DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 183



"Huhhh.... Basah!" Suara Cantik terdengar dari kursi belakang. Tiara menoleh dan melihat gadis itu sedang mengeringkan kacamatanya dengan menggunakan tisu. Tiara terkagum dengan wajah Cantik, mata besar yang bulat, hidung mancung, bibir yang berisi. Sekilas tak akan percaya jika gadis itu orang pribumi, apalagi warna kulitnya yang tak seperti orang kebanyakan, kulitnya putih pucat seperti bule. Apa emang ibu atau ayah Cantik adalah bule?


Tiara terbangun dari rasa kagumnya saat pria itu masuk ke dalam mobil.


"Maaf, Pak. Gara-gara kita Bapak jadi kebasahan!" Cantik bersuara setelah memasang kembali kacamatanya.


"Tidak masalah. Kalian tidak kebasahan, kan?" menoleh pada Tiara dan Cantik bergantian.


"Sedikit." Cantik bersuara lagi. Pria itu hanya mengangguk saja tanpa berkata apa-apa lagi.


Mobil pun berjalan menembus hujan yang semakin deras. Tiara dan Cantik diam memperhatikan jalanan yang basah.


"Kalian berdua dari divisi keuangan, kan? Perkenalkan, saya Romi. Manager pemasaran." Romi mengulurkan tangan kanannya melewati tangan kiri pada Tiara.


"Tiara." seraya menyambut tangan Romi.


"Aku Cantik!" Cantik memburu dari belakang.


"Aku sering lihat bapak loh selama seminggu ini." cantik berujar dengan nada riangnya.


"Oh ya?" Romi tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari jalanan.


"Heem, bapak keren banget. Jadi idola para karyawan disini! Iya kan, Ra?!" Cantik menunjukkan dua jempolnya ke udara, meski dia yakin jika Romi tak bisa melihatnya. Romi hanya tertawa, terkekeh. Tiara menoleh ke arah Cantik, lalu tersenyum kecil.


"Kalian ini terlalu berlebihan. Saya ini biasa saja kok, keren dari mana?" Romi merendah.


"Saya sering lihat kalau banyak kayawan yang diam-diam kagumin bapak. Istri Bapak bisa cemburu kalau tahu Bapak banyak yang kagumin di kantor!" Cantik menutupi mulutnya yang tertawa pelan.


"Sudah jangan terus puji saya, nanti saya bisa besar kepala. Dan lagi saya belum punya istri! Saya masih sendiri!" Romi diam-diam melirik ke arah Tiara yang kini tengah menatap ke luar jendela mobilnya.


Cantik yang melihat arah pandang Romi hanya terdiam.


"Kalian gak ada yang jemput tadi. Apa suami kalian sibuk juga?" Romi bertanya memecah keheningan yang sedari tadi melingkupi mereka.


"Bapak ini bercanda atau bagaimana? Aku tentu tidak akan bekerja jika aku sudah bersuami." Cantik menjawab lagi. Romi kecewa karena Tiara hanya diam. Padahal akan sangat menyenangkan jika Tiara juga ikut menyahut.


"Eh... Apa?" Tiara tersadar saat namanya di panggil.


"Kamu gak di jemput suami?" Romi bertanya.


Tiara menggelengkan kepala.


"Apa dia sesibuk itu sampai tak menjemput istrinya?" Tiara tak terlalu suka dengan sikap Romi ini.


"Tidak, aku belum menikah. Dan calon samiku sedang ada di luar kota. Dia sedang mencari uang agar bisa memberikan pesta pernikahan yang mewah untukku." Entah kenapa Tiara mengatakan hal itu, dia tak nyaman dengan sikap dan tatapan Romi padanya.


"Oh.'' Hanya itu yang Romi ucapkan. Jujur dia kecewa kalau Tiara sudah mempunyai calon suami. Romi tahu pasti jika dua gadis ini masih single, dia meminta data tentang Tiara dari orang HRD yang kebetulan adalah teman baiknya.


Suasana kembali tenang, tak ada suara apapun yang terdengar, sesekali suara klakson memecah kesunyian diantara mereka bertiga. Cantik tersenyum mendengar ucapan Tiara tadi, dia tak henti memperhatikan kedua orang yang kini duduk di depannya. Romi yang diam-diam melirik Tiara, namun Tiara cuek dan menatap ke arah lain.


...***...


"Apa kau bilang?! Tiara masuk ke dalam mobil pria?!" Suara teriakan dari dalam sebuah ruagan terdengar hingga keluar. Heru refleks berdiri dari kursinya dan masuk ke dalam ruangan, mendapati bosnya itu sedang mengumpat kepada seseorang di telpon.


"Suruh mereka turun sekarang juga!" teriak Gio lagi, wajahnya sudah memerah dengan rahang yang saling mengerat. Urat biru terlihat di wajahnya yang sedang gusar.


Gio mematikan sambungan telponnya sepihak lalu mengangkat hp itu ke udara.


"Lakukan itu jika akan membuatmu puas, Tuan!" Mendengar ucapan santai yang diucapkan Heru membuat Gio mengehentikan tangannya. Menatap Heru dengan kesal.


"Ini hanya mimpi, kan Her?" Gio menopangkan kedua tangannya ke tepian meja. Heru tak bersuara, dia hanya mengusap alisnya dengan ujung jari telunjuknya. Mau dikatakan mimpi juga tentu Gio akan menepis ucapan itu, mimpi atau bukan tetap saja tak akan dia terima.


"Heru! Jawab!" bentak Gio.


"Em... Aku tak tahu. Itu bagaimana kau menanggapi semua yang telah kau lewati, Tuan!" ucap Heru.


Gio menegakkan dirinya. Dia menatap Heru dengan sorot mata yang tak suka.


"Dasar tidak berguna!" Satu berkas file melayang ke arah Heru, dengan cepat Heru menghindar agar benda itu tak mengenai tubuhnya. Heru tidak merasa sakit hati, itu sudah menjadi resiko pekerjaannya. Sudah biasa jika Gio sedang marah, Tapi akhir-akhir ini Gio terlalu sering marah tak karuan. Heru menganggap itu wajar, siapa yang tak akan gusar dan tak akan marah jika dipisahkan dengan kekasih tercintanya di saat sedang manis-manisnya?