DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 151



Gio baru saja keluar dari kamar mandi. Tubuhnya sudah segar setelah menerima guyuran air dingin, sudah wangi juga akibat sabun yang tadi ia pakai. Rambutnya juga basah, dia menggosoknya dengan handuk kering.


Tak melihat kekasihnya di dalam kamar. Gio terdiam sebentar. Padahal dia tadi memintanya untuk menunggu turun bersama.


Gio tersenyum. Mengingat apa yang terjadi, tangannya tak berhenti begitu saja masih tetap menggosok handuk itu di kepala. Kejadian hari ini tak pernah ia duga dan tak pernah ia sangka sebelumnya.


Kembali tersenyum geli saat melihat selimut yang berantakan di atas kasur. Dia bisa dengan nyenyak tidur di pelukan Tiara. Padahal dia tak pernah tidur siang selama ini, kecuali kalau tubuhnya sedang tak enak. Tapi dekapan Tiara sungguh nyaman dan membuat dirirnya mengantuk setelah panas ciuman tadi. Hey... Jangan berpikir yang tidak-tidak, tak ada adegan dewasa di antara mereka. Hanya sedikit peluk dan cium.


Gio masih sadar akan dirinya, dia tak mau membuat anak sebelum SAH dan membuat Tiara menjadi cibiran orang karena mengandung duluan. Tetap saja masyarakat menganggapnya anak haram meski ada bapaknya. Jangan salah kan anak, yang berdosa itu emak dan bapak dia yang tak bisa menahan hawa *****!


Setelah memakai kembali bajunya Gio turun ke lantai bawah. Suasana pesta masih terus belanjut meski tak seramai tadi. Dia mengedarkan pandangannya ke segala arah mencari kekasih hatinya. Dia akan membawa Tiara menemui Mama Anye dan juga Papa Devan, memperkenalkannya sebagai pasangannya.


Kekasih? Gio tersenyum sambil berjalan. Dia harus persiapkan apa untuk weekend nanti? Menikmati malam minggu berdua seperti pasangan lainnya? Bunga? Coklat? Cincin berlian? Mau di bawa kemana Tiara? Makan malam? Mall? Atau...


Akh... Sudah lah. Jadi pusing sendiri memikirkan hal itu. Tapi jika dia bertanya pada gadis itu, apa tidak malu? Nanti dia menyangka pria sepertinya tak punya insitif! Haiss.... Gak punya pasangan pusing, ada pasangan juga pusing!


"G. mana Tiara?" Gio menoleh ke belakang saat suara dan juga tangan mama memegang pundaknya.


"Eh, Ma Aku sedang cari dia."


"Dia tidak sama kamu?" tanya mama bingung.


"Tadi saat aku keluar dari kamar mandi, dia tidak ada."


"Kamu gak melakukan hal yang tidak-tidak kan pada Tiara?" Mama menatap tajam putranya ini. Menyelidik Gio, takut jika anak ini macam-macam dengan seorang gadis.


"Nggak lah Ma. Mama jangan berpikir aku jadi pria brengsek yang melakukan hal itu pada wanita." Gio menjawab dengan sedikit kesal.


"Mama hanya takut kamu melakukan kekerasan atau terlalu terhanyut dengan gadis itu. Kenapa tidak bilang sedari dulu kalau kamu suka dengan dia, biar Mama lamar kan."


Gio menggaruk belakang kepalanya. Dia sendiri tak sadar jika dirinya suka dengan Tiara. Sampai dengan kejadian tadi itu dengan refleks bibirnya mengatakan hal itu.


"Aku... Apa Mama lihat aku se-suka itu dengan Tiara?" Gio bertanya dengan malu, wajahnya mulai terasa panas. Padahal dirinya tak pernah bercerita pada siapapun dengan perasaan hatinya.


"Jadi Mama restui aku dengan Tiara?" Gio menatap mama.


"Mama restui kau dengan siapapun, asal dia baik dan juga mencintai kamu G. Sudah saatnya kamu menata hati dan raih kebahagiaan!" Mama menyentuh rahang tegas Gio. Tinggi Gio yang melebihi kepalanya membuat Anye mendongak. Matanya sayu. Satu persatu putranya akan pergi meninggalkan dirinya. Daniel yang berada di luar negeri, Axel yang telah berumah tangga, dan kini Gio yang sudah menemukan tambatan hatinya.


Gio mengambil tangan mama dan mencium telapak tangannya.


"Trimakasih Ma. Mama memang ibu terbaik yang pernah aku punya." mata Gio pun terasa panas, sangat sensitif baginya jika ada pembahasa antara ibu dan anak.


Gio tak pernah tahu siapa dan dimana ibunya, sedangkan ayahnya... terserah pria tua itu mau kemana. Gio tak mau peduli lagi. Anak durhaka? terserahlah. Manusia memang makhluk egois. Dia hanya ingin hidup layak dan bahagia. Menerima kasih sayang dari orang lain meski bukan orangtua kandungnya. Ini bukan soal harta atau kekayaan yang juga mama da papa limpahkan untuknya, sebutlah itu hanya bonus karena yang Gio harapkan memang kasih sayang.


Apa pantas dia disebut orang tua? Menyuruh anaknya yang masih kecil untuk mencari uang di tengah terik matahari kota besar yang panas, bergumul dengan asap debu jalanan. Susah payah dari pulang sekolah mencari rupiah, dan hasil dari itu di buat berfoya-foya, membeli minuman dan main dengan perempuan.


Bagaimana kalau dia tak mendapat uang? Bersiaplah untuk menerima cambukan dari sabuk kulit atau gagang sapu pada punggung dan juga kakinya. Dia yang bekerja tapi dia juga yang kelaparan, sedangkan pria tua itu kenyang dan senang dengan uang hasil memeras keringat putranya.


Gio merasa beruntung berkawan dengan Axel. Dia bertemu dengan Mama Anye yang mengangkatnya menjadi anak, setelah kejadian pemukulan itu.


Gio memeluk mama dengan erat. Dia tak ragu untuk menangis, tak akan malu meski mama akan mengejeknya.


"Trimakasih telah mengurus dan memberiku cinta, Ma. Aku... aku sayang mama." Gio menyusut sudut matanya yang berair.


Anye tersenyum senang. Gio mengatakan sayang padanya, sungguh Tiara telah membuat sisi hangat pria ini kembali. Si beku sudah mencair tak lagi beku. Mama tersenyum senang, mengusap kepala Gio dengan sayang.


"Sudah. Jangan cengeng. Sana cari Tiara, mama ingin ketemu sama calon menantu mama." Anye memutuskan rasa kesedihan yang kini menyelimuti mereka. Gio menarik tubuhnya dan mencium kening mama sebagai rasa sayangnya.


"Aku cari dia dulu, takut jika di di ganggu lalat jantan!" Anye menutup mulutnya, selain Gio sudah berubah menghangat ternyata pria itu juga sudah mulai bisa berkelakar. Cinta memang bisa membuat seseorang berubah banyak!


Gio pergi dari hadapan Anye, untuk mencari kekasih hatinya yang kini entah ada dimana.


Anye menatap kepergian Gio yang wajahnya kini berseri. Dia tahu cerita drama tadi dari Axel, ternyata keributan tadi adalah rencana anak itu dengan Kenzo. Gio si pria yang tak pernah mau mengutarakan hatinya. Tak pernah sadar akan keadaan perasaannya. Akhirnya terpancing juga.


Sungguh keluarganya memiliki cerita cintanya masing-masing. Dia dengan Devan. Axel dengan Renata. Gio dengan Tiara. Dan Daniel... Anye mentap Daniel yang sedang duduk bersama putri kecilnya. Huft... Anak itu... bagaimana cerita cintanya di masa lalu diapun tak tahu. Satu lagi pria beku yang harus di cairkan hatinya.