DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel. part 49



Gio dan Tiara kembali lagi ke kantor. Karena kekenyangan Tiara merasa mengantuk, dia menyandarkan kepalanya dan menatap ke arah luar. Tanpa sadar perlahan matanya tertutup.


Gio melirik Tiara di sampingnya. Gadis itu tengah tertidur pulas. Dadanya naik turun dengan teratur.


Gio melanjutkan fokusnya ke jalanan di depan sana.


Tak berapa lama mereka sudah sampai di basemen. Ingin membangunkan Tiara, tapi kasihan juga!


Gio menutup pintu mobilnya dengan sangat perlahan, dia tak ingin Tiara sampai terbangun karena suara pintu yang dia tutup.


Gio berjalan dengan santai menuju lift khusus direksi. Dia merapikan jas dan juga dasinya selagi menunggu lift terbuka. Sekali lagi dia menoleh ke arah mobilnya, tak ada tanda-tanda jika seseorang akan keluar dari dalam sana. Dia masih merasa bersalah karena mengabaikan Renata tadi.


Ya sudahlah, biarkan saja!


Gadis itu, kenapa dia makan di gerobak kaki lima bukannya makan di restoran? Gumam Gio.


Gio sudah sampai di kantornya. Dia segera duduk dan melakukan pekerjaannya.


Kreekk.


Pintu terbuka. Axel masuk dengan sebuah berkas di tangannya. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Hanya ada Gio seorang disana.


"Mana sekretaris cantik itu?" tanya Axel pada Gio. Pria kaku yang sekarang tak lagi kaku itu menoleh pada Axel, kesal karena terselip kata cantik di kalimatnya.


"Mau apa cari dia?" tanya Gio ketus.


"Tidak ada. Cuma mau minta tolong saja antarkan ini ke lantai delapan." ucap Axel sambil mengangkat tangannya.


"Kenapa harus capek-capek kesini? Kan bisa telfon?" tanya Gio sinis. Sepertinya bukan hanya minta tolong saja. Tapi sekalian ngecengin sekretarisnya!


"Mau lihat yang fresh. Kayaknya seger gitu kalau lihat yang bening-bening seperti dia. Jadi semangat!" ucap Axel mengganggu Gio, satu sudut bibirnya terangkat sedikit.


Tuh, kan?! Tidak bisa dibiarkan!


Gio mendelik sebal. Ada apa ini? Tadi dia membuat Tiara pergi dari hadapan kedua pria genit dan sekarang bos dinginnya ini jadi ikutan genit? Apa efek dari dia punya pacar, sifatnya jadi berubah?


Axel tersenyum tipis tak terlihat. Gio tidak pernah seperti ini sebelumnya. Dia selalu terlihat tenang, tapi hari ini dia terlihat gusar. Jadi benar, karena sekretaris itu? Dan lagi, gadis itu tidak punya keahlian apa-apa sudah ia angkat jadi asistennya. Patut di curigai!


"Akan aku antarkan, tidak usah menunggu Tiara!" Gio berdiri dan merebut berkas itu dari tangan Axel, kemudian dia berjalan ke arah luar.


Brak.


Pintu tertutup dengan keras, tanda kalau Gio tengah kesal.


Axel tertawa terbahak melihat Gio yang seperti itu.


Dasar bucin! Otaknya sudah terbalik. Padahal dia bisa telfon ke bawah dan meminta salah satu dari mereka mengambil berkas itu kesini! Axel menggelengkan kepalanya, lalu memilih kembali ke kantornya.


Gio berdiri dengan kesal di dalam lift, sudah kembali dari lantai delapan.


Kenapa juga harus aku yang pergi kesana? Bertanya dalam hati. Dia mendadak bodoh. Untuk apa dia menjadi atasan kalau masih dia juga yang mengantarkan berkas itu pada mereka?


Dasar otak konslet!


Gio menepuk kepalanya sedikit keras. Dia tidak tahu kenapa otaknya jadi tidak bisa berfikir dengan baik.


Banyak mata memandang tak percaya dia turun ke lantai bawah, apalagi hanya untuk mengantarkan sebuah berkas. Biasanya Gio melakukan hal itu hanya untuk inspeksi dadakan.


Sial! Axel mengerjaiku! Awas saja dia!


Lift telah berhenti, pintunya terbuka. Gio melangkah dengan kasar ke arah kantornya, melihat Tiara yang sedang membungkuk di pintu yang terbuka sedikit.


...*...


Tiara terbangun, susah payah dia membuka mata. Meski dia dalam keadaan tidur, tapi sesuatu di dalam otaknya mengingatkan dia kalau dia sedang bekerja hari ini.


Tiara menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia hanya sendirian, Gio sudah tak ada disana.


"Ya ampun! Mati aku!" menepuk keningnya keras. Tiara segera keluar dari dalam sana, tak lupa membawa serta tasnya.


Sebelum melangkah, Tiara mencoba melihat dirinya sendiri di bayangan kaca hitam mobil Gio. Takut jika penampilannya berantakan. Sedikit merapikan rambutnya disana sini, setelah itu Tiara setengah berlari menuju lift khusus direksi dan menekan sebuah angka. Dia ingat betul kemana tujuannya saat tadi pagi dirinya diantarkan naik menggunakan lift.


Tiara setengah berlari menuju ruangan. Dia takut sekali. Bagaimana kalau Gio marah padanya. Akh, pasti marah lah! Ini kan masih jam kerja. Bagaimana pun juga dia yang salah. Kenapa dia harus tertidur di mobil tadi? Eh, tapi .... Harusnya kan Gio bangunkan dia! Jadi bukan salah dia sendiri dong!


Tiara mengetuk pintu, tak ada jawaban dari sana. Perlahan ia buka pintu itu, membungkukkan dirinya, melongok sedikit ke dalam. Mengintip apa ada si killer itu di dalam.


"Kamu sedang apa?" sebuah tangan besar menepuk bahunya hingga dia terlonjak kaget.


Tiara menegakkan tubuhnya. Dia memegang dadanya yang berdetak cepat. Ingin diam-diam masuk. Eh... Malah ketahuan!


Tiara memutar tubuhnya. Dia menyunggingkan senyumnya dengan lebar. Hanya ini yang bisa ia gunakan.


"Tidak ada apa-apa, Pak. Cuma pintu ini tadi sedikit gak bisa di buka!"


Gio mendelik malas. Alasan! Mana ada yang seperti itu? Kalau benar ada, yang pertama- tama Gio akan lakukan adalah memecat si pemelihara gedung!


Gio berjalan melewati Tiara. Tiara kemudian mengikuti Gio di belakangnya.


"Sudah puas tidurnya? Tanya Gio.


Tiara tersenyum malu. Dia menutupi Wajahnya dengan satu telapak tangannya.


"Lumayan sih, Pak! Hehe... Kenapa Bapak tidak bangunkan saya tadi?" Tanya Tiara.


Gio menatap Tiara tajam.


"Sudah! Tapi kamu tidur seperti anak kucing pemalas yang gak bisa di ganggu!" ucap Gio membuat bibir Tiara mengerucut.


Bagaimana mungkin dia tidak bangun, padahal jika ibu membangunkan dia biasanya langsung bangun, kok!


Tiara menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kenapa?" tanya Gio sinis.


"Heran!"


"Heran?" Tiara hanya mengangguk.


"Biasanya saya gak pernah susah loh Pak kalau do bangunin, kenapa saya tadi gk bangun ya?" Tiara berbicara seakan pada dirinya sendiri.


"Ya mana saya tahu! Kamu sudah betah kali di mobil saya! Sudah sana, kerja!" titah Gio. Tiara kembali ke meja kerjanya, masih menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Gio hanya tersenyum tipis.


Ya gak bangun lah, karena aku gak bangunkan! gumamnya dalam hati.


Tiara kembali lagi ke depan meja Gio.


"Saya suruh kamu kerja, kan?" tanya Gio dengan nada sedikit tinggi.


"Saya mau ngerjain apa, Pak? Bapak belum kasih saya tugas!" ucap Tiara.


"Oh, iya. Bantu saya fotokopi ini saja!" ucap Gio seraya menyerahkan beberapa lembar kertas pada Tiara.


Tiara segera melaksanakan tugasnya. Hanya foto kopi baginya tak sulit yang penting tidak menulis seribu nama Gio Arian Aditama


"Hiss... kenapa juga keinget nama itu terus! Gara-gara menulis seribu nama dia!" geram Tiara.


Dia selesai dengan pekerjaannya dan kembali lagi ke ruangannya.


Waktu terus berjalan hingga akhirnya jam pulang kerja pun tiba.


Tiara menarik kedua tangannya ke atas. Badannya lumayan pegal. Biasanya dia hanya kerja serabutan, tak sampai satu hari sudah selesai tapi hari ini dia kerja full dari pagi sampai sore.


"Ahh... pegalnya!" ucapnya, sengaja suranya dia kencangkan.


Gio melirik sekilas gadis itu. Dia tahu gadis itu sedang menyindirnya.


Tiara memutar kepalanya melirik pria beku itu. Berharap ada kata-kata apaaa gitu. permintaan maaf, kek. Atau sedikit pujian karena hari jni dia sudah banyak membantunya! Eh, satu katapun tidak ada! Sebal!


Tiara bingung ini sudah Waktunya pulang kerja, tapi Gio masih bergeming di tempatnya. Pria itu malah sedang fokus dengan komputernya.


"Pak!" panggil Tiara dari tempatnya.


"Pak Gio!" panggilnya sekali lagi.


"Hemmm!" hanya itu jawaban dari bosnya.


"Sudah jam pulang kerja, saya pulang ya." pamit Tiara.


Gio berhenti menggerakkan jarinya. Dia menatap Tiara.


"Kamu tahu, namanya asisten tidak boleh lebih dulu pulang dari atasannya!" tutur Gio. Tiara melongo dari tempatnya.


"Tapi kan ini sudah waktunya pulang kerja!" protes Tiara.


"Saya mau lembur, jadi kamu juga harus ikutan lembur!" tambah Gio.


Tiara mengusap wajahnya kasar. OMG. Hari pertama, sudah mengetik banyak, menulis seribu nama, meeting, fotokopi ini-itu, menyapu lantai, mengelap jendela, membersihkan debu dari buku di atas rak, membersihkan kamar mandi. Yang benar saja! Kenapa jadi seperti asisten rumah tangga?!


"Gaji kamu besar karena kamu jadi asisten saya, kamu harus siap kalau saya lembur sampai malam. Jangan khawatir, kamu akan dapat tambahan selain gaji bulanan." tutur Gio talengalihkan pandangan dari komputernya.


Mendengar gaji di sebut-sebut akan ada tambahan ekstra membuat Tiara kembali bersemangat.


Dia segera mengeluarkan hpnya.


"Saya suruh kamu kerja, bukan mainan hp!" Seru Gio dari tempatnya.


"Saya mau telfon ibu dulu, Pak! Ibu bisa khawatir kalau saya belum pulang!" ucap Tiara. Lalu tanpa mendengar perkataan Gio dia menelfon ibunya.


Gio melirik Tiara yang tersenyum di antara telfonnya. Gadis itu sangat bahagia sekali saat menelfon ibunya. Dia kembali pada pekerjaannya. Tidak mau terpengaruh dengan Tiara. Meski sesekali matanya masih juga lancang melirik gadis manis itu.


Hiss... apanya yang manis?!


Tiara hanya terdiam, dia bingung akan melakukan apa lagi. Gio tidak juga memberikannya tugas setelah dirinya membuatkan teh panas barusan.


"Pak. Saya harus ngapain lagi?" tanya Tiara yang mulai bosan. Sudah hampir dua jam dirinya tidak melakukan apa-apa dan hanya duduk diam di kursinya.


"Sini. Pijitin saya saja!" Gio menepuk pundaknya.


"Ih gak mau!"


"Kok gak mau?!"


"Saya ini asisten. Bukan tukang pijat!" Tiara kesal. Apa-apaan ini! Dia ini ingin bekerja, bukan menjadi tukang pijat.


Gio mendelik kesal. Jika biasanya para wanita tanpa di perintah berebutan memijit pundaknya, tapi gadis ini malah menolak!


Dia melewatkan rezeki! batin Gio.


(Apanya yang rezeki Bang? itu mah penindasan namanya!)