
Cantik menatap pria itu dengan kesal.
"Heh, ini karena mu!" tunjuk Cantik lantang pada sosok pria yang kini menatap bingung ke arahnya. Pria itu menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, ini semua karena kau. Jika saja kau bisa meyakinkan bos mu untuk memberikan KTP itu aku gak akan kehilangan uangku dan juga aku gak akan kesal karena dia!" jerit Cantik dengan keras. Pria itu hanya bisa menahan dirinya. Sedari tadi dia dibentak oleh wanita ini.
"Lalu sekarang bagaimana? Nona mau pulang? Atau Nona mau pergi untuk menemui bos ku?" tanya pria itu dengan santai berbeda dengan Cantik yang masih saja naik turun di dadanya.
Cantik terdiam. Dia harus mendapatkan KTP dan juga ATM nya kali ini. Rugi sekali dia sudah marah-marah dan emosi jika dia tidak berhasil mengambilnya kembali.
"Aku mau ambil uangku!" ucap Cantik dengan kesal. Cantik berjalan mendahului pria itu, tapi kemudian dia kembali lagi berhenti tepat di depan pria itu kembali
"Kau mau tinggal disini? Cepat jalan dan bawa aku ke depan atasanmu yang kurang ajar itu?" titah Cantik pada pria itu.
Keduanya berjalan hingga mereka sampai lah ke sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari sana.
"Silahkan masuk." Pria itu kini membukakan pintu untuk Cantik masuk. Wanita itu hanya terdiam dengan takut. Haruskah dia masuk? Udara disini terlalu menyeramkan untuk dirasakan.
"Kau mau berdiri saja di situ? Tidak mau masuk?" tanya suara bariton dari dalam. Cantik segera masuk ke dalam mobil dan duduk dengan tenang di sudut kursi penumpang yang ada.
"Jalan." ucap pria itu saat Cantik baru saja menjatuhkan bokongnya di kursi.
Cantik panik karena mobil itu tiba-tiba saja melaju meninggalkan tempat itu.
"Eh kau mau bawa aku ini kemana? Pak, Aku tidak mau dbawa pergi. Mobilku ada di belakang." protes Cantik dengan marah, tapi moil itu tidak mau berhenti, terus saja melaju meninggalkan jalanan tadi.
"Hei apa yang kau lakukan? aku bilang berhenti dan turunkan aku. Kau mau bawa aku kemana?" tanya Cantik dengan geram pada pria asing di sampingnya ini. Pria itu memakai masker di wajahnya sama persis seperti saat mereka pertama bertemu, juga suara yang ia dengar saat dirnya menabrak pria itu. Bedanya dia kini terbungkus dengan balutan jas mahal yang ada di tubuhnya.
"Kita jalan-jalan sebentar." ucap pria itu dengan santai. Mobil terus saja melaju lebih jauh dari tempat yang tadi. Tak Peduli dengan Cantik yang terus saja merengek minta diturunkan.
"Turunkan aku kalau tidak aku akan membuatmu bonyok, Pak." Ancam Cantik kali ini. Pria yang duduk di sebelahnya hanya tertawa mendengar ancaman itu, dia tidak peduli kini Cantik mau menendangnya atau apa pun itu. mengganggu wanita ini membuat hatinya senang.
Tidak mendengar kata iya dari pria itu, kemarahan Cantik pecah sudah, dia tak tahan dengan apa yang dilakukan pria itu padanya. Dia sedang di culikkah sekarang ini?
Cantik segera menghambur ke tubuh pria itu, jiwa barbarnya kini tidak tertolong lagi. Yakin jika dia dalam bahaya, apalagi pria ini memakai masker di wajahnya, juga mobil yang treus melaju kini membuat dia yakin jika dia tengh di culik.
Cantik menghambur, memeluk, melayangkan tinju, dan juga Berusaha membuka masker yang ada pada wajah pria itu. Pria itu terkejut dengan perlakuan ajaib wanita culun ini, tidak menyangka jika wanita yang memakai kacamata tebal ini bisa menyerang dirinya dengan tiba-tiba.
"Hei apa yang kau lakukan?" Teriak pria itu dengan terkejut, dia menahan tangan Cantik yang mencoba untuk membuka masker di wajahnya.
"Aku hanya ingin kau tunjukkan wajahmu, kau ini penculik kan? Jangan kau kira aku tidak bisa melawan mu ya. Aku ini juga bisa berkelahi!" seru Cantik sambil terus berusaha untuk menarik maser pria itu.
Keduanya smpai berguling di atas kursi penumpang, bergantian saling menindih dan membalikkan keadaan. Harus pria itu akui jika wanita ini memang wanita yang tangguh dan juga gigih.
Napas keduanya saling bersahutan karena lelah. Cantik masih saja berusaha untuk mengalahkan pria itu, tapi tidak berhasil, upaya apapun yang dia lakukan tidak membuat dia menang melawan pria ini, bahan hasil latihannya selama ini da jalani bisa dengan mudah pria itu lumpuhkan. Kini Cantik terjebak di antara kursi dan juga pria itu yang berada di atas punggungnya.
"Hei lepaskan aku, apa yang kau lakukan? Ini pelecehan namanya. Kenapa kau menindihku?!" Cantik menjerit berteriak sekeras mungkin.
"Aku bukan melecehkan mu, aku hanya melindungi diriku sendiri dari wanita jahat seperti mu."
"Aku bukan wanita jahat aku hanya ingin tahu wajah orang yang telah berani menculikku!" Cantik mencoba berontak dengan menggerakkan tubuhnya sekuat mungkin, tapi pria itu masih aja menduduki punggungnya dennan santainya.
"Lepaskan aku baj*ngan!" Cantik mengumpat lagi dan lagi. Dia merasa kesal luar biasa denga pria ini. Tangannya yang besar mampu menahan dan melumpuhkan gerakannya. Tubuh pria iu juga lebih besar di banding dengan Cantik, tidak bisa membuat Cantik menang darinya,.
"Kau ini wanita tapi barbar juga. Sudah aku bilang kami ini bukan pencuik. Tidak ada yang mau menculik mu. Aku hanya ingin membawa mu ke suatu tempat setelah itu aku akan mendapatkan KTP mu dan juga ATM mu." pria itu berkata lagi.
"Untuk apa? Kau tinggal memeberikannya padaku sekarang juga, kenapa juga harus ribet membawaku ke tempat lain?" tanya Cantik dengan kesal.
"Karna aku mau. Kalau kau bia bersikap dengan baik, aku akan melepaskanmu dan membiarkan mu untuk duduk," ucapnya sambil menekan pegangannya pada Cantik. Pria itu kemudian bangkit dan melepaskan Cantik, membiarkan wanta itu untuk kembali duduk. Cantik mengusap pergelangan tangannya yang lumayan sakit karena pria itu.
Cantik melirik pada pria yang kini duduk dengan tenang di sampingnya, seakan kejadian tadi tidak pernah terjadi sama sekali. Dia bahkan kini sedang membuka hpnya dan menggerakkkan jarinya disana.
"Kau ini hanya ingin memberikan KTP ku saja harus membawaku sejauh ini, ya? Tinggal berikan saja, dan aku juga akan pergi. Jangan lupa untuk mengembalikan sisa isi tabunganku karena aku sudah menepati janjiku untuk bertemu dan mengambil sendiri KTP ku." ujar Cantik dengan pandangan di sudut netranya.
Pria dengan masker di wajahnya tu terlihat hanya mengangguk ringan.
Mobil berhenti pada suatu tempat, pintunya di buka dari luar. Seorang pengawal lain menggerakkan tanganya meminta Cantik untuk keluar. Cantik bingung dengan kedaan ini.
"Keluar lah, kita bicara di dalam, tenang saja aku sudah bilang, kami ini bukan pecuik, untuk apa menculiku, kau juga tidak akan laku untuk dijual" Ucapan pria itu membuat Catik melotot dengan kesal, ingin dia menyela, tapi pria itu kini sudah keluar dari mobil dan berjalan dengan tenang ke depan.
Tidak tahukah dia kalau aku berdandan semua pria akan tunduk kepadaku? Termasuk kau! Cantik membatin dengan kesal.
"Mari Nona. Silahkan ikut kami.'' pengawal itu meminta Cantik untuk mengikutinya. Mau tidak mau Cantik keluar dan juga mengikuti pria itu d belakangnya..
Rumah mewah dengan pilar besar, serta mobil-mobil mewah yang banyak berjejer, beberapa maid yang terlihat sedang mengurus rumah, serta beberapa anjing penjaga menyalak dari kandangnya saat dia berjalan ke arah lain.
"Ini ada dimana?" tanya Cantik saat sudah dekat dengan pria itu.
"Mengambil KTP mu." jawabnya dengan santai.
"Ambil KTP kenapa juga harus ribet dengan membawaku kemari? Kau hanya tinggal membawakannya padaku."
"Sudah jangan cerewet. Kau ikut saja denganku." tutur pria itu kini dengan kesalnya. Wanita ini terlalu banyak bicara.
Cantik pun dengan diam mengikuti pria itu, dia bersiap saja dengan kemungkinan yang ada jika sesuatu terjadi saat dirinya lengah.
Masuk ke dalam sebuah ruangan besar, lalu berjalan lagi ke rungan lain. Cantik masih bingung dengan semua ini. Hingga pada akhirnya mereka berdua masuk ke dalam sebuah ruangan. Terlihat seorang wanita tua berbaring di atas ranjang dengan banyaknya alat kesehatan menempel pada tubuhnya.
Wanita itu tersenyum pada mereka yang baru saja datang. Tangannya melambai untuk menyuruh mereka mendekat.
"Itu nenekku dia sakit sejak lama dan tidak bisa dibuat kaget. Tolong kerasama dengan ku." bisik pria itu kepada Cantik.
"Apa?!" Cantik terkejut dan juga bingung dengan apa yang dimaksud pria ini dengan tolong kerjasama dan apapun lah itu.
"Nenek, aku datang, maafkan aku yang datang terlambat. Aku membawakan apa yang nenek minta." tunjuk pria itu pada Cantik. Dari alat yang ada disana, ada dua kemungkinan. organ dan juga sesuatu yang lain tapi lebih banyak mendukung jika yang di maksud pria ini bawa adalah organ semua yang ada di dalam tubuhnya untuk di berikan kepada wanita tua itu. Cantik yakin dia akan sia-sia untuk operasi sekalipun, karena usianya sudah tidak muda lagi.
"Ini calon istrimu? Kali ini Nenek suka dengan pilihanmu."
What?! Ingin rasanya Cantiik melonjak, antara senang, tidak jadi di belah tubuhnya untuk diambil organnya, dan juga kaget karena nenek bilang ini calon istri?
"Iya Nek. Aku bawakan calon istri yang nenek minta. Aku harap kali ini nenek tidak menentangnya lagi." pria itu berkata dengan santai berbeda defab Cantik yang kini begemuruh rasa marah di dadanya.
Apa-apan pria ini? Dia sembarangan menculik orang untuk di perkenalkan sebagai calon istrinya? Berdosa sekali pria berdusta mengatakan hal itu pada sesesorang yang akan meninggal, apalagi itu adalah neneknya.
"Aku suka , Kemarilah nak." tangan kurus itu melambai-lamba memanggil Cantik untuk medekat ke arahnya.
Cantik hanya terdiam terpaku di tempatnya, dia tidak tahu harus melakukan apa.
"Kau dengar? Mendekat lah pada nenekku, dan sapa dia." titah pria itu degan tidak tahu malunya. Cantik ingin sekali mengomeli pria itu tapi tidak mungkin dia lakukan karena kini ada seorang tua yang ada di dalam sana.
"Siapa namamu Nak?" tanya nenek itu setelah Cantik berdiri di sampingnya. Nenek mengambil tangan Cantik dan mengelusnya.
"C- Cantik. Namaku Cantik." dengan terbata Cantik mengucapkan namanya.
"Nama yang bagus. Sungguh cocok dengan dirimu." Nenek tersenyum, garis kerut di wajahnya semakin tampak saat dia tersenyum ke arah Cantik, tapi tetap tidak mengurangi kecantikan seorang wanita tua itu di usianya yang kini sudah senja.
Cantik tersenyum dengan kaku dia harus bisa melewati semua ini dengan baik.
Awas saja pria ini, jika setelah ini dia tidak mengembalikan KTP ku!
***
"Mana KTP ku?" Cantik menadahkan tangannya pada pria itu setelah mereka baru saja naik kembali ke dalm mobil yang sama dengan yang tadi.
Pria itu mengeluarkkan sesuatu dari balik kemejnya dan menyerahkannya pada Cantik, dengan gembira Cantik merebut kedua benda tu dengan cepat dari tangan pria asing yang Canntik kira bernama Alvian itu, begitulah tadi nenek memanggil nama nya.
Anehnya pria ini tidak mau membuka maskernya sama sekali, meskipun tadi di sedang bersama dengan neneknya.
"Hei, Pak. Aku mau tanya padamu. Sedari tadi kau terus memakai masker apa kau tdak kepanasan?" tanya Cantik sambil memasukan dua benda yang penting itu ke dalam tasnya dan menyelipkannya ke dalam dompet.
"Tidak aku lebih nyaman dengan dirikku yang seperti ini. Apa kau keberatan?" tanya pria itu pada Cantik.
"Oh tidak sih, itu hak mu terserah padamu. tapi jika kau terus memakai masker orang lain akan mengira kalau wajahmu ini cacat." Cantik mengutarakan pemikirannya.
"Memang wajaku cacat, maka dari itu lah tidak ada yang cocok denganku. Maafkan aku yang mmaksamu untuk bertemu dengan nenekku." Cantik menatap pria tu yang kini sedang memaainkan hpnya, merasa tidak percaya pria menyebalkan ini bisa meminta maaf juga terhadap dirinya.
"Kalau kau meminta maaf, seharusnya kau pandang orang yang kau minta maafkan. Apa ibumu tidak mengajarimu? Kau pasti orang yang bandel dulu tidak pernah mendengarkan saat ibu mu mengajari sopan santun." Cantik kesal pria ini minta maaf, tapi pandangannnya fokus pada benda pipih di tangannya.
Mendengar ucapan wanita disampingnya, pria itu menoleh dan matanya yang bulat tiba-tiba saja menyipit, membut Cantik terpana dengan perubahan itu.
"Aku minta maaf!"
"Aku memang tidak pernah diajari ibuku karena beliau meninggalkan aku sedari kecil. Aku juga tidak pernah mendengar dia memarahiku, tidak pernah mendengar dia mengajariku. Hanya nenek ku lah yang selalu melakukan hal itu. Jadi aku minta maaf kalau aku tidak tahu sopan santun." ucap pria itu. Cantik merasa bersalah seketika mendengar ucapan pria di sampingnya ini.
"Maaf, aku tidak tahu," ujar Cantik meminta maaf. Dia jadi tidak enak hati dengan pria ini karena mungkin sudah mengunggah luka lama di hatinya.
"Tidak apa-apa. Kau tidak tahu, aku maafkan. " pria itu kembali dengan aktifiitasnya di layar pipih miliknya.
Tring.
Satu notifikasi terdengar di hp milik Cantik. Cantik tersadar dari rasa bersalahnya, dan mengabil hpnya dan membukanya. Dia terpaku saat melihat pesan dari aplikasi transaksi keuangan di hpnnya. Segera Cantik membukanya dan melotot saat dia tahu isi di dalamnya bertambah lebih banyak bahkan melebihi yang dia punya kemarin.
"Itu karena kau telah menolongku hari ini, kau sudah menjalankan peranmu dengan baik, Maaf aku membawamu dengan paksa. Aku sangat butuh bantuan orang lain karena desakan nenekku. Setidaknya sebelum Tuhan mengambil dia dariku aku bisa membuatnya tersenyum bahagia."
Cantik menatap pria itu denga ta sadar, sayu di sorot mata pria itu membuat Cantik merasa iba.
"Kau tidak perlu melakukan ini Pak Alvian." Cantik menyebut nama pria itu, di dalam transaksi tadi memang tertulis nama Alvian Rahandi, si pengirim uang yang bernilai lumayan itu.
"Tidak, kau pantas mendapatkannya, aku hanya mengambil hakku dengan perbaikan motorku, tapi aku juga sudah berjanji untuk memberikan padamu uang jajan jika kau mau menolongku."
Cantik tersenyum, rasanya lucu juga dengan apa yang terjadi barusan kepadanya. Hanya akting saja dia mendapatkan uang sangat banyak, apalagi kalau menikah dengannya.
Haisss jangan pikirkan itu. Kau bukan wanita matre Cantik! Ingat, kau baru saja dibayar untuk dosa mu, dia sudah menyuruh mu berbohong, dan kau tanggung sendirian dosa kebohonganmu hari ini!
Mengingat hal itu Cantik jadi lesu sendiri, antara senang dan tidak.
Mobil berhenti di depan kafe tempat tadi Cantik menunggu, Terima kasih atas bantuanmu tadi. Aku tertolong dan senang bisa mellihat senyum nenekku lagi." Nada suara pria itu terdengar lembut di telinga membuat Cantik semakin terhanyut dalam perasaan. Rasa penasaran dirinya akan pria ini kini tidak ada lagi, dia hanya mngangguk seraya pamit untuk keluar dari dalam mobil.
Alvian menatap kepergian Cantik yang kini telah masuk ke dalam mobilnya. Senyumnya terbit di balik masker yang kini masih dia pakai.
Pria yang telah bertahun-tahun menjadi asistennya ini hanya menatap sekilas bosnya. Dia lalu melirik mobil yang kini mulai melaju meninggalkan tempatnya.
Cantik telah sampai di rumah, ibu menyambutnya dengan rasa khawatir. Anak ini sudah pergi dari siang tadi dan dia baru kembali pada sore hari, takut jika apa-apa terjadi pada gadis ini.
"Cantik kau lama sekali perginya." tanya ibu saat Cantik menjatuhkan dirinya di kursi sofa.
"Iya, Bu. Maaf, dia orang yang sibuk dan aku lama juga menunggu dia." tutur Cantik sambil memejamkan matanya. Cantik tidak mau menyebutkan apa yang terjadi setelah itu. Antara malu, takut diejek, dan juga takut jika ibu akan kahawatir dengan apa yang terjadi dengan dia.
"Sudah dapatakan KTP dan juga ATM mu?" tanya Ibu lagi, ibu menyodorkan kue yang tadi dibuatnya ke depan Cantik.
"Hem sudah." Cantik mengambil satu potong kue buatan ibu dan memakannya dengan perlahan. Teringat akan ucapa pria itu yang sampai kini membuatnya terus teringat akan wajahnya.
Benarkah pria itu cacat?