sekali?" tanya Gio memecah senyuman bahagia Tiara.
Tiara mendekat ke arah Gio. Melingkarkan kedua tangannya ke leher pria itu.
"Kau tahu, G. Dulu aku pernah berpikir, suatu saat aku bisa kembali lagi kesini untuk bulan madu dengan pasanganku. Dan ini menjadi kenyataan sekarang. Bukan kah ini luar biasa?" tanya Tiara lagi.
"Benarkah? Aku tidak tahu kau punya keinginan semacam itu. Lain kali kalau kau ingin sesuatu kau bilang saja padaku, ya. Sebisa mungkin aku akan kabulkan permintaanmu," ucap Gio.
Tiara menganggukkan kepalanya.
"G aku sedang ingin sesuatu. Apa kau mau mengabulkannya?" tanya Tiara.
"Apa?"
"Kita coba kamar baru, dengan gaya yang baru!" bisik Tiara pelan di telinga Gio membuat Gio tersenyum senang. Tiara bisa liar juga ternyata.
"Nakal! Kalau permintaan yang itu, aku selalu siap untuk mengabulkannya!" Gio lalu mengangkat tubuh istrinya ke atas kasur.
Jangan ditanya sedang apa mereka kini. Pakaian yang berserakan di lantai, sahutan dan suara merdu seketika memenuhi ruangan di dalam sana. AC belum dinyalakan membuat keduanya banjir keringat. Namun, tidak menghentikan kegiatan mereka yang sedang mencetak masa depan.