
Suasana di dalam ruangan rapat itu sangat khidmat. Tiara sedang melakukan presentase, dia begitu fasih berbicara dan juga menjawab setiap pertayaan yang di ajukan orang lain.
Mereka memperhatikan apa yang sedang di tunjuk oleh Tiara di papan presentase. Mereka sangat takjub dengan penjelasan Tiara, lugas, sederhana, dan juga dapat mudah dimengerti. Tiara menjelaskan hingga hal terdetail dengan singkat, padat dan jelas.
Axel menatap Tiara yang masih menjelaskan. Meskipun Tiara baru saja bekerja selama satu bulan tapi kemampuannya lumayan juga. Dia salut pada Gio yang bisa membimbing Tiara hingga bisa sejauh ini. Gadis dengan kemampuan biasa, nyatanya jika digali lebih dalam dia adalah permata!
Meski ini adalah kali pertama Tiara untuk melakukan presentase di hadapan para petinggi, tapi nyatanya gadis itu bisa membawa dirinya dengan baik.
Gio mendekat ke arah Axel, seketika di ruangan sana terasa hening saat Gio membisikkan sesuatu di dekat telinga CEO-nya.
Tiara berhenti berbicara, dia menunggu. Begitu juga dengan anggota rapat yang lainnya. Mereka saling menatap bingung. Pasalnya tak pernah sedikit pun ada yang bisa mengganggu jalannya rapat. Namun, kali ini sepertinya berbeda. Wajah bosnya terlihat tak biasa!
Axel segera bangkit dari kursinya dan berdiri, membuat anggota rapat yang lain kembali saling memandang bingung. Tiba-tiba pemuda itu pergi begitu saja di tengah acara rapat setengah berlari menuju pintu. Wajahnya terlihat tegang.
"Rapat di tunda, kita lanjutkan lagi lusa!" ucap Gio pada yang lainnya.
Gio mengangguk pada Tiara. Meskipun Tiara bingung dengan maksud pria itu, tapi dia hanya menurut saja. Segera membereskan berkasnya dan menyusul Gio dan Axel setengah berlari di belakang mereka.
Sepeninggal mereka di ruang rapat, para anggota dewan yang lain masih kebingungan, tak biasanya bosnya ini pergi saat rapat bahkan ini saja masih belum setengah dari biasanya. Baru saja berjalan sekitar sepuluh menit.
Langkah Tiara terseok-seok. Gara-gara Gio membelikan dirinya sepatu dengan hak tinggi waktu itu membuatnya tak bisa berjalan dengan cepat. Masih beruntung dirinya tidak terjatuh.
Haihhh heels menyebalkan! Rasanya ingin dia bertelanjang kaki saja!
Axel, Gio, dan Tiara sudah sampai di basemen. Gio sudah siap di belakang kemudi, Tiara duduk di sampingnya sedangkan Axel duduk dengan gelisah di kursi belakang.
Ingin rasanya Tiara bertanya kenapa sampai mereka meninggalkan rapat penting, tapi urung di lakukan. Wajah dua pria disana terlihat kaku dan tegang. Tiara hanya diam, menatap ke arah luar. Dia juga bingung sebenarnya untuk apa dia ikut dengan mereka?
Gio melajukan kendaraannya dengan cepat. Bahkan ia tak peduli dengan jalanan yang ramai. Main salip kanan dan kiri. Tak jarang dia menekan klakson dengan tak sabarnya.
Sepanjang perjalanan tak ada satupun dari mereka yang berbicara. Keheningan menyelimuti mereka. Kembali terdengar suara klakson yang Gio tekan. Hingga sampailah mereka di sebuah tempat. Rumah sakit?
Tiara heran. Untuk apa mereka datang ke rumah sakit?
Bodohnya dia! Tentu ada yang sakit lah! Tapi siapa? Ibu dari Axel kah? Ayahnya? Kakeknya?
Tiara ingin bertanya, tapi Gio sudah keluar dari mobil menyusul Axel yang sudah berlari ke dalam area rumah sakit. Terpaksa dan tak mau di tinggal sendirian di dalam mobil, Tiara ikut serta berlari menyusul mereka. Berkas yang tadi belum sempat ia simpan di mejanya ia biarkan saja di dalam mobil Gio.
Lorong demi lorong mereka lalui. Gio dan Axel sudah lari menjauh meninggalkan Tiara. Tiara susah payah untuk tetap menggerakkan kakinya, tapi kakinya sakit. Perih. Pasti lecet. Apalagi itu adalah heels yang baru tiga kali ini dia pakai, tentunya masih kaku.
Ia berhenti sambil berpegangan pada dinding. Dadanya kembang kempis. Perutnya sakit. Tiara mengambil nafas dalam-dalam. Salahnya yang tak pernah mau olahraga. Dia terlalu malas dan juga ingin menghabiskan waktu liburnya seharian di rumah. Rebahan!
Dia melepas kedua heelsnya dan menentengnya. Terlihat kaki belakangnya sudah memerah. Lecet. Perih, pasti. Tiara hanya mengusap pelan kakinya dan kemudian menyusul kedua orang itu lagi. Dia ingat tadi mereka berbelok ke arah mana.
Tiara sampai di ujung lorong, dia berbelok ke arah kanan dimana tadi Gio dan Axel juga berbelok ke arah sana. Tapi dimana mereka? Ruangan mana yang mereka masuki?
Haihhh. Harusnya tadi aku tidak berhenti!
Dia menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Haruskah ia dia masuki satu persatu ruangan ini? Kalau tidak begitu mana dia tahu mereka ada di ruangan yang mana? Hp juga gak bawa, ada di tasnya di ruangan Gio.
Axel dan Gio terus berlari, mereka tak sadar telah meninggalkan seseorang di belakang mereka. Axel sangat panik saat mendengar laporan Gio tadi.
Axel membuka pintu sebuah ruangan. Terlihat di dalam sana mama sedang memeluk menenangkan Renata. Gadis itu terlihat shock, dia histeris menangis dan berteriak. Axel masuk di ikuti Gio di belakangnya.
"Aku gak mau, Ma. Tolong aku. Aku gak mau dia ada!" tangisnya membuat semua yang mendengarnya menjadi pilu.
"Sabar, sayang. Ini ketentuan dari yang Maha Kuasa." Anye tetap memeluk Renata yang terus saja berontak dengan berurai air mata. Gadis itu berusaha melukai dirinya dengan memukulkan tangannya ke arah perutnya.
"Aku gak mau, Ma. Aku gak mau!" Tangisnya semakin pilu saat melihat Axel yang sudah ada di dekatnya. Anye menatap sedih pada Renata, tidak ada seorang pun yang menginginkan hal seperti ini terjadi. Tapi mau bagaimana lagi. Takdir berkata lain. Jika ternyata benih yang di tanamkan di rahim Renata malam itu tumbuh dan berkembang.
Renata terus saja menangis meraung-raung, matanya sudah sembab.
Tidak cukupkah penderitaan dirinya? Ayah ibunya di bunuh, lalu kemudian kakaknya juga di jual. Perusahaannya di ambil alih. Keperawanannya di renggut. Dan kini, dia harus menerima dirinya mengandung dari pria bajingan itu! Tidak ada lagi yang bisa ia banggakan dari hidupnya.
Dia kira penderitaannya akan berakhir saat ia bersama Axel, tapi takdir memang kejam untuknya. Kini dia harus mengandung. Bukan waktu yang sebentar. Sembilan bulan... Sembilan bulan lebih dia akan melihat perutnya membesar dengan perlahan, dan melahirkan anak itu. Anak dari seorang pria bajingan yang sudah menghancurkan hidupnya!
Axel mendekat. Anye memberikan ruang untuk putranya itu.
Mata Axel sudah merah. Apa lagi yang terjadi pada calon istrinya ini?
"Xel. Aku gak mau ada anak ini. Tolong aku. Gugurkan dia!" ratap Renata pada Axel. Axel meraih Renata ke dalam pelukannya. Dia memeluk Renata erat, dan menggelengkan kepalanya.
"Jangan. Anak itu tidak bersalah!"
.
.
.
.
Haihhhh apaan lagi ini?
Nyeseuk beut dah!