DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio pat 161



Beberapa saat lamanya Axel membiarkan Renata menangis di dalam pelukannya hingga gadis itu tenang dengan sendirinya. Axel setia menenangkan Renata memberikan dadanya untuk menjadi tempat nyaman bagi tangis Renata.


"Sudah selesai?" tanya Axel saat Renata menarik dirinya dari dada bidangnya. Renata mengangguk malu. Mata dan juga hidungnya merah. Axel menggerakkan kedua tangannya dan mengusap kedua pipi Renata yang basah.


"Aku tidak suka kau menagis, setetespun jangan. Air mata kamu sangat berharga, oke?" pinta Axel. Dia mendekat, menyatukan kening mereka hingga hidung mancung keduanya saling menempel. Renata terdiam.


"Aku gak bisa janji. Wanita makhluk yang rapuh dan terkadang hanya tangis yang bisa mengekspresikan perasaan mereka. Jangan buat aku janji seperti itu, Xel. Karena aku wanita yang cengeng." Renata berkata dengan lirih. Axel tersenyum.


"Oke. Kalau begitu kau hanya boleh menangis karena bahagia denganku. Jangan sampai kau pendam rasa sakit sendirian, sedih, atau apapun itu. Karena aku tak akan pernah membiarkan hal itu datang padamu, istriku!"


Cup.


Satu kecupan mendarat di bibir Renata, membuat Renata terkejut hingga menarik kepalanya, namun tertahan karena Axel menahan tengkuk lehernya dan mel*mat bibir Renata dengan lembut. Renata terbuai dengan perlakuan manis suaminya. Dia perlahan membuka mulutnya dan merasakan lembut lidah Axel yang merangsek masuk ke dalam rongga mulut.


Suara decapan terdengar di dalam ruangan pengantin itu. Belitan dan juga hisapan keduanya lakukan dengan sambil menutup kedua mata. Terasa nikmat dibanding saat mereka belum sah kemarin. Rasa yang berbeda dari yang selama ini mereka rasakan.


Axel tersenyum senang, menikmati apa yang sedang diperbuatnya pada sang istri. Mereka sudah sah, sudah halal untuk melakukan hal yang lebih daripada sekedar peluk dan cium. Ah ... memikirkan hal itu Axel jadi pusing di kepala yang lain, ingin rasanya dia merasakan sensasi yang berbeda yang selalu papa pamerkan padanya. Kemesraan yang selalu papa perlihatkan dengan tak tahu malunya pada mama di depan anak-anaknya.


Axel mendorong Renata ke tempat tidur tanpa melepaskan pagutan bibir mereka. Dia tersenyum senang karena Renata tak menolak sama sekali. Dia tak ingin buru-buru menyerang Renata meski dia sangat ingin. Semua butuh proses, dan ini proses menuju kenikmatan yang hakiki.


Axel menarik dirinya, menatap mata sang istri yang kini terlihat sayu. Menggemaskan! Axel tersenyum senang, rasanya ini sudah waktunya, sudah cukup dirinya membuat bibir Renata bengkak. Kepala yang ada di bawah sana sudah sangat terasa pusing.


(Kepala yang mana, Bang?)


"Re, aku mau apa boleh?" Axel bertanya dengan malu-malu, wajahnya berubah merah saat bertanya seperti itu. Renata melipat bibirnya ke dalam, wajahnya juga bersemu merah karena malu saat Axel meminta haknya. Axel menunggu dengan dada yang berdebar, dia deg-degan menunggu jawaban dari Renata.


Renata memalingkan pandangannya dari Axel. Dia malu ditatap seperti itu. Kepalanya perlahan mengangguk, mengizinkan Axel untuk melakukan apapun padanya malam ini. Toh ini sudah jadi haknya, dan sebagai istri Renata harus mencari ladang pahala dengan menyenangkan suaminya, bukan?


Mendapatkan jawaban seperti itu, senyum Axe semakin mengembang pria itu kemudian mendekat dan kembali mengecup bibir Renata dengan perlahan, tak bosan meski bibir itu kini sudah begkak karena ulahnya.


Axel pencium yang handal, pria itu tak pernah memaksa atau menciumnya dengan kasar. Tak pernah membuatnya kehabisan nafas.


Dengan perlahan Axel mengangkat punggung Renata, menurunkan resleting gaun pengantinnya hingga ke bawah. Renata pasrah, dia mengikuti permainan Axel meski ada sedikit bayang-bayang yang mengganggunya kini di dalam otaknya.


Satu lengan gaun diloloskan dari tangan Renata di susul dengan satu lengan yang lain, sedikit susah memang tapi Axel tak mau menyerah. Renata kini mengalungkan kedua tangannya di leher Axel membuat pria itu tersenyum diantara permainan lidahnya.


Ciumannya turun kebawah, menuju leher dan tulang selangka Renata. Mengecupnya dan meninggalkan bekas berwarna merah. Renata terpejam kedua matanya, antara nikmat tapi juga perasaan lain yang kini hinggap di dalam hatinya, sangat mengganggu. Dia seperti flashback ke kejadian malam naas itu, tapi Renata mencoba mengenyahkan pemikirannya. Ini suaminya. Bukan pria bajingan itu.


Axel masih setia memainkan bibirnya disana, satu tangannya ia simpan di gundukan kenyal sang istri yang sudah menggoda imannya sedari tadi. Sungguh dia ingin segera menghabisi Renata, tapi dia ingin bermain-main sebentar lagi.


Peluh di pelipis Renata meluncur bebas menuju ke bawah. Keringat dingin sebesar biji jagung itu menandakan bahwa Renata sedang berjuang untuk melupakan malam naas itu. Bayangan demi bayangan muncul membuat dirinya ketakutan. Nama Axel yang dia sebut di dalam hatinya tak jua membuat bayangan itu pergi dari pikirannya.


"Jangan...! Jangan...!" Renata mulai meracau.


"Jangan... menjauh dariku!" Kini Renata menjerit sambil mendorong bahu Axel menjauh. Renata bangkit dan mengambil gaunnya untuk menutupi dadanya yang terbuka. Renata mundur hingga membentur kepala ranjang, bantal yang ada di belakangnya terjatuh ke lantai.


Axel menatap Renata tak mengerti. Istrinya terlihat sangat keakutan sekarang, apa yang telah terjadi? Apa dia menyakitinya sampai Renata berteriak dan memintanya menjauh?


Dada Renata naik turun dengan cepat, nafasnya seperti orang yang baru saja menyelesaikan lari maraton sepuluh kilo meter. Renata menangis menggerakkan satu tangannya seperti sedang menghalau sesuatu yang datang mendekat ke arahnya.


"Re, ada apa Re?" Axel mendekat dan bertanya dengan rasa khawatir yang menyerang hatinya.


"Menjauh. Pergi! Jangan dekati aku!" racau Renata dengan isak tangis yang hebat, raut wajahnya terlihat kacau dan sangat ketakutan.


Bayang-bayang malam itu terlintas jelas di dalam pikirannya, dimana saat Noah menariknya dan melakukan sesuatu hal yang buruk dan menjijikan terhadapnya. Tubuhnya serasa kotor karena perbuatan bejat pria itu, ingat semua yang telah laki-laki itu lakukan padanya bahkan sampai dua kali. Merenggut dan mengoyak kehormatannya, tanpa peduli dengan teriakan permohonan darinya.


"Jangan. Aku mohon. Pergi jangan sakiti aku... huu..." Renata kini mengkerut di tempatnya sambil memeluk kedua kakinya, Dagunya ia simpan di lutut. Menangis dengan hebat, tak mendengar jka Axel memanggil namanya.


"Re, apa yang terjadi sama kamu? Ada apa?" Axel bertanya lagi.


"Noah... Noah... Aku takut! Jangan dekati aku! Tolong jangan sakiti aku." suaranya parau, terdengar bergetar penuh rasa takut.


Axel menatap Renata dengan iba. Ini pasti tentang kejadian malam itu sampai membuat istrinya trauma berat.


"Sudah. Jangan pikirkan itu. Kejadian itu susah sangat lama. Dia juga sudah tidak ada. Kamu tenang, ya. Ada aku disini yang menjaga kamu." Axel mendekat dan menarik Renata ke dalam pelukannya. Mencium kepala Renata dengan sayang dan penuh rasa iba.


Renata mengalir air matanya. Bayangan itu tak juga mau hilang. Dia menatap ke kejauhan. Dinding kamar hotel yang putih bersih.


Renata terdiam merasakan tangan besar yang kni mengusap punggungnya, dekapan hangat Axel membuat dirinya tenang.


Ini Axel. Bukan Noah!


Renata mencoba menyadarkan dirinya.


"Akh... Pergi! Jangan dekati aku... huu... Tolong aku... Seseorang tolong, huu....." Tapi bayangan itu tak pernah mau pergi meninggalkannya, apalagi dengan senyum seringai Noah yang terlihat sangat mengerikan kala itu.