DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 143



Hampir satu jam lamanya Gio menunggu Tiana, isak tangisnya sudah tak terdengar lagi. Namun, bahunya sesekali masih bergerak naik turun.


Gio merasa bosan juga. Angin di atas gedung cukup kencang membuat rambutnya yang semula rapi kini berantakan.


Sikap Gio masih sama, berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Tapi pandangannya kini beralih ke arah lain. Sesekali melirik ke arah Tiana.


"Aku bosan disini. Ayo kita turun!" ajak Gio. Dia merapikan rambutnya yang menutupi matanya.


"Kalau mau turun, kau turunlah sendiri. Aku masih mau disini!" ucap Tiana ketus dia sama sekali tak berniat mengangkat wajahnya. Suaranya lirih terdengar dari lipatan tangannya.


Gio mendengkus kesal. Dia ingin turun, tapi tak tega juga meninggalkan Tiana disini sendirian.


"Akh! Apa yang kau lakukan?! Turunkan aku!" Tiana tersentak kaget saat Gio menarik tangannya dan memanggul tubuhnya di atas pundak bak karung beras. Tiana menggerakan tangan dan kakinya memukul dan menendang perut dan punggung Gio, tapi pria itu tak peduli akan rasa sakit. Dia lebih tak ingin melihat besok pagi ada berita tentang seorang gadis yang mati terjun bunuh diri dari lantai dua belas sebuah hotel hanya karena patah hati.


"Gio! Kurang ajar, kau! Turunkan aku Brengsek!" teriak Tiana dari belakang tubuh Gio, kepalanya terbalik membuat rambutnya menjuntai ke bawah.


Gio tak peduli, dia merasa kepanasan di atas sana, apalagi angin yang berhembus membuat debu-debu kering beterbangan ke segala arah, membuat baju dan kulitnya kotor saja.


Tiana akhirnya terdiam, pasrah saat pria itu membawanya menuju lift. Dia pria yang keras dan kaku, tak mudah untuk memberi perintah padanya. Tiana membiarkan tangannya menjuntai ke bawah. Dia hanya bisa menatap lantai yang ada di bawahnya.


"Akh!" lagi-lagi memekik saat Gio menurunkan dirinya dengan kasar ke lantai lift, jika saja dia tak sigap berpegangan pada dinding lift dia pasti akan terjatuh.


Tiana menatap sebal pada pria ini. Tidak bisakah dia menurunkannya dengan sedikit lembut? Memang tak pernah bisa lembut sedikitpun sedari dulu! Dasar Pria tak Punya hati!


"Kasar sekali!" rungut Tiana seraya mengusap kedua telapak tangannya yang sedikit memerah. Bibirnya merengut tak suka, membuat siapa saja yang melihat menjadi gemas, tingkah gadis dewasa ini masih seperti kanak-kanak. Tapi tentu ini tak berlaku dengan Gio, dia lebih suka raut wajah Tiara yang garang saat dia kesal. Eh...?


"Aku kan masih ingin sendiri, kenapa kamu membawaku turun?!" Tiana menatap Gio tak suka.


"Aku hanya bosan di atas, panas dan juga penuh debu. Aku juga lapar. Harus sampai kapan aku menunggu gadis cengeng seperti kamu mau turun hah?" Gio mendekatkan diri dan menunjuk kening Tiana dengan kasar, menekannya hingga tercetak lah bekas kuku Gio disana. Tiana sampai mundur satu langkah hingga punggungnya menabrak ke dinding lift.


Tiana menepis tangan Gio dengan kesal. Dia mengusap keningnya yang terasa linu karena ulah pria ini.


"Kalau lapar kenapa juga tak turun sendiri? Gak usah ajak-ajak aku! Aku butuh waktu dan tempat menenangkan diri!" Tiana berbicara degan ketus. Gio hanya diam mendengarkan. Kembali pada tempatnya berdiri tadi. Tiana membalikkan badannya memunggungi Gio, dia sebal dengan pria itu.


"Kau itu keterlaluan! Tidak punya hati. Tidak punya perasaan! Apa tidak bisa meninggalkan aku sendirian disana dan jangan campuri urusanku!" Berbicara dengan dinding lift masih dengan nada yang terdengar sinis, Gio tahu siapa 'kau' yang di maksud Tiana.


"Aku tidak bisa. Aku hanya takut kau akan terjun dari ketinggian karena patah hati!" jawab Gio santai.


"Denger ya G. Aku ini bukan perempuan lemah yang bisa menyerah hanya karena patah hati. Kau gila kalau berpikiran aku akan melompat dari atas sana. Aku masih memilik hati dan pikiran untuk ingat dengan kedua orangtuaku, aku juga...." Tiana terus saja berbicara panjang lebar.


Gio mengangkat kedua tangannya dan memasukkan kedua jari telunjuknya ke dalam lubang telinga. Dia memutar bola matanya malas. Suara berisik Tiana sangat menganggu pendengarannya. Mengganggu sekali! Apalagi yang dia bicarakan masalah hati dan juga perasaannya.


Ya ampun... kenapa juga lift ini serasa sangat lama untuk sampai di lantai bawah? Gio meratapi nasib telinganya yang hampir saja rontok.


Ting.


Akhirnya...


Pintu lift terbuka dengan lebar di lantai tiga.


"Ayo, cepat. Aku antarkan ke kamarmu! Awas kau jangan sampai naik lagi ke atap! Aku akan tempatkan penjaga di luar pintu supaya kau tak akan berani kabur lagi!" tunjuk Gio tepat di depan hidung Tiana. Tiana mendengkus kesal.


Gio mendahului berjalan keluar dari lift itu, lalu di susul Tiana yang berjalan di belakangnya.


Pria itu berjalan dengan tenangnya, dengan satu tangan yang dia masukkan di dalam saku celananya. sedangkan satu tangan yang lain memegang ponsel. Tiana memperhatikan cara jalan Gio yang cool menurutnya meski hanya terlihat dari belakang. Tak bisa dipungkiri jika pria itu sama menawannya dengan Axel, tubuhnya juga lebih lebar dan lebih gagah, hanya saja sifat dinginnya yang sulit untuk di sentuh membuat ada jarak yang tercipta di antara Gio dan dirinya. Semua ini hanya karena wanita sialan itu! Dia sudah membuat pemikiran tenang wanita berubah dari diri seorang Gio Arian Aditama.


Tiana hanya terdiam saat Gio membukakan pintu kamar hotel untuknya. Dia menggerakkan kepalanya meminta Tiana untuk masuk. Entah kenapa gadis yang biasanya suka membantah itu kini hanya diam dan menurut saat Gio memberi instruksi padanya.


Gio menggeserkan tubuhnya memberi ruang untuk gadis itu berjalan masuk. Tiana menghentakkan kakinya, dengan kesal dia masuk ke dalam sana melewati Gio yang masih dengan wajah datarnya.


"Menurutlah gadis kecil. Jangan kabur dan jangan buat masalah!" Tiana terdiam saat tangan besar Gio mengacak rambutnya. Matanya terpaku menatap senyum Gio, manis sekali. Jarang sekali pria itu tersenyum selain pada keluarganya. Bahkan pada dirinya sekalipun. Dulu. Dulu sekali. Sudah sangat lama dia tak melihat senyum itu lagi.


Deg. Deg.


"Istirahatlah. Aku akan kembali ke bawah." Gio menarik tangannya, dia menutup pintu.


Tiana masih terdiam terpaku di tempatnya berdiri.


Perlahan tangannya bergerak. Dia simpan telapak tangannya di dadanya. Dadanya berdebar-debar. Tatapan matanya tak teralihkan dari pintu yang tertutup tadi.


Berharap apa dia? Berharap pria kaku itu kembali ke dalam sana dan menanyakan kabarnya? Sepertinya dia mulai baik-baik saja!