DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 213



Anye menatap putranya yang kini bahagia. Merasa bersalah juga sebenarnya memisahkan pria itu dari orang yang dicintainya, tapi mau bagaimana lagi? Gio juga harus bisa mengelola perusahaannya sendiri. Tidak mungkin jika anak itu selalu saja berada di bawah tangannya. Dia perlu mandiri, dan Gio juga sudah membuktikan kemampuannya dalam mengelola perusahaan disana.


Anye tersenyum lalu berbalik untuk masuk ke dalam rumah. Devan mengekor di belakangnya. Mereka masuk ke dalam kamar.


Anye duduk di tepi ranjang. Memainkan gawainya dengan serius.


Devan duduk di samping Anye dan memeluk istrinya dengan erat.


"Kau sungguh luar biasa!" ucap Devan dengan menyematkan kecupan di rambut sang istri.


"Aku memang sedari dulu luar biasa!" Anye tak peduli. Dia masih sibuk dengan ponselnya.


Devan tertawa terkekeh dengan kata-katanya, menarik kepalanya dan menatap istrinya dengan lekat. Mengambil dagu Anye, dan memaksa wanita itu untuk menatapnya.


"Hei. Aku cinta sekali denganmu!"


"Aku tahu!" seperti biasa jawaban Anye yang cuek. Menepis tangan Devan dan kembali pada hpnya. Terkadang Devan sebal dengan jawaban dan tingkah dingin istrinya, tidak bisa diajak romantis! Apa karena usia mereka yang sudah tua... Eh ralat, bukan tua. Tapi jauh dari matang!


"Kau sudah memberi restu pada Gio untuk dekat dengan jodohnya. Tak terasa kita akan punya menantu satu lagi!" Devan kini melabuhkan kepalanya di paha sang istri, menatap ke atas dimana istrinya sedang fokus pada hpnya.


Devan kesal. Anye diajak bicara malah tidak mendengarkan. Dia mengambil hp Anye dan menyimpannya di atas kasur. Anye mendesis tak suka.


"Kau dengar apa kataku?" tanya Devan.


"Aku dengar. Sangat dengar." jawab Anye.


"Hanya tinggal satu lagi. Daniel. Apa anak itu mau kalau aku jodohkan? Aku punya beberapa kandidat yang cocok dengan dia."


"Apa Daniel akan mau?" tanya Devan. Anye menatap suaminya lalu mengangkat bahunya tanda tak tahu.


"Anak itu masih saja menjadi sebuah misteri. Bahkan, aku ibunya saja tidak tahu apa yang menimpa dirinya!" Sesal Anye.


"Sudahlah. Masalah jodoh Daniel biar dia yang menentukan sendiri. Jangan sampai kita ikut campur dengan masalah kehidupannya!" Devan memperingatkan.


"Aku hanya kasihan dengan Nathalie. Dia tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu! Andai saja Daniel menitipkannya pada kita, aku akan menjadikan dia princess di rumah ini! Memberikan apa yang dia mau. Menyayangi dia dengan sepenuh hati!"


"Ya tentu. Kau nenek yang paling baik!" ucap Devan dengan lembut, senyum terukir di bibirnya.


"Apa aku setua itu?" Anye cemberut. Tidak terima di panggil nenek. Oma lebih baik! Lebih keren didengar telinga.


"Kau tua tapi masih cantik! " Devan tersenyum menggoda. Dia menarik tengkuk sang istri untuk merasai bibirnya yang manis tanpa lipstik.


Anye terbuai dengan perlakuan suaminya yang seorang pencium handal. Dia terhanyut dan kemudian...


***


Pintu kamar sudah diketuk beberapa kali, tapi tak ada sahutan dari dalam sana ataupun suara kunci yang diputar dan kemudian pintu terbuka. Axel kembali ke ruang makan dengan kesal. Ke empat anak muda itu makan malam tanpa orangtua mereka. Biarlah yang tua merasa muda kembali dengan melakukan olahraga panas.


Selesai makan malam. Tiara pamit untuk pulang. Tak enak hati sebenarnya karena Anye dan Devan tidak keluar dari kamar.


"Sudah lah. Mereka pasti sekarang sedang tidur! Capek kali!" Axel tertawa terkekeh. Setelah menikah dengan Renata, dia hapal sekali dengan kelakuan orng tuanya kalau sudah ngamar, kalau tidak tengah malam nanti ya besok pagi baru keluar.


"Nanti aku sampaikan kalau kamu pulang!" ucap Renata menambahkan. Tiara hanya tersenyum seraya mengangguk. Gio membukakan pintu mobil untuk Tiara masuk. Tak lupa pria itu memasangkan seatbelt untuk Tiara.


"Uuhh... So sweet!" Renata berujar dengan pandangan iri. Axel orang yang tidak bisa romantis. Tidak seperti Gio yang diam-diam ternyata sangat romantis do balik kekakuannya itu.


"Kamu mau di sweetin juga?" tanya Axel. Renata menoleh lalu mengangguk, tapi rasanya ragu jika pria ini bisa sweet seperti yang dia mau. "Ayo kita ke kamar!"


Renata menyikut perut Axel. Pria ini apa-apa selalu mengajak ke kamar!


"Aduh... Sakit!" ringis Axel. Gio yang baru saja menutup pintu mobil menatap heran pada adiknya. Axel dan Renata tersenyum malu.


"Kami pulang, ya. Aku juga akan pulang ke apartemen!" tutur Gio.


"Akan kami sampaikan," ucap Renata.


"Kenapa juga tidak kembali kesini? Awas jangan sampai kebablasan. Nanti mama marah! uh..." lagi-lagi perut Axel disodok sikut Renata. Pria itu meringis kesakitan untuk kedua kali. Linu di ulu hatinya.


"Fikiranmu kenapa mesum sekali? Re, apa kau sudah mencharge dia? Pikirannya oleng kemana-mana!" Gio berujar dengan kesal. Renata tersipu malu. Dia menatap Axel dan melotot. Yang ditatap hanya tersenyum meringis sambil mengusap pelan perutnya.


"Aku kan tidak salah bicara! Aku hanya memperingatkan! Kalau kalian salah jalan nanti mama marah bisa-bisa...humppttt!!"


"Axel! Diam!" Renata menutup mulut Axel yang bawel. Apa pria ini tidak melihat raut wajah Gio yang sudah mulai kesal?


Axel menarik tangan Renata, membebaskan bibirnya.


"Aku kan hanya bilang kalau...emmppt..." menutup mulut Axel lagi.


"Axel Felix! Tak ada jatah untukmu!" Renata melotot, kemudian meninggalkan Axel yang berdiri mematung menatapnya tak percaya. Tak ada jatah? Setelah seminggu tidak menengok ladang dan kini harus libur mencangkul lagi? Oh tidak!


"Kau cepat pergilah!" usir Axel.


"Rasakan! Kenapa setelah menikah mulutmu jadi mesum?" tanya Gio. Axel menggerakkan tangannya tanda mengusir lalu segera berlalu meninggalkan Gio.