
Tiara memandang pada langit sore yang kini telah berubah warna indah dengan lembayung senja. Angin yang berhembus pelan membelai kulit dan rambutnya. Ia biarkan saja rambutnya yang tergerai, kini melambai-lambai seiring dengan hembusan angin. Tangannya terulur seakan ingin menggapai dan menggenggam bentuk angin. Mata Tiara tak beralih dari sinar yang kini mulai menghilang di balik ufuk.
Tiara terisak, matanya telah merah sedari tadi. Teringat dengan ucapan kakaknya yang semalam mengatakan jika dia membutuhkan wali dan juga penghantar untuk dirinya.
Merasa tak tahan dengan rasa di dalam dada. Tiara menarik tangannya lalu berjongkok, memeluk lututnya sendiri. Menempelkan keningnya pada lutut dan kemudian terisak pelan. Sungguh Tiara sangat rindu dengan kakaknya itu, tapi rasa bencinya sangat besar hingga tidak mau mengalah kepada rasa rindunya.
"Kenapa dia sangat jahat?" gumam Tiara. "Bertahun-tahun meningalkan aku dan ibu dan sekarang dia muncul lagi. Tidak cukupkan dia membuat kami menderita? Tidak cukupkan uang yang aku berikan kepada dia? Dia itu laki-laki. Harusnya dia bisa berpikir untuk tidak menyusahkan kami!" ucap Tiara lirih.
Cantik menatap Tiara dengan iba. Dia tidak berani mendekat ke arah Tiara karena dia tahu Tiara butuh waktu untuk sendiri. Hanya butuh teman untuk mendengar keluh kesahnya. Menemaninya dikala sedih.
Tiara terus saja meracau dengan kekesalan di dalam hatinya. Mengeluarkan semua rasa yang ada di dalam sana. Cantik hanya terdiam mendengarkan. Namun, di dalam hati dia merutuki sesuatu. Kenapa bisa pria itu mendekat dan bahkan masuk ke dalam rumah? Apa yang dilakukan oleh orang yang ditugaskan Gio pada mereka? Dasar tidak berguna!
"... aku kesal dengan dia, tapi aku juga rindu dengan dia...hiks..." Tiara menyusut air dari pelupuk matanya. Dia bangkit berdiri, menatap Cantik yang juga tak jauh berdiri dari sana.
Cantik hanya tersenyum tipis. Dia tidak mau berkomentar atau bicara yang lain. Biarkan saja Tiara menemukan jawabannya sendiri. Itu permasalahan keluarga yang rumit! Lebih baik berikan saja sepuluh musuh untuk dia hajar daripada mendengar curhatan yang meminta jawaban membingungkan ini
"Ayo kita pulang!" ajak Tiara pada Cantik. Cantik menghela nafas dengan lega. Dia kira Tiara akan meminta jawaban atas pertanyaannya tadi.
"Kau sudah merasa lebih baik?" Tanya Cantik. Tiara menganggukkan kepalanya.
"Ayo. Ongkos taksi biar aku yang bayarkan!" ucap Cantik. Tiara tersenyum tipis pada akhirnya. Cantik dan Tiara meinggalkan area atap gedung tempatnya bekerja, turun menggunakan lift.
"Kalian belum pulang?" teriak suara berat pria dari dalam mobil.
"Kami baru turun. Apa anda mau antarkan kami pulang?" tanya Cantik, bercanda sebenarnya, tapi tak ia sangka Romi malah membukakan pintu depan mobinya.
"Ayo masuk!" titah Romi.
"Eh aku hanya bercanda! Kami akan pulang pakai taksi saja!" Cantik merasa malu, melambaikan kedua tangannya dengan cepat di depan dada seraya meringis malu.
"Sudah kalian masuk saja! Aku akan antar kalian pulang!" Romi tak terima dengan penolakan. Dia menggerakkan kepalanya, mengisyaratkan untuk kedua wanita itu untuk masuk.
Cantik menoleh menatap Tiara dengan bingung dan tak enak hati. Harusnya tadi dia tiak mengatakan hal itu, tahu sendiri jika Romi suka dengan Tiara. Malah dia seperti sedang memberi pria itu jalan untuk mendekati Tiara. Akhh... Ini tidak benar!
"Aku ingin di belakang saja." Bisik Tiara pada Cantik.
"Oh... Oke!" Cantik membukakan pintu belakang untuk Tiara, Tiara masuk. Cantik kembali menutup pintu dengan perlahan. Romi menatap Tiara dengan heran. Ada rasa kecewa juga Tiara duduk di kursi belakang. Romi menatap Cantik yang kini duduk di kursi depan dan juga memassang seatbelt di tubuhnya.
Sial!! Ada apa dengan dadakku?! rutuk Romi saat Cantik selesai memasang seatbeltnya. Wajah imut gadis itu terlihat berbeda kini tanpa kacamata.
Sial. Sial. Sial!!! Berhenti untuk kagum dengan dia!