
Malam acara lelang amal. Aku datang sendiri tentunya bersama para penjagaku yang berjaga di luar sana. Acara ini di selenggarakan di sebuah hotel terkenal di ibukota. Suasana di dalam cukup ramai. Beberapa orang yang aku kenal juga terlihat disana, termasuk papa Yudhistira dan mama Linda. Aku kangen pa, ma, meski papa pernah mengusir aku, tapi aku tidak akan melupakan jasa papa yang sudah ikut andil membesarkan aku.
Papa Stevan dan mama Mauren, juga ada. Mereka berempat sedang mengobrol. Aku mengedarkan pandanganku, pengusaha tua maupun muda berkumpul disini. Tentu ini adalah acara yang baik untuk mencari simpati, dan memperluas kerjasama. Untuk mencari perhatian dari sesama pengusaha. Aku juga pernah di bawa ayah ke acara seperti ini di Paris dulu.
Semua orang menatapku saat aku masuk ke dalam, terdengar bisik-bisik saling bertanya siapa aku. Kenapa aku memakai topeng. Dan membisikkan betapa aku sangat misterius. Ya, aku memakai topeng untuk menghindar dari orang yang mengenaliku tentunya. Dan hanya aku disini satu-satunya yang memakai topeng!
Pak Chandra menyambut kedatanganku. Dia adalah orang yang memegang perusahaan ayah selama ini.
"Nona Laura selamat datang! Nona sendiri?" tanya pak Chandra mencari seseorang di belakangku. Kemarin aku memang bilang padang bahwa aku akan datang.
"Saya sendiri, pak. Trimakasih sudah menyambut kedatangan saya." Ya namaku sekarang adalah Laura. Ayah yang mengganti namaku. Katanya nama Anye agak susah saat di ucapkan oleh orang sana. Dasar bule!
"Mari saya perkenalkan dengan yang lainnya." Pak Chandra mengulurkan tangannya agar aku mengikutinya. Ini akan menjadi hal yang melelahkan sebelum waktunya pelelangan satu jam lagi.
Banyak yang aku temui atau menemuiku, mungkin setelah aku berkenalan dengan seseorang, dia memberitahu yang lainnya kalau aku adalah pemilik perusahaan urutan nomor tiga di negara ini. Padahal di daratan Eropa perusahaan ayah juga di urutan ketiga kenapa disini sama? Di banding Eropa yang luas, disini adalah satu negara kecil dengan beribu kepulauan. Hanya kata ayah, "jangan terlalu mencolok". Begitu katanya. Ya sudah lah!
"Kenapa nona memakai topeng?" tanya salah seorang pria, dia masih terlihat muda mungkin sekitar usia tiga puluhan. "Maaf saya lancang nona!"
Aku hanya tersenyum.
"Ah, masalah itu, nona kami sangat pemalu." tutur pak Chandra mewakiliku. Pria itu menganggukan kepalanya dan juga beberapa yang lainnya. Pak Chandra juga berbisik kalau pria itu juga mempunyai kerjasama dengan perusahaan Aditama. Dan menunjuk pria lain di sebelahnya yang mempunyai hubungan kerjasama dengan GN Group. Bagus sekali! Dan beberapa pemegang saham lainnya, pak Chandra juga mengenalkannya padaku.
"Maaf Pak Chandra, lanjutkan saja. Saya ingin beristirahat sebentar." ucapku. Pria paruh baya itu mengangguk dan ingin mengantarku menuju kursiku, tapi aku tolak.
"Biar saya yang antar nona Laura." Pria dengan nama Alex itu mengulurkan tangannya memintaku untuk berjalan terlebih dahulu ke kursiku.
"Silahkan nona, akan saya antar ke meja anda."
"Ah trimakasih tuan. Saya sangat tersanjung dengan perlakuan anda." Basa basi sedikit oke lah, untuk kesopanan!
"Tidak usah sungkan nona! Saya sangat senang sekali bertemu dengan nona." ucapnya, lalu kami berjalan bersama ke kursi dimana sudah di persiapkan untuk kami.
Tak jauh dari tempatku aku melihat Devan dan Riana datang. Mereka memang serasi. Devan terlihat gagah dengan jas mahalnya, dan Riana terlihat anggun dengan gaun berwarna senada dengan dasi yang Devan pakai. Mereka saling tersenyum, saat melewati para tamu yang menyapa mereka.
Ah, sudahlah! Perasaanku lebih baik aku kesampingkan saja. Satu tujuanku saat ini adalah membuat mama Mauren menciut sekecil-kecilnya.
Acara lelang amal sudah selesai, cukup melelahkan juga meskipun aku cuma duduk. Saling berebut untuk mendapatkan barang yang mereka mau dengan harga yang lumayan fantastis.
"Nona Laura!" panggil seseorang, aku menoleh saat menunggu di lobi.
"Tuan Alex?"
"Saya senang sekali bertemu dengan nona. Apa saya boleh antarkan nona pulang?"
"Umm, maaf tuan Alex..."
"Panggil saja namaku, Alex!" tuturnya.
"Mana saya berani tuan. Jelas-jelas usia kita jauh berbeda, dan lagi anda adalah pebisnis nomor satu saat ini. Tidak sopan kalau cuma panggil nama." Dia tersenyum, manis sekali.
"Ah kalau begitu panggil kakak saja bagaimana? Rasanya aneh dengan panggilan tuan di negara ini!" dia mengusap tengkuknya. Rasanya agak canggung juga dekat dengan dia. Aku tertawa pelan mengiyakan.
"Oke, itu cukup bagus daripada aku panggil pak!" kataku. Lagi dia tertawa.
"Ternyata anda lucu juga ya." Kami saling tertawa. "Jadi bagaimana? Boleh aku antar?" tanyanya menawarkan.
"Aku ada sopir yang menunggu."
"Memangnya kenapa? Hanya sopir!" ucapnya.
"Maaf tuan...um kak Alex, meskipun dia sopir tapi dia lebih setia daripada pacar. Nyatanya kemana-mana dia yang mengantar."
"Jadi aku di tolak?" dia terlihat kecewa, entah benar atau pura-pura.
"Maaf, hanya saja aku tidak mau membuat dia makan gaji buta!" Alex lagi-lagi tertawa. Apa? Kenapa dia harus tertawa?
"Anda menarik sekali nona. Tidak aku sangka pemilik dari AN. Group ternyata jauh dari yang aku bayangkan sebelumnya."
"Ah, tidak. Hanya aku fikir pemiliknya seperti..." dia terdiam, lalu tertawa malu. "Ah, sepertinya mungkin tepat seperti itu! Aku tidak bisa berkata-kata lagi." haha, dasar!
"Aku tidak pernah melihat nona sebelum ini!"
"Ya aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Tidak pernah datang ke kantor!" ucapku.
"Tidak mungkin! AN Group cukup terkenal apalagi empat tahun belakangan ini berhasil mendapat peringkat lima besar. Padahal sebelumnya masuk dua puluh lima pun tidak!"
Aku tertawa sambil menutupi bibirku. Biasalah bersikap sedikit elegan.
"Ah, kak Alex terlalu memuji, aku rasa aku hanya beruntung! Anggap saja kalau ini seperti lotre!"
"Kau terlalu merendah nona."
Kami masih berbincang. Kak Alex cukup menyenangkan, dia juga berfikiran terbuka. Tidak melulu membahas masalah pekerjaan. Dan memuji karena aku memberikan donasi yang cukup besar di acara pelelangan tadi.
"Permisi!" Kami berdua menoleh. Aku cukup terkejut dengan yang aku lihat di belakangku.
"Nona Laura!" Papa Stevan dan mama Mauren, serta di belakangnya Devan dan Riana.
Papa Stevan mengulurkan tangannya. "Perkenalkan, saya Stevan dan ini istri saya." aku menyambut tangan papa. Meski aku tidak terlalu sering bertemu papa dulu, tapi papa cukup baik padaku. Mama Mauren juga mengulurkan tangannya padaku.
"Saya istri dari Stevan, Mauren. Panggil saja tante Mauren!" ucapnya penuh keramahan, aku juga menyambut tangannya dengan di sertai senyuman.
"Senang bertemu tante, om!"
"Dan ini, perkenalkan ini putra saya satu-satunya!" Mama Mauren menarik tangan Devan dan menyuruhnya untuk bersalaman denganku. Devan terlihat tidak senang dengan perlakuan mama yang memaksanya, tapi dia tetap melakukan apa yang di minta oleh mama.
"Tuan Devan!" panggilku. "Senang berkenalan dengan anda!" Devan tersentak saat mendengarku. Dia menatap ku dengan pandangan yang entah apa. Tangannya erat menjabat tanganku, sampai rasanya erat dan dia tidak ingin melepasku.
"Nona Laura sudah kenal dengan putra saya?" tanya Mama Mauren. Aku menarik tanganku darinya. Dadaku berdegup kencang, lima tahun lamanya dan ini adalah kontak fisikku dengan dia setelah lima tahun ini.
"Tentu saja nyonya, saya tahu karena Pak Chandra bilang kalau perusahaan kami sedang bekerja sama. Dan saya sebagai orang yang menanam saham bukankah harus mengenal mitra saya? Meskipun saya sudah lama tidak tinggal di negara ini tentu saya harus tahu atau mengenal orang-orang yang bekerja sama dengan kami." sombong dikit gak pa-pa kan? Hehe.
"Ah tentu saja. Tentu." Mama tertawa kecil sambil menutupi mulutnya.
"Kami harap ke depannya akan ada kerja sama yang lainnya juga antara perusahaan kami dengan perusahaan nona!" ucapnya lagi.
"Tentu, itu bisa di bicarakan lain kali."
Mobil berwarna hitam berhenti di depan kami. Seorang pria keluar dan memutari mobil lalu membuka pintunya untukku.
"Silahkan nona!" ucapnya sopan.
"Maafkan saya, tuan, nyonya, tampaknya saya harus segera pergi. Saya menyesal tidak bisa menemani lebih lama lagi!" aku sedikit menundukan kepalaku.
"Tidak apa-apa. Lain kali kalau ada waktu kita bisa buat janji untuk saling mengobrol!" Mama Mauren sangat sopan dan ramah. Andaikan dia tahu kalau ini aku, menantunya, bagaimana reaksinya ya? Tapi tidak, aku takut dia jantungan!
"Kak Alex. Pak Devan, dan...nona. Saya pamit dulu." aku pamit pada ketiganya. Lalu masuk ke dalam mobil. Sopir menutup pintunya untukku. Sebelum mobil berjalan aku menundukan kepalaku lagi melalui jendela yang terbuka setengah.
Alex mendekat ke arah mobilku, dan sedikit menundukan kepalanya.
"Nona, apakah aku boleh mengunjungi perusahaan anda lain waktu?" bisiknya.
"Tentu, buatlah janji dengan sekretaris ku dulu." Dia tertawa sambil menggaruk kepalanya.
"Baiklah! Aku akan menghubungi sekretaris anda! Kalau begitu selamat malam nona, selamat beristirahat!" dia berdiri tegak dan melambaikan tangannya padaku. Aku kembali menganggukan kepala.
Andai tadi Devan yang melakukan itu. Aku hanya melihat Devan yang menatapku dari tempatnya... entah lah. Apa arti tatapannya itu?
*
*
*