DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Gio part 225



Ibu baru saja pulang dari pasar dengan membawa banyak belanjaan. Gio dan Tiara tengah menonton acara televisi. Keduanya duduk saling berdekatan. Tiara melabuhkan kepalanya di bahu Gio. Satu tangan Gio mengusap kepala Tiara sesekali bibirnya dia labuhkan di kepala sang istri.


"Ibu pulang!"


Suara ibu membuat mereka berdua saling menjauh satu sama lain. Malu rasanya terlihat mesra di depan ibu. Ibu yang melihat keduanya salah tingkah hanya bisa menahan tawa.


"Kalian sudah makan?" tanya ibu lalu berjalan melewati keduanya.


"Sudah, Bu." kompak menjawab.


"Ibu dari mana? Kok lama?" tanya Tiara lalu beranjak bangun untuk meraih tas belanja ibu.


"Dari pasar! Gak lihat ibu bawa ini?" tanya ibu. Tiara terkekeh malu. Pertanyaan bodoh! Tentu saja, membawa keranjang anyaman berisi aneka sayuran ya dari pasar lah. Tiara segera meraih tas belanjaan ibu dan lalu berjalan terlebih dulu ke arah dapur.


Ibu tersenyum melihat cara jalan Tiara yang aneh.


'Sebentar lagi aku punya cucu!' batin ibu senang.


Tiara mengeluarkan semua belanja ibu dan menatanya di kulkas.


"Sudah sana, pengantin baru harusnya istirahat di kamar. Tidak usah bantu ibu. Ibu masih bisa sendiri. Sana temani suami kamu. Kasihan dia ditinggal nonton tv sendirian." ibu merebut satu papan tempe dari tangan putrinya.


"Ah bosan di kamar terus, Bu. Gio biarkan saja. Lagi asyik nonton tv juga. Ibu mau masak apa buat makan siang? Aku bantu ya?" tanya Tiara.


"Memangnya kamu bisa? Memangnya sudah tidak sakit?" tanya ibu yang membuat pergerakkan Tiara melambat.


"Ap... Apanya yang sakit? Aku baik-baik saja kok. Tidak sakit!" elak Tiara, padahal mah masih perih tuh! PPS, perih-perih sedap. Wkwkwk.


"Bener kamu gak sakit?" Tanya ibu dengan senyuman jahilnya. Ibu melirik ke arah jendela. Seprai putih milik Tiara tergantung di jemuran.


Wajah Tiara memerah. Malu rasanya digoda seperti itu meski oleh ibu sendiri.


"Ih Ibu apaan sih!" Tiara merajuk dengan manja. Bibirnya mengerucut lucu.


Ibu mendekat dan memeluk Tiara dengan sayang. Di elusnya kepala anak gadis yang kini sudah berubah menjadi wanita dewasa. Rasa harun


dan sedih yang sedari kemarin ibu tahan akhirnya pecah juga.


"Kamu sudah menjadi seorang istri sekarang. Tanggung jawab sudah diambil alih oleh suamimu. Ara..." ibu terdiam. Suaranya tercekat di tenggorokan. Ini adalah hal terberat haris dialami oleh seorang ibu saat putrinya telah dipinang orang.


"Apa maksud ibu?" tanya Tiara sambil menarik dirinya. Tidak suka dengan kalimat yang diucapkan ibu, serasa dirinya sudah tidak disayang lagi oleh wanita yang sudah melahirkan dan merawatmya hingga besar.


"Ibu hanya mau bilang. Jadilah pakaian yang menutupi aib suamimu! Jadilah pasangan yang selalu saling peduli, saling mengerti satu sama lain. Saling menyayangi..." ibu, lagi terdiam. Mata ibu berkaca-kaca. Hati Tiara perih mendengar ucapan ibu. Rasanya sangat menyedihkan seakan Tiara akan meninggalkan ibu.


"Kamu berhak untuk ikut suami mu, Ra!" ucap Ibu akhirnya menjawab pertanyaan di dalam hatinya. Tiara menggelengkan kepalanya.


"Aku gak akan kemana-mana, Bu. Aku akan disini terus menemani Ibu," ucap Tiara, wajahnya sudah basah.


"Bagaimana kamu akan menemani Ibu? Kamu itu sudah berumah tangga. Sudah jadi hak suamimu untuk bawa kamu ke istana yang sesungguhnya."


"Istanaku disini, Bu. Di rumah ini."


"Enggak, Ara. Suami mu adalah rajamu. Panutanmu. Patuhi dia. Turuti dia. Jangan melawan. Ya!" peringat ibu. Mau tidak mau, Tiara menganggukan kepala.


Ibu dan Tiara terisak bersama dalam dekapan yang hangat namun terasa sedih itu.


Gio yang melihat itu merasa iba di dalam hatinya. Selain Tiara, bertambah satu lagi orang yang dia sayangi sekarang. Ibu.