
"Temani aku ketemu kak Axel. Aku gak ada teman. Kak Kenzo tinggalkan aku dan malah menjemput Tiara. Ayo!" dengan terpaksa Gio menurut saat Alea menarik tangannya dengan keras ke dalam aula hotel temat pernikahan itu di laksanakan.
Gio lupa, ini satu lagi wanita yang ada dalam daftar Gio tak bisa jauhi, tepatnya gadis ini yang tak bisa menjauh darinya.
Gio dan Alea berjalan menuju ke dalam hotel. Gadis berparas manis itu bergelayut manja di lengan Gio. Senyumnya sangat lebar dengan raut wajah yang penuh dengan kebahagiaan. Kapan lagi dia bisa jalan dengan pria yang disukainya? Memeluk erat lengannya, menjadi perhatian publik akan kecantikan dan ketampanan dia dan juga pria beku ini. Oh membicarakan beku, semakin Gio beku semakin dia mengagumi pria ini. Tantangan!
Tiara terdiam saat melihat Gio yang kembali masuk. Namun kali ni dia tidak hanya sendirian. Pria itu bersama Alea. Ada secuil rasa di dalam hatinya yang tak rela pria itu bersama dengan sahabatnya. Padahal terakhir kali mereka bicara Tiara akan mendukung semua yang Alea akan lakukan untuk mengejar Gio pria yang sudah sangat lama dia kagumi.
"Hei, Ada apa?" Kenzo bertanya saat melihat Tiara hanya diam.
Tiara menoleh ke arah Ken dan menunjuk dua orang itu dengan dagunya. "Pak Gio dan Lea."
Ken ikut menatap ke arah yang sama, adiknya dengan senyum lebar bahagia berjalan dengan pria yang dia sukai. Ken tersenyum kecut. Meski mereka bersahabat tapi jika Gio menjadi adik iparnya... Hah...! Ya sudahlah, hanya saja apakah Gio akan meneriman Lea? Mencintai adiknya seperti Lea mencintainya? Ken tak mau berurusan dengan hal itu. Biarkan saja Lea berjuang dengan caranya sendiri, dia tak mau ikut campur.
"Oh. Aku kira dia gak akan datang." Ken berkata dengan lirih, masih menatap adik kesayangannya.
"Aku gak tahu kalau Lea akan datang. Dia gak telpon aku!" Tiara menoleh ke arah Ken, tak mungkin kalau Ken tak tahu dengan kepulangan Lea.
"Dia mendadak datang semalam. Aku juga tak tau padahal kemarin dia bilang gak akan hadir di pernikahan ini." Ken menjelaskan.
"Lau kenapa dia tadi gak bareng kita?" tatapan Tiara membuat Ken tersenyum meringis tanpa rasa bersalah. Mata Tiara di buat membulat. Dia kemudian tau Ken pasti meninggalkan adiknya hanya untuk menjemputnya kemari.
"Mas Ken tinggalkan dia?" senyum Ken semakin lebar, dia lalu mengangkat kedua jari tangannya membentuk V.
"Dia bawel kalau aku ajak barengan!"
Tiara menepuk dahinya. "Kakak macam apa kau ini? Meninggalkan adiknya padahal tujuan kalian kan sama!" Tiara mendelik kesal pada Kenzo.
"Hehe." lagi-lagi Ken hanya tersenyum tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Kita makan, yuk. Aku lapar." Ken lalu menarik tangan Tiara menuju meja panjang, ada berbagai hidagan yang tersuguh disana. Dia mengambilkan beberapa makanan untuk Tiara dan juga minumannya.
"Ra, coba deh ini!" Ken menyodorkan makanan ke dekat mulut Tiara.
Tiara mengangkat tangannya untuk mengambil kue yang ada di tangan Ken, tapi pria itu menjauhkannya dengan raut muka di buat cemberut.
"Aku yang suapi. Aaaa...." Ken menyuruh Tiara membuka mulutnya. Tiara tahu sifat pria ini, gigih dan tak mau di bantah. Sama seperti bosnya.
Tiara membuka mulutnya, dia sedikit malu karena banyak orang yang melirik ke arah mereka dengan senyum-senyum, ikut malu dengan perlakuan sweet yang Ken berikan pada Tiara.
Dari kejauhan, Gio melihat semua yang Ken lakukan pada Tiara. Pria itu terihat senang memperlakukan Tiara dengan sangat spesial. Tangannya terkepal di kedua sisi tubuhnya. Dia benar-benar tak tahan.
"Eh... Kak Gio mau kemana?" Alea berseru memanggil Gio saat pria itu meninggalkannya bersama dengan kedua mempelai. Tapi yang di panggil tak menjawab atau menoleh sedikitpun. Pria itu masih tetap melangkahkan kakinya menuju dua orang yang telah membuat hatinya tak karuan.
Alea hendak menyusul Gio, tapi kemudian dia berhenti saat melihat apa yang pria itu lakukan.
Matanya berubah panas, dadanya perlahan naik turun.
Axel yang melihat kemana Gio pergi hanya bisa menghela nafas dengan berat. Ini pasti berat untuk Alea, gadis ini menyukai Gio sedari dulu. Dan kini dia harus patah hati dengan apa yang dia lihat. Apalagi menurut cerita Gio, dia dan Tiara adalah sahabat semenjak SMA.
Gio terus berjalan ke arah yang dia tuju. Dia tak tahan lagi. Semenjak kedua orang itu datang, perasannya sudah tak karuan. Rasa yang ada di dalam dirinya bagaikan gunung yang sebentar lagi hampir meletus dan mengeluaran lahar panasnya.
Tiara terkejut hingga piring yang tengah di pegangnya terjatuh ke lantai, pecah. Beberapa tamu yang ada di sana mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara.
Gio menarik tangan Tiara membuat gadis itu terbangun dari tempatnya duduk.
"Pak Gio. Apa yang bapak lakukan?" tak mengerti dengan apa yang bosnya ini perbuat, tapi hampir semua mata sudah menatap ke arah mereka berdua. Malu, iya. Karena pria in telah membuat kekacauan.
"Ikut aku!" Gio menarik tangan Tiara untuk mengikutinya, tapi Ken menahan tangan Tiara yang lain.
"Hei apa yang akan kau lakukan pada Tiara, kau akan membawanya kemana?" Ken berang, tak terima Gio akan membawa paangannya pergi begitu saja.
"Kau tidak bisa seenaknya! Dia datang bersamaku, jangan seenaknya membawa dia pergi! memangnya siapa kau? kau hanya bosnya, bukan kekasihnya."
Mendengar hal itu kemarah Gio sedikit mereda, benar dia hanya bosnya bukan kekasihnya. Pegangan tangannya pada Tiara melemah. Bisa Tiara rasakan juga jika cengkeraman tangan pria itu tak sekuat tadi.
Ken yang marah pasangannya akan di rebut menarik Tiara hingga pegangan di tangan Gio terlepas.
Ken maju satu langkah hingga dekat dengan Gio. Dia menatap Gio dengan tatapan marah.
"Tiara pasanganku sekarang atau seterusnya, kau tak bisa merebut dia dariku, sekarang, nanti atau ampai kapanpun. Karena aku cinta dengan dia. Aku yang akan menikahi dia!"
Mata Tiara membulat saat mendengar ucapan pria itu, mulutnya terbuka. Tak menyangka jika pria yang telah dianggap kakak olehnya itu tengah mengungkapkan rasa hatinya, entah ini benar atau tidak. Tapi nada suara dan sorot matanya menyiratkan kalau dia tidak sedang main-main.
Gio menatap nyalang pada Ken, dia benar-benar tak suka jika ada yang mencintai asistennya. Katakanlah ia egois. Tak apa. Tapi dia tak suka. Benar-benar tak suka.
Ken membalikkan badannya, dia meraih tangan Tiara dan membawa gadis itu pergi. Tiara yang belum kembali kesadarannya hanya bisa menurut tanpa dia sadari.
Gio terdiam, menatap lantai yang ada di bawah kakinya. Perasannya tak karuan kali ini. Dia merasa hancur untuk yang kedua kali, bahkan ini lebih sakit dari saat dirinya dulu ditinggalkan.
Menatap pada dua orang yang kini menjauh darinya. Dia tak terima, rasa di hatinya tak bisa terbendung lagi. Segala rasa pahit dan sakit bergumul di dalam sana.
Tanpa ia sadari kakinya melangkah mendekat ke arah dua orang tadi dengan cepat. Dia menarik tautan tanga Ken hingga terlepas dari tangan Tiara dan lalu melayangkan tinjunya pada pria itu hingga terjengkang ke lantai.
Tiara memekik, terkejut dengan ap yang terjadi. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Benar-benar tak menyangka dengan apa yang terjadi. Gio bisa melakukan hal kekerasan seperti ini.
"Pak Gio apa yang kau lakukan?!" Tiara brseru, dia mendekat ke arah Ken bermaksud untuk membantu pria itu berdiri. Tapi sebelum dirinya mendekat ke arah Ken, tangannya sudah ditarik Gio untuk menjauh.
"Aku katakan padamu Ken. Aku mencintai Tiara. Dan kau, jangan sekali-kali mendekati dia lagi!!" teriak Gio dengan nada penuh amarah, lalu membawa Tiara pergi dari sana.
Tiara tak percaya dengan apa yang dia dengar. Hari ini dia mendengar dua orang pria menyatakan perasaannya.
Tiara tersadar, dia menarik tangannya dari Gio. Namun, pria itu tak melepaskannya sama sekali. Dia merasa kasihan dengan Ken yang masih terduduk di lantai. Gio dengan cepat membawa gadis itu pergi.
Dua orang gadis yang melihat kejadian itu terluka hatinya. Perasaan Alea sudah tak karuan semenjak Gio menarik tangan Tiara tadi. Dan satu lagi, Tiana. Dia baru saja turun dari lantai atas untuk kembali bergabung dengan yang lain. Tujuan lainnya juga untuk menyatakan perasaan hatinya kalau dia akan move on dan meminta Gio untuk membantunya. Mungkin jika Gio membantu dirinya, dia akan lebih cepat melupakan Axel.
Tapi apa yang dua gadis itu dengar barusan membuat keduanya patah hati.
Axel mendekat ke arah Ken, dan membantu pria itu untuk bngkit.
"Sialan kau!" cerca Ken meninju bahu axel. "Gara-gara kau aku jadi bonyok! Aku sudah tak tampan lagi!" Ken mengusap rahangnya yang linu. ia membuka mulutnya untuk merasakan apa rahangnya tak bergeser, mengingat pukulan Gio yang keras seperti tadi. Gio si wakil CEO, sekaligus asisten dan tukang pukul pengantin pria ini.
Axel hanya tertawa. "Maaf. maaf. Aku akan rekomendasikan kau untuk jadi wakil direktur rumah sakit jika mereka bersama."
Ken mendecih sebal. Jika bukan karena di janjikan posisi itu dia tak akan mau memainkan peran seperti ini. Menyakitkan.
Ken masih memegang rahangnya yang sakit. Setelah pulang dari dini dia harus memeriksakan diri ke rumah sakit. dan akan meminta Axel untuk mengganti rugi atas kejadian pemukulan ini.
"Aku akan kirimkan total biaya perawatanku nanti, dan kau yang akan membayarnya!" ujar Ken pada Axel. Axel mengangkat kedua bahunya. Tanda tak keberatan. Apapun dan berapapun jumlah yang membuat kakaknya bahagia, dia akan lakukan. Gio berhak bahagia.
Anye, Devan, Melati dan juga para sahabat, tak lupa dengan para tamu yang ada disana menatap kepergan Gio yang masih menarik Tiara. Anye hampir saja melangkah untuk menghentikan Gio, jika saja Devan tidak melarangnya.
"Jangan sayang. Biarkan mereka."
"Tapi Gio..."
"Sudah. Gio tak akan melakukan hal kekerasan pada wanita yang di sukainya." Devan menenangkan sang istri. Dia sepertinya tahu apa yang terjadi melihat Axel yang hanya diam bahkan tersenyum seperti dia sudah merencanakannya.
Anye hanya terdiam. Dia menurut saja. Semoga saja Gio tak melakukan hal apapun yang buruk pada gadis itu.