DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 94 Spcial Tiara



Tiara dan Gio sudah kembali ke rumah. Urusan proyek ia serahkan saja kepada orang kepercayaan mereka. Gio harus kembali ke perusahaan.


Masih dengan drama yang sama seperti saat mereka berangkat kemain lusa. Gio jadi korban keganasan Tiara. Luka kemarin saja masih membekas, dia harus rela luka itu bertambah lagi di tempat yang sama. Haisshhh....


(Sabar Bang Gio)


Mobil sudah sampai di depan rumah Tiara. Dia mengangkat kopernya dan membuka pintu pagar.


"Istirahatlah, kamu pasti capek." ucap Gio sebelum Tiara masuk ke dalam sana. Tiara mengangguk. Dia menunggu Gio hingga pergi dari hadapannya. Mobil yang di kemudikan sopir keluarga Aditama segera berlalu meninggalkan Tiara.


Aaaa.... Akhirnya bisa pulang juga! Tapi Ibu masih belum pulang. batin Tiara. Dia melihat jam di dinding. Masih jam sepuluh pagi. Biasanya ibu akan pulang di jam sebelas, atau paling lambat di jam satu siang. Tiara tidak sabar, ibu pasti akan senang dengan kepulangannya.


Dia kembali menyeret kopernya ke arah kamar. Berbaring sebentar untuk meluruskan tulang punggungnya.


"Ahhh nyaman sekali..." meski kasurnya tak senyama di hotel, tapi tentu saja miliknya lebih nyaman. Gratis!


Tiara membuka hpnya melihat-lihat hasil karyanya saat Bali. Sayang sekali dia hanya punya beberapa foto saat dirinya di pantai. Keinginan untuk meminta sedikit waktu bersantai ia batalkan karena Gio yang tertimpa kecelakaan.


"Gak jadi renang deh!" sesalnya.


...***...


Tiara merasa sangat bosan diam di rumah. Gio menyuruhnya untuk istirahat setelah perjalanan bisnis mereka.


Dia tidak bisa tidur seharian ini, hanya berguling ke kanan dan ke kiri. Menonton drakor. Bosan. Mengemil. Sudah. Lihat medsos. Sudah. Tidak ada yang menarik!


"Ara!" suara ibu terdengar memanggil dari luar. Ibu sudah bangun ternyata. Setelah tadi pulang dari berjualan mereka sempat mengobrol sebentar lalu ibu pamit untuk tidur siang. Hampir setiap hari ibu bangun di jam tiga pagi untuk menyiapkan daganganya.


"Ya Bu!" Tiara balas berteriak, dia lalu bangkit dan keluar dari dalam kamar.


"Bantu ibu siapkan makan malam. Ibu gak bisa masak, ada pesanan kue lapis untuk pengajian nanti malam. Sayura matang habis terjual tadi siang." ucap ibu.


"Oke!" Ucap Tiara lalu mengambil jepitan rambutnya dan menggulungnya ke atas.


Beberapa hidangan masakan tersedia di atas meja, membuat ibunya menggelengkan kepala. Kebiasaan! Kalau yang masak Tiara ya begini, tidak cukup satu masakan. Telur dan tahu balado, tempe goreng, ikan asin, sambal, dan ada juga sayur asem.


"Sayur asem itu cocoknya buat siang, Ra. Seger!" ucap Ibu tapi beliau juga mengambil sendok dan menikmati masakan putrinya.


"Kan bisa buat besok sarapan. Ibu tidak usah masak lagi buat sarapan."


"Tetap saja ibu harus masak buat jualan!"


"Bu, berhenti saja jualannya ya Bu. Kan cape banyak jalan masuk-masuk gang. Lagian kan Tiara udah dapat penghasilan, Bu."


"Ibu masih ingin cari uang, Ibu masih kuat kok!" ucap ibu.


"Iya ibu masih kuat, tapi masa iya ibu terus jualan sementara anaknya juga udah kerja dapat gaji lumayan, nanti apa kata tetangga Bu. Dikira Ara gak pernah perhatiin Ibu."


"Biarkan saja mereka mau bicara apa. Ibu masih mau berusaha sendiri. Selama ibu masih kuat untuk cari rezeki. Mumpung badan Ibu sehat, ibu gak mau cuma diam di rumah." tutur ibu.


"Tapi..."


"Ibu gak apa-apa Ra. Ibu kuat. Kamu tahu sendiri kan kalau ibu diam dan kerja seperti apa? Ibu sudah biasa dari dulu"! Kali ini Tiara tidak bisa membantah. Mungkin karena kebiasaan ibu yang suka bekerja keras, maka dari itu ibu akan mengeluh bosan dan juga pegal karena badan tidak bergerak.


"Kalau Tiara bisa buatkan ibu warung makan, Ibu mau gak berhenti keliling?" tanya Tiara. Mungkin pilihan ini akan lebih mudah ibu pilih daripada ibu harus berhenti sama sekali."


"Warung makan dimana? Modalnya itu berapa? tahu sendiri kan sewa toko berapa sekarang ini. Mahal! Sudah ah. Jangan ribut masalah ini. Ayo kita makan, ibu lapar!"


Debat berakhir. Mereka makan malam berdua. Hanya berdua. Ibu menatap nanar pada bangku kosong di samping Tiara. Matanya mulai memanas dan berair.


"Sudah lah Bu. Jangan di fikirkan lagi orang yang sudah tidak peduli dengan kita." Tiara dengan ketusnya berbicara pada Ibu.


Bukan dia tak sopan, tapi dia merasa ibu sia-sia jika mengingat kakaknya yang kini menghilang entah kemana, pergi tanpa pamit dan meninggalkan mereka hanya berdua demi wanita yang tak baik. Tak ada kabar untuk sekedar menanyakan bagaimana ibu atau dirinya. Masih hidupkah atau tidak? Lelaki yang seharusnya menjadi pelindung dan tulang punggung keluarga menggantikan ayah mereka yang sudah tiada.


Ibu menyusut air matanya.


"Dia tetap anak ibu juga."


Hilang sudah selera makan Tiara saat mendengar ibu berbicara seperti itu.


"Anak macam apa yang lebih memilih wanita tak jelas daripada ibunya sendiri!" cecar Tiara. Dia bangkit berdiri dan melangkah dari sana.