DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 36



"Morning!" ucapnya dengan senyuman. Devan membangunkanku dan mencium ku seperti hari sebelumnya, lalu beranjak ke arah jendela dan menyibak tirai membuat aku silau.


"Ayo bangun pemalas! Waktunya pergi ke sekolah!" ucap Devan lalu menarik tanganku.


"Ayo mandi dan berangkat ke sekolah. Aku tidak mau anakku punya mom yang tidak pintar!" ucapnya.


"Tapi aku tidak ada buku Dev, dan seragamku juga masih ada di rumah mama." ucapku masih malas membuka mata.


"Kata siapa? Seragam kamu ada disini. Semuanya lengkap untuk sekolah. Jadi sekarang bangun dan mandi. Aku sudah buatkan sarapan." Lagi Devan menarik tanganku. Aku masih bertahan dengan bantalku dan mata terpejam


"Oke! Tidak ada pilihan lain!" ucapnya yang membuat aku sadar. Tapi sebelum aku membuka mata Devan sudah mengangkatku ala bridal.


"Turunkan, aku bisa jalan sendiri!" ucapku memukul dadanya. Sekarang mataku benar-benar sudah terbuka.


"Terlambat!" Lalu dengan segera Devan membawa ku ke arah kamar mandi, aku hanya mengeratkan kedua tanganku di lehernya. Menatap wajah Devan dari samping. Perfect!


"Sudah mulai jatuh cinta lagi?" tanya Devan dengan seringaian jahilnya.


"Sssttt, diam!" ku tempelkan satu telunjukku di bibirnya. "Aku cuma mengagumi ayah dari anakku. Bukan berarti aku jatuh cinta lagi padamu, Dev. Tidak semudah itu fergusso!" Devan terkekeh mendengar candaanku.


"Aku suka kalau kamu sudah galak seperti ini. Kau Anyelir ku!"


Devan mendudukkan aku di atas kloset yang tertutup. Dan dia mengisi bathtub dengan air hangat, tidak lupa bubble bath dan aromaterapi. Wangi.


"Cepat mandi. Sepuluh menit belum selesai, aku yang akan mandikan!" ucapnya lalu mencium keningku. Aku hanya terdiam menerima perlakuannya.


Devan sudah berdiri di dekat pintu dan menoleh ke arahku. "Atau mau aku yang mandikan?" kedua alisnya naik turun bersamaan dengan senyum jahil menggoda.


"Tidak perlu. Sana keluar." usirku lalu mendorong Devan keluar dari kamar mandi.


"Jangan dikunci kamar mandinya Anye!" teriak Devan dari luar. Dia masih takut saja!


Begitu juga sarapan. Nasi goreng dengan telur ceplok setengah matang dengan kematangan sesuai seleraku.


"Sini, duduk sarapan." Devan menepuk pahanya dan menarik tanganku. Lagi seperti biasa dia tidak membiarkanku makan sendiri.


Baru beberapa suap hp Devan berbunyi. "Teruskan makan kamu. Aku angkat telfon dulu." Aku mengangguk melanjutkan sarapan sedangkan Devan beralih ke kamar dengan hp yang sudah di tempelkan di telinganya.


Tidak berapa lama Devan kembali, aku masih belum selesai dengan sarapanku. Perutku rasanya sudah penuh mungkin tiga suapan lagi pasti semua yang sudah aku makan akan terbuang percuma.


"Habiskan!" titah Devan.


"Sudah cukup. Aku tidak mau muntah gara-gara terlalu banyak makan." Devan menyerahkan beberapa butir obat.


"Ini vitamin punya kamu. Sejak disini kamu gak minum vitamin kan?" Aku masih diam. Bingung sebenarnya.


"Mama yang sudah siapain ini semua." Devan seperti tahu apa yang aku fikirkan.


"Mama?"


"Iya. Mama mengirimkan semua keperluan kamu." seketika mataku panas. Mama masih peduli padaku, sedangkan aku terlalu sedih dengan keadaanku hingga aku melupakan mama beberapa hari ini.


"Ayo cepat minum. Lalu kita berangkat."


Sementara aku minum vitaminku Devan duduk di depanku dan menggeserkan piring milikku, lalu makan sisa nasi goreng dengan lahap.


"Dev, itu sisa." ucapku tidak percaya.


"Memang kenapa? Sisa kamu malah terlampau enak!" ucapnya cuek lalu kembali makan sampai habis.


Dasar aneh!