
Lelahnya... urusan perusahaan yang menumpuk membuat kepalaku pusing. Aku ingin seperti dulu, menikmati masa mudaku dengan bersenang-senang. Berjalan di taman sendirian, tanpa ada orang lain yang terus mengikutiku. Tapi sekarang kehidupan ku berbeda.
Aku Anyelir Dewi Maharani, seorang gadis yang beranjak dewasa, dengan perjalanan hidup yang rumit, anak yang tidak tahu asal usulnya, tiba-tiba saja kehidupan ku berubah drastis. Siapa sangka aku adalah putri satu-satunya dari Fabian Emanuel Rudolf, pemilik perusahaan terbesar ketiga di benua Eropa.
Haaahh, aku lelah!!!
Tinggal bersama ayah, meskipun ayah tidak memaksaku, tapi aku ingin ikut terjun ke dalam dunianya. Dunia bisnis yang menurutku menyenangkan sekaligus kejam. Satu tujuanku, yaitu membuat seseorang menyesal!
Tok. Tok.
Suara pintu terdengar di ketuk dari luar. Aku menyingkirkan bantal yang menutupi wajahku. Berjalan ke arah pintu dengan bertelanjang kaki.
"Hai, Mamaaa!!!" Dua orang laki-laki terlihat dengan senyum lebar di depan pintu, sambil melambaikan tangannya. Begitu aku membukanya mereka langsung masuk ke kamar, tanpa permisi. Ish dasar!
Sam menggendong Daniel, dan berjalan ke arah kasurku. Dia menurunkan Daniel disana dan putraku itu langsung saja melompat dengan girangnya.
"Niel, jangan melompat nanti kau jatuh." Aku memegangi tangan putraku. Dia sangat aktif sekali sampai aku terkadang lelah menjaganya.
"Tidak akan mama. Aku sangat senang hari ini!" Dia terus saja melompat hingga rambutnya yang mulai memanjang naik turun.
"Niel, dengar kata ibu mu. Atau kalau tidak, papi tidak akan ajak kau keluar lagi!" Sam berkacak pinggang sambil melotot pada Daniel. Seketika Daniel berhenti melompat, dan duduk dengan manisnya, melipat kaedua kaki di bawah bokongnya.
"Good Boy!" Sam mengacak rambut Daniel dengan senyuman mengembang di bibirnya.
"Kau patuh sekali pada papimu, tapi kenapa tidak pada mama?" aku merengut, pura-pura marah. Sangat menyenangkan menggoda anakku seperti itu.
"Aku akan patuh pada mama jika mama mengajakku pergi dengan papi besok!" putraku ini sering sekali mengancam, persis seperti seseorang. Ckckck.
"Kau sedang mengancam mama?" tanyaku. Daniel tertawa sangat lebar, dia mengangguk.
"Iya, aku akan patuh pada mama jika mama mengajakku bermain besok. Kalau tidak, aku akan marah dan tidak mau bertemu dengan mama." dia memalingkan mukanya ke samping, kedua tangannya terlipat di depan dada, dengan wajah merengut.
"Oh ya sudah. Sana pergilah. Mama tidak peduli bahkan kalau kau mau tidur dengan Xander pun. Kau sudah besar sekarang, bisa menjaga dirimu sendiri. Sana, huss!" Aku menggerakkan tanganku mengusirnya. Aku hanya ingin tahu sejauh mana keras kepalanya dia. Tapi jelas-jelas sifat keras kepalanya menurun dariku! Hehe...
Daniel terlihat sangat kesal. Wajahnya memerah.
"Mama menang! Aku akan tidur dengan Xander! Mama jahat! Mama tidak pernah sayang lagi padaku!" Daniel semakin merengut. Dia menunduk, sesekali menatapku, matanya berkaca-kaca. Oh... aku tidak tahan. Dia bukannya mau menangis, percayalah, putraku pintar bermain drama. Mata dan raut muka itu, dia seperti kucing yang sedang meminta makanan.
"Baiklah. Baiklah. Kau menang, Niel. Aku akan ikut kalian besok." Akhirnya aku yang kalah! Aku tidak bisa jika dia sudah memasang raut muka itu. Daniel mengubah raut wajahnya dengan senyum termanis. Aahhh aku tidak tahan untuk menciumnya!
"Mama lepaskan aku!" Daniel berontak di dalam pelukanku, saat aku berusaha mencium pipinya. Pipi chubi nya membuatku merasa gemas!
"Mama lepaskan!" Dia menutupi wajahnya dengan tangan. "Aku sudah besar tidak mau di cium!" protesnya dengan kesal.
"Mama, arrête ça. Aku sudah besar, Hentikan!" protes lagi dengan nada sedikit kesal. Dia mendorongku. Aku menyerah, anak ini jika di paksa pasti akan marah!
Aku melepaskan putraku dan mendelik ke arah Samuel yang sedari tadi tertawa melihat tingkah kami.
"Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Sam, dia tersenyum takut.
"Ini karena kamu Sam! Dia jadi besar sebelum waktunya!" ucapku kesal.
"Aku?" tanyanya lagi, sok tidak tahu. "Kenapa jadi aku?" tanyanya bingung.
"Iya kamu!" Aku melemparkan bantal pada Sam, dia menghindar hingga bantal ku mendarat di lantai.
"Kau selalu bilang Daniel sudah besar, lihat dia itu masih kanak-kanak. Dan dia tidak punya sifat manja seperti anak seusianya. Bahkan aku juga tidak bisa memanjakan dia seperti anak seusianya!" Aku mendecih tidak suka. Bahkan Sam sudah mengajarkan Daniel untuk latihan beladiri dan memegang senjata sejak dini. Keterlaluan!
"Hei ini kan juga untuk kebaikannya!" tidak mau di salahkan dengan membela diri.
"Iya, tapi lihat sekarang bahkan aku tidak bisa cium dia." Aku menatap Daniel, dia menyilangkan kedua tangannya di depan wajahnya.
Aku kesal. Bayi mungilku... Aku kangen bayi mungilku!
Pelukan dari tubuh mungil Daniel terasa hangat di punggungku.
"Mama, aku harus dewasa supaya bisa menjagamu dari orang jahat!" ucapan Daniel membuatku terharu.
"Voir? Aku mendidiknya dengan benar!" ucap Sam bangga sambil mengelus dagunya, kepalanya naik turun mengangguk.
"Mama, Laisse nous manger. aku lapar!" cicit Daniel.
"Oke kalian turun duluan. Mama mandi sebentar." Daniel mengangguk lalu mencium pipiku dan melepaskan dirinya. Turun dari kasurku dengan tenang dan berjalan ke arah pintu.
"Anak itu memang sudah besar!" ucapku. Sam mengangguk setuju dengan perkataanku.
"Bayi mungilku!" aku meratap sambil memandangi punggung Daniel yang kemudian menghilang di balik pintu.
"Dia sudah bukan bayi lagi! Dia putraku yang hebat!" Sam membanggakan dirinya. Selalu saja seperti itu.
"Cepat mandi. Kasihan Daniel sudah lapar sedari tadi." titah Sam. "Aku tunggu di meja makan!" Sam tersenyum dan mengacak rambutku. Lalu dia berjalan keluar dari kamarku.
Aku kembali merebahkan diri di kasurku. Rasanya tidak meyangka. Meski di kelilingi oleh orang-orang yang mencintaiku, hati ini tetap hampa. Rasanya masih ada ruang kosong di sudut hatiku yang tidak bisa di gantikan oleh yang lainnya.
Lima tahun. Ruangan itu telah kosong. Lima tahun!