DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 111



"Apa sekrang kau puas? Aku kehilangan putraku, dan kau kehilangan putramu. Beruntung aku membawa dia karena bisa menyaksikan keterpurukanmu!" William tertawa setelah mengucapkan kalimat itu.


Axel geram dengan jawaban William, Pria tua itu sama sekali tidak berperasaaan. bagaimana dia bisa...


"Haa..haahha..." Axel tertawa dengan nada yang terdengar menakutkan hingga kedua bahunya bergerak naik turun, dia menarik pistolnya dan, menyusut air mata di yang keluar di sudut matanya,


"Astaga ... Haa. Haha..." Tawa Axel Membuat William bingung.


Lalu dengan cepat Axel kembali mangangkat pistolnya dan kembali mengarahkannya pada William.


"Selamat Pak Tua. Kamu sudah kehilangan putramu satu-satunya dan sekrang... kamu kehilangan calon keturunanmu!" ucapnya dingin di akhir kalimat. Tatapan Axel dingin menusuk menatap William. William memiringkan kepalanya mencerna ucapan Axel.


"Tidak mengerti juga? Oh Ayolah Pak Tua. Memangnya kau fikir sebab apa aku membunuh anak mu? Jika saja anakmu tak mengganggu milikku tentu aku juga tidak akan membuatnya menjadi patung!"


"Dia membawa kekasihku, menodainya, membuat masa depannya suram. Dan dia juga meninggalkan calon anak di rahimnya. Apa dia masih pantas untuk hidup? Ckckck..." Axel menggelengkan kepalanya.


"Pria seperti dia hanya menjadi sampah di dalam masyarakat dan aku hanya membantu menyingkirkannya saja!"


"Jadi apa aku salah?"


"Dan kau!!! Kau akan terima akibatnya jika sampai terjadi apa apa dengan anak itu!!" teriak Axel di akhir kalimatnya..


"Bohong!" tak percaya dengan apa yang di katakan Axel.


Axel tertawa lagi.


"Kau tentu tahu bagaimana sifat anakmu! Jangan pura-pura tidak tahu! Apa perlu aku beri bukti kalau dia adalah penerusmu?" tanya Axel. William terdiam.


"Aku kira tidak perlu! Sebelum kau mati kau hanya harus tahu kalau dia adalah benar-benar cucumu. Aku ingin kau menjadi arwah penasaran yang selalu merasa bersalah karena telah menghilangkan nyawa cucumu sendiri!" ucap Axel lalu mendekat ke arah Renata.


William menatap noda darah yang banyak yang terdapat di celana Renata. Dia tertegun mendengar kalimat demi kaliamat yang di ucapkan Axel, bukan soal sampah atau apalah. Tapi gadis itu mengandung ... cucunya? penerusnya?


Dia sudah kehilangan putranya dan kini dia kehilangan ... anak dari putranya


William terdiam, lututnya bergetar terasa lemas. Jika memang benar anak yang di kandung Renata adalah cucunya, maka dia telah membunuh penerusnya.


Suara derap langkah kaki terdengar semakin banyak di luar sana. Pintu terbuka di dobrak dari luar. Beberapa pria dengan setelan hitam bersiap dengan senjata di tangannya.


Dengan tenang Axel menggendong tubuh Renata, tak ia hiraukan kursi roda yang tadi membawa tubuh tak berdaya itu. Dia ingin memberikan ketenangan pada Renata lewat pelukannya.


Axel membawa tubuh Renata yang lunglai keluar dari sana. Dia tak ingin peduli apa yang selanjutnya terjadi. Bunyi tembakan dan kesakitan tak lagi di hiraukan. Mereka pantas mendapatkannya.


...***...


Axel terdiam menatap tubuh Renata yang kini terbaring di ranjang rumah sakit. Wajah Renata masih pucat. Di tangannya terdapat infus dan juga selang darah. Renata kehilangan banyak darah, dan juga kehilangan janinnya. Benturan keras membuat anak itu tak bisa bertahan.


Kenapa cobaan yang dialaminya sangat berat? Kehilangan orang tua, kakak, harta, kehormatan, dan kini kehilangan anaknya.


Axel membawa tangan Renata dan mengusap punggung tangannya.


Aku janji akan membahagiakan kamu Re! janji Axel dalam hati.


Pintu ruangan terbuka.


"Axel!" panggil mama. Axel menoleh, mama setengah berlari ke arahnya dengan wajah panik.


"Apa yang terjadi?" Mama tak pecaya lagi-lagi melihat Renata tak berdaya di ranjang rumah sakit.


Mama mengambil Axel ke dalam pelukannya. Membiarkan anak bungsunya itu mencurahkan perasaanya. Bahu Axel bergetar, dia menangis tanpa suara, hanya pelukan erat di pinggang sang mama yang menandakan kalau dia tengah merasa bersedih. Mama mengusap kepala Axel dengan sayang. Menatap nanar pada sosok Renata yang tengah tertidur pulas.


Entah kutukan apa yang di berikan pada gadis itu hingga dia terus saja mendapati hal yang tak menyenangkan. Anye salut pada Renata, meski dia sempat down tapi Renata bisa kembali menjalani hidupnya dengan normal, tidak berlarut pada kesedihan. Tapi bagaimana setelah ini? Kehilangan seorang anak meski masih di dalam kandungan adalah hal yang paling menyedihkan bagi setiap wanita.


Ini salahnya, jika saja tadi pagi dia tidak meninggalkan Renata di rumah, mungkin tidak akan terjadi hal yang seperti itu pada Renata. Anye pergi ke butik milik Kak Melati dan mengambil pesanan baju pengantin milik Renata.


Dengan adanya kejadian ini bisa di pastikan jika pernikahan Axel dan Renata akan kembali di undur. Tidak mungkin jika mereka akan menikah dalam keadaan seperti ini. Apalagi Anye yakin kali ini psikis Renata akan lebih down dari sebelumnya.


...***...


Axel terbangun saat cahaya matahari menyinari wajahnya. Terasa silau. Entah siapa yang membuka tirai di jendela.


Axel bangun dari tumpuan di tangannya. Badannya cukup pegal karena semalaman dia tidur dengan posisi terduduk di samping ranjang Renata.


Dia berdecak kesal. Renata bisa terganggu tidurnya jika terkena sinar matahari yang semakin panas.


Tubuh Axel menegang saat dia tak melihat Renata di atas ranjangnya. Dia terpaku pada infusan yang kini menggantung bebas di tiangnya.


Dia bergegas bangun.


"Re?!" mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, memanggil Renata. Tapi yang di panggil tak menyahut sama sekali. Axel bergegas berlari ke arah kamar mandi. Dia membukanya, tak ada siapa pun di sana.


Hatinya cemas. Perasaan takut mulai menyergap ke dalam sanubarinya. Dia mulai bertanya-tanya kemana Renata.


"Re!" Berlari ke luar, mungkin saja Renata sedang berjemur di bawah sinar matahari, tapi kenpa infusnya harus di lepas?


Dia berlari memutari area rumah sakit diikuti dua pengawalnya yang juga berlari ke arah lain. Membantu mencari Renata.


Perasaannya semakin ketakutan saat dia tak menemukan Renata dimana pun. Axel menarik nafasnya dalam-dalam, lelah karena berlari tak ia hiarukan sama sekali. Dia takut jika terjadi apa-apa dengan Renata. apa mungkin dia di culik lagi? Tapi siapa kali ini yang melakukannya?


Gio dan mama baru saja datang dengan rantang makanan di tangannya. Mereka terheran saat tak melihat sosok Renata disana.


"Xel, kemana Renata?" tanya mama.


"Renata pergi!" lirih Axel.


Mama dan Gio menatap Axel bersamaan.


"Pergi?" seru mama tak percaya.


Axel memberikan hp milik Renata pada mama. Mama membaca pesan yang tertulis disana dalam catatan.


Aku pergi, Xel. Maaf tentang pernikahan kita. Aku hanya ingin menenangkan diri. Tolong untuk sementara biarkan aku sendiri. Aku gak mau menjadi beban keluarga kamu lagi. Aku gak mau jadi sebab kesedihan kalian. Maaf.


Mama menatap Axel tak percaya.


"Kita harus cari dia, Xel!" seru mama. Axel menggeleng pelan. Tubuhnya lesu.


"Tidak, Ma. Jika dia ingin menenangkan diri maka aku harus mendukungnya. Mungkin itu yang terbaik untuk kami saat ini. Dia sedang tertekan, dia sedang bersedih. Biarkan saja dulu."