DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 39



Kami sampai di parkiran sebuah mall terbesar di kota ini.


Pintu di buka dari luar oleh Samuel. Aku dan Devan keluar. Seno menunggu kami di depan mobil.


"Tunggu Anye!" Devan menahan tanganku, mengeluarkan tisu basah dari sakunya dan mengelap bibirku.


"Aku tidak suka warna lipstikmu, terlalu menggoda jika di lihat oleh pria lain!" aku menghela nafas kesal. Dasar posesif! Padahal aku hanya memakai lipstik soft pink dan juga tidak tebal menurutku!


Mall lumayan ramai padahal bukan akhir pekan. Kami berjalan dengan santai. Di belakang kami mengikuti dua orang dengan setelan jas hitam. Itulah Seno dan Samuel. Pasangan serasi!


Sampai kapan kami akan di asuh? aku merasa tidak bebas dengan adanya mereka. Tapi Devan takut aku dalam bahaya jika tidak di jaga pengawal. Memangnya apa yang akan terjadi sih. Aku akan menikah dengan Devan, bukan dengan bos mafia, kan?!


Devan tidak pernah melepaskan tautan tangannya dariku. Kami berjalan seperti pasangan anak muda lainnya. Berjalan dengan bahagia, dengan penuh senyum dan sesekali di selingi tawa.


Sudah lama sekali aku tidak seperti ini. Setelah putus dengan Devan dulu, aku tak pernah jalan berkencan dengan pria lain. Menyedihkan bukan?!


Dan sekarang aku kembali dengan Devan. Cinta monyetku! Bisa di bilang begitu bukan? Devan cinta monyet ku, cinta pertamaku. Saat aku masih kelas delapan. Dan tiga tahun yaitu sekarang, kami CLBK dengan cara yang tidak terduga.


Ya ampun, sebenarnya aku harus marah, kesal, atau malah harus berterimakasih pada Noval karena kesalahannya membuat aku dan Devan kembali? Aku jadi bingung. Tapi karena dia juga, aku jadi jauh dengan keluargaku. Sesuatu memang butuh pengorbanan tapi bukan ini yang aku harapkan!


Kami terus berjalan berkeliling dari mulai lantai dasar. Sebenarnya Devan mengajakku naik lift agar cepat sampai di lantai teratas untuk langsung ke bioskop, tapi aku bersikeras ingin menelusuri tiap lantai. Aku ingin mengenang masa lalu kami yang dulu sangat menyenangkan!


"Kita duduk dulu. Kamu pasti capek!" Devan menarikku ke sebuah bangku di dekat sana. Lagi, untuk yang ketiga kalinya kami duduk. Setiap setengah jam kami berhenti untuk istirahat. Ya ampun bisa sampai besok kalau seperti ini terus!


Seno dan Samuel setia berdiri di kanan kiri kami. Mereka sudah terlihat seperti patung saja. Tidak bergerak sama sekali. Sesekali mereka menoleh ke kanan dan kiri berjaga-jaga entah untuk apa. Tidak mungkin kan ada ******* yang akan menyandra kami. Mall ini juga di jaga ketat oleh tim keamanan dengan tubuh tegap berototnya. Samuel dan Seno pun kalah perawakannya dari mereka. Tapi kenapa Devan memilih mereka untuk jadi pengawal sih? Padahal dia bisa punya sepuluh bawahan dengan badan berotot seperti Ade Rai!


Aku melihat ke arah Seno dan Samuel, masih tetap tidak bergerak. Mereka gak capek apa berdiri terus?!


"Aku gak capek Dev. Ayo kita lanjutkan!" Aku berdiri, menarik tangan Devan.


"Iya kamu gak capek, tapi anak kita yang capek." Devan tetap bersikukuh dengan keinginannya. Mana ada yang seperti itu kan? Devan kembali menarikku untuk duduk.


"Dev, kalau kita terus berhenti kapan kita akan pulang? Aku gak mau dud..."


"Anye, duduk! Atau kamu akan duduk di atas pangkuanku!" Aku berhenti merengek karena ancamannya. Malu kan kalau Devan benar-benar melakukan hal itu. Pasti kami akan jadi bahan tontonan pengunjung lainnya. Dan Devan tidak akan peduli yang penting baginya adalah AKU!


"Lima menit!" ucapku ketus. Devan tersenyum karena menang!


Kami melanjutkan perjalanan kami. Sedikit sebal karena sedari tadi banyak sekali yang menatap ke arah kami, tepatnya Devan!


Bagaimana tidak, Devan adalah sosok pria yang menawan. Kulit putih, rahang tegas, mata tajam, alis tebal, hidung mancung, plus sedikit bulu-bulu halus yang tumbuh di rahangnya membuat dia seperti artis luar negeri. Aku yakin karena sepanjang ingatanku tidak ada artis dalam negeri yang seperti Devan. Ups... lagi-lagi aku terang-terangan memuji dia dalam hati.


Devan mengejarku.


"Kamu kenapa sayang? Aku ada salah? Jangan cepat-cepat jalannya!" Aku tidak mau dengar, tetap berjalan.


Salah? Apa dia tidak sadar kalau wajahnya yang tampan itu adalah salah! Kalau tubuhnya yang gagah itu adalah salah. Kalau semua yang...


"Anye! Tunggu sayang!" Devan menarik tanganku dan memelukku erat. Dia benar-benar tidak peduli dimana kami berada. Bahkan dengan tatapan iri dan kesal para pengunjung.


"Kenapa marah? Aku gak suka kalau kamu terus diam. Bilang sama aku apa salah aku? Aku akan koreksi diri aku. Aku minta maaf, sayang!"


"Lepas Dev. Aku malu banyak yang lihat."


"Biarkan saja! Aku gak peduli. Kenapa kamu marah, hem?"


"Aku gak suka orang lain lihatin kamu. Mereka menyebalkan, sudah tau kamu jalan sama aku, masih saja mereka lihat dan puji kamu terang-terangan!" ucap ku jujur dengan nada kesal.


Devan merenggangkan pelukannya dan menatapku tajam, lalu sebuah senyuman tersungging di bibirnya.


"Kamu cemburu?" tanya Devan.


"Enggak! Aku cuma merasa risih dengan tatapan mereka." Devan masih tersenyum. Lalu berubah menjadi tawa kecil.


"Justru aku yang cemburu karena dari tadi banyak pria yang lihatin kamu. Aku gak pernah anggap para gadis itu, mereka tidak penting karena kamu lah yang paling penting buat aku." di kecupnya keningku lama. Membuat rasa hangat di hatiku.


"Sam. Carikan kami masker!" titah Devan pada Samuel, segera di laksanakan perintah itu. Tak lama Samuel kembali dengan dua buah masker di tangannya.


Akhirnya kami langsung menuju lantai atas memakai lift karena Devan terus saja menawariku untuk berbelanja. Dan aku tolak! Aku hanya ingin ngedate saja. TITIK!


Di lantai paling atas, kami kembali berdebat. Karena Devan sangat lebay ingin menyewa satu bioskop untuk kami nonton berdua. Alasannya adalah karena di bioskop pria dan wanita ada dalam satu tempat, dan tidak menutup kemungkinan orang lain akan menatap dan mengagumiku, atau bahkan bersentuhan denganku! Ish dasar!


Maka setelah sedikit ancaman dariku, dan pasti dia masih kesal saat ini. Akhirnya dia setuju untuk menyewa satu deret kursi. Seno dan Samuel masing-masing duduk di kedua ujungnya.


Ya ampun, kenapa dengan kekasihku ini. Eh, ralat dia bukan kekasihku, dia calon suamiku. Ya ampun. Calon suami! Hehe...


Tapi tetap saja Devan lebay!


Kami menonton film bergenre komedi romantis. Selama film berjalan dia bersungut kesal karena aku selalu memuji pemeran prianya yang tampan. Berkali-kali dia menggodaku. Menjepit daguku dan mengarahkannya padanya. Meminta untuk tidak di abaikan. Salah sendiri dia membawaku kemari! Dan hasilnya karena kesal Devan lebih banyak menghabiskan popcorn di pangkuannya.