DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 31



Edgar sedang berdiri di balkon, menikmati udara pagi yang segar. Tapi wajahnya kusut. Aku mendekat ke arahnya.


"Bang Ed?!" Edgar menoleh. Mata dan hidungnya merah.


Edgar menarik tanganku dan duduk di kursi yang ada disana. Jujur aku bingung Edgar tidak pernah berwajah seserius ini, membuat aku menjadi salah tingkah dan bingung.


Sepuluh menit berlalu.


"Anye, apa kamu mau menikah dengan Devan?" lirihnya.


"Gak tahu, aku bingung dengan kak Mel. Kak Mel sangat cinta sama Devan."


"Tapi Devan tahu soal anak ini?"


"Iya, dia tahu."


Lalu kami kembali terdiam. Langit sedikit mendung di atas sana. Awan hitam menggantung di beberapa bagian langit yang mulai tertutupi warna birunya.


Edgar beringsut dari duduknya lalu berlutut dengan sebelah kaki, dan mengambil kedua tanganku.


"Menikahlah sama aku Anyelir! Anak itu akan punya ayah, dan Melati gak akan sakit hati. Mungkin aku memang egois, memisahkan anak dengan ayah kandungnya. Tapi aku sudah lama suka sama kamu. Aku cinta sama kamu Anye. Dari dulu. Sejak pertama kali aku ketemu sama kamu."


Daarrrr!!!


Padahal langit mendung masih terlihat cerah, tidak ada rintik hujan tapi suara petirnya sudah terasa, di hatiku.


"Aku serius Anye. Ayo, kita menikah secepatnya!"


"Aku gak tau, Ed. Aku hanya anggap kamu sebagai kakak. Dan aku gak mau..."


"Aku gak peduli! Kamu bisa cinta sama aku pelan-pelan kan?" Edgar dengan sorot mata seriusnya.


*


Aku beruntung memiliki sahabat baik. Mereka sangat membantuku. Setiap hari menanyakan apa yang aku inginkan, dan bergantian mengelus perutku yang masih rata.


"Asli kamu gak mau apa-apa?" tanya Nayara.


"Enggak, nanti kalau aku mau aku bilang sama kalian, oke?!" ketiganya mengangguk.


Suara hpku berbunyi.



'Sedang apa?'




'kamu mau sesuatu sayang? Bilang sama aku apa yang kamu inginkan. Aku atau bawahan aku akan carikan!'


Terfikir sebuah ide jahil di otakku.



' Aku ingin cium Seno.'


Send.


Hp ku langsung menyala dan mati. Aku tertawa kecil pastilah Devan marah saat ini. Bisa aku bayangkan wajah nya yang merah seperti tomat busuk.


"Aku keluar dulu, angkat telfon!" ucapku pada yang lain. Lalu segera pergi ke luar kelas dan mengangkat telfon. Hp aku jauhkan dari telingaku. Suaranya melengking, terdengar teriakan Devan yang menggema di sana.


"What?!!!...Jangan coba-coba kamu Anyelir!!!" teriak Devan terdengar jelas nafasnya berhembus kasar.


"Habisnya Seno itu lucu. Dia seperti gunung es. Dingin tanpa ekspresi. Aku jadi penasaran kalau dia tersenyum. Pasti tampan!" ujarku dengan nada di buat manja.


"Ya boleh kan?"


Devan kembali berteriak.


"Aku bisa buat dia tersenyum tanpa kamu harus menciumnya!"


"Tapi rasanya aku mau..."


"Aku akan segera pecat Seno!"


"Dan aku akan pecat kamu!" ucapku santai lalu mematikan telfon sebelum Devan kembali berteriak lagi. Puas! aku tersenyum geli. Rasanya menyenangkan mengganggu Devan.


Telfon kembali berdering, Devan lagi!


"Anye aku serius! Jangan macam-macam sama Seno!"


"Memangnya kenapa? Itu kan bukan keinginan aku!" dustaku. Maafkan ibumu ini, anakku!


"Tadi kan kamu sendiri yang tanya aku mau apa, dan aku mau Seno!" lalu aku sengaja menutup telfonnya dan menonaktifkan hpku. Aku yakin Devan sedang berang disana.


"Anye, kenapa senyum-senyum sendiri?" Nanda sudah berada di sampingku entah sejak kapan.


"Gak ada. cuma lagi ngerasa lucu aja. Yuk ah!" aku menggamit tangan Nanda kembali ke dalam kelas.