DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 243



Tiara melihat Naura yang kini berjalan dengan tenang ke arahnya. Hati Tiara sangat tidak karuan menunggu apa yang telah terjadi selama mereka berbicara? Apa yang mereka bicarakan? Lalu setelah ini apa yang akan terjadi, atau apa yang mungkin bisa saja terjadi di kemudian hari?


Ah, tidak. Jangan berpikiran buruk! Gio tidak mungkin akan menghianatinya. Naura hanya masa lalu. Tapi bagaimana kalau ternyata Gio kembali ada rasa dengan wanita ini?


"Terima kasih sudah menjaga anakku. Maaf aku terlalu lama menghabiskan banyak waktu mengobrol dengan suamimu." Naura tersenyum pada Tiara.


Tiara menganggukkan kepalanya, dia pun ikut tersenyum ramah meski dalam hati entahlah ... berasa tidak karuan. "Tidak apa-apa. Aku tahu kalian perlu bicara. Suamiku butuh bicara denganmu karena aku tidak mau dia terus dibayang-bayangi masa lalu dengan orang lain," ucap Tiara.


"Apa kau bersungguh-sunggh dengan dia?" tanya Naura yang membuat Tiara menatapnya tidak mengerti.


"Aku bukan kau yang bisa dengan mudah meninggalkan orang lain. Maaf, aku memang tidak tahu bagaimana masa lalu kalian, tapi aku yakin aku jauh lebih baik darimu." Biarkan saja jika Tiara terlalu pede dengan ucapannya ini, tapi dia tidak salah jika memang buktinya dia menjadi yang terbaik karena telah menjadi istri Gio.


"Ya, kau pantas mendapatkan dia."


"Gio. Ayo kita pergi, ucapkan terimakasih pada Tante." panggil Naura pada Gio kecil yang masih menikmati eskrim di mangkuknya.


Gio yang hampir selesai dengan makanannya menurut dan turun dari kursi. "Terima kasih, Tante,'' ucap Gio kecil pada Tiara sambil sedikit membungkukan tubuhnya yang kecil. Tiara mendekat dan mengacak rambut tebal anak ittu.


"Sama-sama."


"Kami pamit, hati-hati dengan perjalanan pulang kalian." Naura berbicara setelahnya pergi dengan menarik tangan Gio keluar dari sana.


Tiara pergi dari restoran itu untuk segera menemui Gio. Langkah kakinya semakin cepat saat melihat seorang pria kini memukuli pria lain di luar hotel. Dia sangat kenal dengan dua pria itu. Gio memukuli Heru, tapi yang dipukul hanya diam pasrah, entah karena apa mereka seperti itu.


"Gio hentikan!!" Tiara berteriak dan berlari memeluk Gio dari belakang saat akan melayangkan satu pukulan pada wajah Heru yang sudah lebam dan juga berdarah di salah satu sudut bibirnya.


Tangan Gio menggantung di udara, gemeretak giginya terdengar jelas di telinga Tiara yang kini mehnahan pria itu dari belakang.


Heru hanya pasrah, tidak berusaha menggeser tubuhnya sama sekali. Entah pria itu patuh atau memang bodoh, harusnya dia melawan atau paling tidak menghindar.


Gio yang masih diam menatap Heru dengan kesal, satu tangannya yang mencengkeram kerah baju Heru ia lepaskan dengan kasar hingga pria itu terdorong dan punggungnya terbentur ke badan mobil.


"Pergi dari sini! Aku tidak mau melihatmu lagi!" Gio melengoskan pandangannya. Gio juga mengenyahkan tangan Tiara dari tubuhnya, dia merapikan bajunya yang kini berantakan. Jari-jari tangannya menyugar rambutnya dengan kasar.


Gio berjalan dengan langkah kasar ke mobil dan masuk ke dalam sana, menyalakannya dan menekan klakson dengan keras dan panjang, suara nyaring terdengar membuat gaduh. Gio menatap Tiara yang kini masih diam di tempatnya, sekali lagi menekan klakson mobil dengan penuh emosi.


Tahu dengan kode keras yang diberikan suaminya, Tiara segera meninggalkan Heru yang kini terlihat menyedihkan. Tiara masuk ke dalam mobil dan duduk tepat di samping Gio. Dengan cepat mobil itu melaju meninggalkan area hotel dan resto tersebut.


Heru menatap kepergian mobil itu dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Dia mengusap mulutnya yang masih mengeluarkan darah segar. Rasa tak enak di mulutnya membuatnya meludah ke sembarang arah.


Heru mengalihkn pandannganya ke suatu tempat, seorang wanita dengan anak kecil di sampingnya sedang berdri menatapnya dengan diam tak jauh dari sana.


Dengan langkah lebarnya Heru mendekat ke arah Naura. Dadanya bergemuruh akibat marah pada wanita itu. Dia pasti sudah bercerita pada Gio dengan apa yang terjadi di masa lalu. Kalau tdak, tidak mungin pria itu marah pada dirinya.


Heru mengambil tangan Naura dengan kasar, "ini pasti ulahmu kan?"


Gio yang melihat tangan ibunya ditarik dengan tidak berperasaan seperti tiu, melepas paksa tangan Heru.


"Lepaskan tangan ibuku! Kau orang jahat!" teriak Gio pada Heru. Gio berdiri dengan berani di depan ibunya untuk menjadi tameng kalau-kalau pria ini akan berbuat jahat kepada bunya.


Heru berdecak kesal. Ingin mengumpat tapi disana ada anak kecil. Dia hanya bisa menatap Naura sekilas, kemudian mengalihkan tapannya ke arah lain. Takut jika dia tidak bisa menahan emosi dan lalu entah apa yang akan terjadi pada wanita itu.


"Kau ....'' Heru menunjuk pada Naura. Gio kecil merentangkan tangannya di depan sang ibu. Heru memejamkan matanya, mengurut pangkal hidungnya yang sakit. dengan Adanya anak kecil itu dia tidak bisa sembarangan berbicara pada Naura


"Semua memang harus terjadi Her. Ini lebih baik daripada dia tahu dari orang lain.". ucap Naura dengan tenang