DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel Gio part 218



Gio kembali ke Kalimantan. Berat rasanya meninggalkan Tiara tapi mau bagaimana lagi? Pekerjaan nya tidak bisa di tinggalkan terlalu lama.


Tiara harus kembali sendiri. Tapi tak mengapa, Gio kembali berjuang untuk dirinya. Bukan untuk meninggalkannya tanpa kepastian seperti dulu.


Hari-hari Tiara lewati dengan sepi. Rasa rinduseringkali menggelayuti harinya. Meski kini dia bisa menelpon dan melakukan panggilan video dengan calon suami tapi rasanya masih kurang.


"Aku sudah rindu. Apa Kita menikah saja besok?" Gio berkata saat di telfon semalam. Meskipun iya Tiara sangat mau, tapi keputusan para tetua menikahkan mereka masih empat bulan lagi. Lama sekali!


"Dengar apa mama bilang kemarin? Kalau tidak menurut kau akan kualat!" Gio terkekeh saat Tiara mengingatkan.


"Aku akan sabar menunggu kepulanganmu G." hanya itu yang Tiara katakan sebelum Gio menutup telponnya.


...***...


"Tiara! Saya dengar kamu sudah di lamar ya?" tanya seseibu saat Tiara berbelanja sayuran di sebuah warung kecil tak jauh di rumahnya. Ini hari minggu Tiara ingin sekali memasak untuk membunuh rasa jenuh.


"Waaah beneran? Orang mana? Kerjaannya apa?" seseibu yang lain menimpali, beberapa yang lain menatap Tiara.


"Beneran itu Tiara?" seseibu dengan style paling bagus diantara yang lain juga ikut bertanya.


Tiara hanya tersenyum saja kepada semua yang ada disana. Kabar cepat menyebar entah siapa yang pertama mengatakannya.


"Waaah saya dengar dia bos ya? Beruntung sekali. Tapi hati-hati loh Tiara, kalau bos itu kan biasanya suka ada main sama sekretarisnya!" seseibu pertama berucap sambil melirik yang lain, seperti sedang menyulut pembahasan ini supaya yang lain berkomentar.


"Waah iya itu. Banyak yang seperti itu kan ya?" seseibu yang lain menimpali.


"Ah enggak tentu juga, lah. Jangan samakan orang lain seperti dalam cerita novel yang ibu Lia baca!" seorang ibu muda menyanggah ucapan yang dipanggilnya ibu Lia.


"Tapi memang banyak yang seperti itu kan? Anak saya suka bercerita seperti itu tentang bosnya. Dia ada main dengan sekretaris. Mereka sangat akrab sekali sampai keluar kota bersama!" ibu Lia tak mau di salahkan.


Tiara hanya diam. Memilih beberapa bahan masakan untuk ia masak hari ini.


"Ke luar kota bersama kan belum tentu juga ada affair!" ibu muda tadi tak setuju dengan ucapan Ibu Lia tadi.


"Tapi kata anak saya, sekretaris itu seringkali kepergok tengah mesra sama bosnya masa sih gak ada affair?!" tetap tidak mau kalah. Ibu yang satu ini memang jagonya menggosip.


Padahal dalam hati Tiara ingin sekali menutup mulut Bu Lia itu dengan ikan asin mentah yang ada di hadapannya. Pantas saja waktu itu ibu mengatakan keresahannya, pasti karena mendengar mulut tetangga lemes seperti ini. Belum menikah saja. cobaannya sudah berat. Apalagi nanti. Pasti ibu berfikir seperti ini.


"Memangnya kenapa sih Bu? Mau dapet bos, mau enggak hati kan gak bisa di bohongi. Kalau tidak cinta ya buat apa diterima." ibu muda yang tadi berbicara dengan nada tak kalah sinis, tak suka dengan ucapan Bu Lia yang selalu saja menjelek-jelekan orang lain. Bisik-bisik membenarkan juga terdengar daro ibu-ibu yang lain.


"Saya kan cuma kasihan saja. Si Reno dari dulu kelihatannya suka sama Tiara. Jauh sebelum ini kan? Bahkan saya dengar dari ibunya Reno suka Tiara semenjak SMA loh. Cuma Tiara kan sukanya menolak terus. Mungkin karena bukan levelnya kali!" Bu Lia berbicara lagi membuat Tiara meradang.


"Ya memang bukan level saya. Kalau Bu Lia kasihan sama si Reno kenapa tidak jodohkan saja Reno dengan putri ibu. Biar kalian bisa ikut enak. Biar Fani gak usah kerja. Biar Fani juga keangkat derajatnya. Mobil dia punya, dan pasti kartu di dompet nya juga banyak. Ibu juga pasti akan kecipratan tuh kesenangan dari Reno!" ucap Tiara kesal.


"Ah tidak. Si Fani sudah punya calon lain." hanya itu yang diucapkan Bu Lia.


"Kenapa tidak dengan Reno saja? Dia kan meski anak bengal suka main perempuan yang penting duitnya banyak!" tambah Tiara lagi. Dengan santai memilih udang segar.


"Ehh saya bukan cari menantu yang banyak duit kok. Saya cari menatu yang soleh!" ucap Bu Lia lagi dengan tersenyum canggung.


"Ya kalau begitu sama, Bu. Saya juga cari pasangan yang soleh. Yang baik. Terlepas dia bos atau apa itu kan hanya bonus. Saya tidak peduli mau siapa dia. Apa saja kerjaannya yang penting dia sayang sama saya juga ibu. Kalau saya tidak mengenal calon suami saya dengan baik saya juga pasti belum mau lah dilamar!" ucap Tiara membuat Bu Lia salah tingkah.


"Jangan marah Ra. Saya kan cuma mengutarakan apa yang anak saya lihat pada bosnya . bukan berati calon suami kamu sama." bu Lia membela diri.


"Oh ya? Tadi ibu bilang biasanya, berarti semua bos sama saja kan? Kalau memang bos seperti itu ya gak apa-apa lah, mereka kan punya kedudukan. Apa kabarnya anak ibu yang gak kerja dan juga suka main perempuan?" Tiara men-skak mat ibu Lia hingga wanita pauruh baya itu terdiam malu.


"Ini semua berapa?" tanya bu Lia pada pemilik warung dan segera di hitung semua belanjaannya.


"Empet puluh dia ribu." jawab di pemilik warung. Bu Lia segera mengeluarkan uang dan menyerahkannya pada pemilik warung dengan muka merah padam. Segera dia berlalu tanpa pamit dan tak menghiraukan panggilan pemilik warung yang akan memberikan kembalian.


"Ibu Lia itu memang keterlaluan. Dikira sama kali ya bos seperti apa yang dia pikirkan!" ucap seseibu yang lain.


"Iya tuh padahal kan gak usah ikut campur urusan orang. Sebelum ngomongin orang kenapa gak lihat dulu ya anaknya bagaimana!" yang lain menimpali.


"Yang sabar ya, Ra. Jangan di dengarkan. Semua yang kamu lakukan pasti sudah baik untuk kamu!" ibu muda yang tadi membela Tiara mengelus lengan Tiara. Tiara tersenyum pada wanita itu dan lalu membayar barang belanjaannya.


Tiara sampai di rumah. Jelas saja ibu bilang seperti itu kemarin. Kasihan sekali ibu. Pasti banyak sekali yang dipikirkan hingga akhirnya mengatakan hal itu pada Tiara. Orang lain memang terkadang begitu. Seperti tidak rela saat dirinya tersaingi atau terkalah kan oleh orang lain.


Tidak ingin terlarut dalam pikirannya. Tiara segera memasak sebelum nanti ibu pulang dari jualannya.