DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 162



Axel menatap istrinya yang kini tengah tertidur lelap. Bekas-bekas air mata terlihat sangat jelas di wajah cantiknya yang terlihat lelah.


Menghela nafas berat. Axel mengusap kepala Renata dengan sayang. Tak menyangka jika Renata akan histeris seperti ini. Kejadian buruk yang terjadi lebih dari setengah tahun yang lalu membuat Renata trauma. Kecewa memang, tapi ini juga bukan kehendaknya. Axel yakin jika Renata juga tak mengingnkan ini terjadi.


Lebih baik Axel mandi saja, tubuhnya lelah setelah acara tadi siang, dan dia juga butuh melakukan hal yang lain. Dua kepalanya kini terasa sangat pusing.


Renata membuka matanya saat mendengar air dari kamar mandi mengucur. Dia mengubah tidurnya menghadap kearah kamar mandi, seakan ingin menembus pintu atau dinding untuk melihat suaminya di dalam sana. Air matanya mengucur kembali tanpa bisa dia atur. Memeluk selimut yang tadi Axel berikan untuknya.


"Maaf, Xel. Bayangan itu terlalu menakutkan." gumam Renata sedih. Dia sudah menguatkan hatinya tapi tetap tak bisa mengenyahkan bayangan itu dari pikirannya. Semakin Axel berbuat lebih, semakin bayangan itu kuat tebayang di otaknya.


Renata pun sama tersiksa, tapi apa yang bisa dia perbuat? Semoga saja Axel mau menerima kekurangannya yang bertambah satu ini.


...***...


Tiara baru saja keluar dari dalam rumah, dia berhenti melangkah dan menatap ke arah seberang. Apa dia tak salah lihat? Bukankah itu mobil Gio? Ada apa dia pagi-pagi datang kesini?


"Ah, gak mungkin. Mobil seperti itu banyak, kok!" Tiara bergumam lalu kembali melanjutkan langkah kakinya ke arah halte bis yang berjarak tiga ratus meter dari rumahnya.


Sampai di kantor. Tiara menatap meja bosnya yang masih kosong. Tersenyum sendiri. Bukan bos, tapi pacarnya. Tertawa dengan geli. Tapi tunggu dulu. Setelah urusan mereka dengan Lea dan Ken selesai. Sebelum itu Tiara tak ingin menaruh harapan besar pada pria itu dengan hubungan ini.


Menghela nafasnya kasar. Tiara segera duduk ke arah mejanya dan menyalakan komputernya dengan sudut bibir tesenyum.


Ada apa dengan dirinya? Kenapa mengharapkan pria itu hadir lebih cepat? Padahal biasanya dia berharap jika pria itu bahkan sakit atau apalah hingga tak bisa masuk kantor. Kejamnya dia mendoakan itu pada si bos. Biarkan saja. Siapa suruh dia galak dan menyebalkan!


Tiara memilih fokus pada pekerjaannya. Dia lebih baik mulai dan melakukan pekerjaannya dengan cepat, pekerjaan kemarin masih belum selesai. Jangan sampai nanti jika bosnya... pacarnya, umm... atasan saja lah, masuk kantor dan membuatnya sibuk tiga kali lipat.


...***...


Tok. Tok. Tok,


Gio terbangun saat mendengar suara ketukan dari luar jendelanya. Seorang pria tua dengan seragam orange memegang sebuah sapu di tangannya mengetuk jendelanya sekali lagi.


Dengan gerakan malas Gio menurunkan kaca jendelanya.


"Maaf mengganggu, Pak. Jalan ini mau dibersihkan, tolong bapak pindahkan sebentar mobilnya. Apakah bisa?" Bapak itu bertanya dengan ramah dan juga sopan. Gio hanya mengangguk masih dengan mata yang merah. Rasa kantuk masih menguasainya.


Melihat jam yang melingkar di tangan, Gio terkejut. Ini sudah jam setengah sembilan, dan dirinya baru bangun? OMG, padahal ini hari pertama Axel tak masuk kerja. Drinya harus menggantikan Axel untuk beberapa hari ke depan hingga adiknya itu pulang dari acara bulan madu mereka.


"Sial!" Berdecak dengan kesal. Sekali lagi menatap ke arah rumah Tiara, jam segini Tiara pasti sudah sampai di kantor. Kenapa dia bisa bangun sesiang ini? Dan pertanyaan utamanya, kenapa dia bisa tertidur di dalam mobil di depan rumah Tiara?


Entah Gio harus mengumpat atau bagaimana. Dia segera melajukan mobilnya ke arah apartemen. Mandi sebentar dan juga mengganti bajunya.


...*...


Tiara merasa bosan. Pekerjaan apa lagi yang harus dia lakukan? Semua sudah selesai, bahkan dia juga sudah menyelesaikan jadwal empat hari ke depan. Menyalin berkas dan juga mempelajari bahan untuk pertemuan klien besok hari.


Melirik ke arah meja Gio. Sudah hampir jam sepuluh dan pria itu belum datang juga. Apa yang dia lakukan? Apa pria itu ikut dengan CEO-nya untuk berbulan madu?Membayangkan jika Axel dan Renata berjalan di atas dermaga kayu sebuah danau yang hijau dengan bergandengan mesra, sedangkan di belakang mereka berjalan Gio dengan membawa dua koper, dan satu tas ransel di atas punggungnya. Katakanlah kalau Tiara kejam memikirkan hal itu, Tapi Tiara benar-benar membayangkan itu sekarang!


Apakah dia berdosa karena memikirkan hal menggelikan itu? Entahlah, dan biarlah...


Tiara bangkit dari duduknya, dia menyeduh kopi yang ada disana. Beberapa bulan bekerja disana membuat Gio faham dengan kesukaannya hingga menyediakan kopi dengan salah satu nama hewan Indonesia.


Pintu terbuka saat Tiara menyesap kopinya dengan perlahan. Gio masuk ke dalam kantor dengan peluh di keningnya. Terdiam di depan pintu dengan wajah seperti orang b*doh, menatap Tiara bak model iklan kopi yang seksi dan rupawan. Terpana. Tak bisa mengalihkan pandangannya ke arah lain. Padahal bukan kali itu saja Gio melihat Tiara sedang seperti itu.


Mengusap tengkuknya yang tak gatal, Gio masuk ke dalam sana mendekat kepada Tiara.


"Kamu sudah sampai?" pertanyaan yang bodoh! Tentu saja bahkan sudah sebelum jam delapan tadi. Tiara ingin mengumpat bos sekaligus kekasihnya, dia sampai menunggu dengan bosan karena Gio yang belum datang.


"Aku kira Bapak tak akan masuk kerja. Ikut Pak Axel berbuan madu." entah itu candaan atau sindiran karena dirinya baru sampai.


"Maaf, aku baru bangun tidur."


"Baru bangun? Semalam ngapain aja? mengintip Pak Axel malam pertama?" Entah kenapa menunggu membuat Tiara jadi emosi begini, tidak seperti biasanya yang hanya menunduk, patuh dan juga takut. Dia salah ya tentu slah, dia benar masih tetap saja di salahkan.


"Iya maaf, maaf. Semalam aku gak bisa tidur. Aku.. Kepikiran kamu.." lirih Gio dengan wajah bersemu merah. Gio sampai memalingkan wajahnya ke samping karena merasa malu jika Tiara melihat perubahan warna di wajahnya.


Si bos yang penuh wibawa, disegani, dan ditakuti oleh asistennya kini hanya bisa tersenyum dengan malu di tatap seperti itu, tingkahnya yang so cool dan menyebalkan kali ini malah seperti anak TK yang takut di marahi guru karena terlambat masuk ke dalam kelas.


Tiara menarik dua sudut bibirnya ke samping. Ada rasa indah di dalam hatinya saat Gio mengatakan hal itu. Kepikiran kamu .... So sweet...


"Mulai besok pagi aku akan jemput kamu ya." ucap Gio pada akhirnya.


Tiara tersenyum mengangguk kecil, perjalanan cintanya apakah akan di mulai besok?


.


.


.


.


.


Tunggu dulu!


"Soal Alea bagaimana?" Tiara bertanya dengan sorot mata yang sendu.


"Aku akan hubungi dia kalau nomornya sudah akktif."


"Mereka pergi kemana ya? Dari kemarin nomornya gak aktif?" Tiara seakan bertanya pada dirinya sendiri. Pandangannya menatap pada cairan berwarna coklat yang ada di tangannya. Masih mengepulkan asap tipis dari permukaannya.


Gio mendekat ke arah Tiara, mengambil cangkir kopi itu dan menyimpannya ke atas meja. Lalu menarik tubuh Tiara agar mendekat dengan tubuhnya. Dia simpan kedua tangan Tiara melewati pundaknya, sedangkan kedua tangannya dia simpan di pinggang sang kekasih, menempelkan kedua kening mereka hingga hidung mereka saling bertabrakan.


"Jangan risau, aku akan uruskan semua itu. Kamu harus percaya sama aku, ya. Kita jalani ini bersama, oke?" ucap Gio menenangkan Tiara. Tiara mengangguk.


"Morning kiss?" Gio menatap kedua mata Tiara.


"Ini sudah siang, Pak Gio. Dan jaga sikapmu. Kita ada di kantor!"