DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel. part 57



"Kenapa disimpan disini!!" teriak Gio menunjuk pada kantong-kantong belanjaan itu.


"Terus? Harus aku simpan dimana?" tanya Tiara kesal. Dia mengambil empat kantong belanja miliknya dan juga menenteng sepatunya di tangan yang lain.


"Ngomong-ngomong. Trimakasih belanjaannya!" ucap Tiara sinis, lalu berjalan ke arah meja kerjanya.


"Sama-sama, tapi kamu harus potong gaji karena itu!" Tiara berhenti karena mendengar ucapan Gio. Dia berbalik dengan cepat.


What?!! Potong gaji?!!


"Loh. Kok potong gaji?" tanya Toara bingung.


"Iya, lah. Memang kamu kira baju itu di fasilitasi kantor?" perkataan Gio membuat Tiara meradang.


"Ini kan bapak yang mau beliin saya. Bukan saya yang mau belanja!" Tiara kembali ke meja Gio dan menyimpan kasar belanjaannya yang hampir menghabiskan lima belas juta itu.


"Ini! Ambil saja lagi. Saya gak butuh!" ucap Tiara.


"Gak butuh? Lalu kamu mau setiap.


hari pakai baju kamu yang biasa? Hei, kamu mau malu-maluin saya ya? Saya ini wakil CEO, banyak bertemu dengan klien penting, menghadapi banyak rapat penting. Masa asistennya pake baju buluk! Dan lagi, satu itu sudah kamu pakai!" tunjuk Gio pada baju yang di kenakan Tiara.


"Parfum kamu, baunya terasa murahan. lipstik kamu, menempel di kaca! Lalu bagaimana kalau klien ku tahu semua itu? Bukankah aku yang akan malu bawa kamu!" cerca Gio.


"Memangnya kenapa kalau itu aku pakai semua, Huh?! Yang penting aku kan pakai uang sendiri bukan pakai uang orang lain!" Tiara geram sedikit berteriak.


Dasar bos gila!


"Saya tidak mau tahu! Kalau kamu gak ambil barang ini ya lebih baik kamu saya pecat. Saya gak mau punya sekretaris tidak fashionable! Masih banyak loh yang mau jadi sekretaris saya!" Gio berkata dengan santainya. Bahkan dia menarik kakinya untuk di naikkan pada kakinya hang lain.


Tiara semakin geram! Iya, memang dia tidak fashionable. Dia tidak punya cukup uang untuk membeli setelan kerja yang bagus, parfum mahal, atau lipstik yang mahal dan tak akan menempel di kaca atau akan menghilang jika si susut dengan tisu.


Kenapa aku punya bos menyebalkan? Bolehkah aku timpuk saja dengan sepatu di tanganku?


Tapi lagi-lagi dia mengalah. Keinginan terbesarnya adalah merenovasi rumah yang sudah bolong atapnya di sana sini. Tembok yang sudah terkelupas, dan pintu yang sudah rusak. Bahkan harus sedikit di angkat jika ingin melewatinya. Gudang di belakang rumah juga atapnya hampir roboh karena sudah termakan usia.


Tiara menghembuskan nafasnya. Rasanya sedih sekali. Kenapa ia jadi bawahan. Harusnya ia jualan cilok saja supaya bisa jadi bos di perusahaannya sendiri. Tak ada yang memerintah, tidak ada aturan, dan satu, tidak ada yang akan memarahinya.


Di meja kerjanya, Tiara menatap nanar baju-baju yang tadi Gio belikan. Dia mengambil satu dan melihat label harganya.


Baju begini aja harganya selangit. Bisa buat beli berapa karung sak semen?


Lalu Tiara menatap label harga yang lain. Dengan harga baju segini dia pasti bisa membeli kayu untuk memperbaiki atap rumahnya.


Tak ingin stress memikirkan baju mahal itu, Tiara menyimpan kantong belanjaannya di bawah meja. Jangan sampai dia lihat baju dengan harga selangit itu yang akan membuatnya ingin menjual kembali bajunya dan ia belikan semen. Bisa-bisa bosnya itu murka!


"Kerjakan ini. Aku mau ke ruang bos besar." Tiba-tiba saja Gio melemparkan pekerjaan di atas meja.


"Iya!"


Gio pergi dari sana. Tiara menatap kepergian Gio dengan kesal, hingga pria itu keluar dari ruangan.


"Aaaakkkhhhh!!! Dasar bos gila! Bos kompleks!! Tukang Paksa! Tukang perintah!! Seenaknya saja!! Kenapa juga harus belikan aku baju mahal seperti ini!!!" jerit Tiara berteriak kesal di dalam ruangan sana. Dia terus berteriak mengeluarkan semua kekesalannya beberapa hari ini menjadi sekretaris dari bos yang tukang perintah dan seenaknya.


Gio mendengar semua itu dari luar pintu ruangannya. Dia tersenyum geli. Membayangkan bagaimana wajah Tiara yang sedang mengumpatinya di dalam sana. Sudah ia duga, Tiara pasti kesal dan ingin mengeluarkan kekesalannya. Maka dari itu dia memberikan kesempatan pada Tiara untuk sendirian di dalam sana.


"Dasar! Pura-pura tegar!" gumam Gio lalu berjalan meninggalkan ruangan itu sambil terus tertawa kecil.


Dada Tiara naik turun. Tenggorokannya sakit karena berteriak keras tadi. Dia mengambil gelas dan minum banyak air.


Dasar. Awas saja! Kalau aku sudah bisa renovasi rumah ibu aku akan pergi dari sini!


...*...


"Kenapa dengan wajahmu?" Axel mengalihkan kembali pandangannya pada berkas di tangannya. Dia sudah tahu, pasti karena gadis itu. Siapa lagi yag bisa membuat wajah Gio jadi aneh berapa hari ini?


"Tidak ada! Wajahku biasa saja!" Gio mengambil hp dari dalam saku celananya, menyalakan kamera bagian depan dan memperhatikan wajahnya, kanan dan kiri, tak lupa dia mengusap pipinya. Tak ada yang salah.


Axel tersenyum melihat kelakuan saudaranya ini. Benar-benar tidak seperti biasanya.


Ckckck.


Si wajah datar muka tembok sedingin es beku di kutub utara, kini sudah tidak datar dan beku lagi. Sudah terlihat bentuk wajahnya, dan sudah terasa kembali kehangatannya seperti mentari pagi.