DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
249



Seperti apa yang dikatakan Cantik semalam, paginya Tiara berbicara dengan ibu dan setelah itu dengan Gio. Mereka menyambut baik apa yang akan dilakukan Tiara.


Hari ini Tiara datang ke kantor bersama dengan Cantik, senyum terkembang di bibirnya saat beberapa orang yang ada disana menyapanya. Kepalanya terangguk dengan rasa hormat pada beberapa orang yang telah membersamainya selama ini.


Tiara mengetuk pintu ruangan atasannya, setelah diizinkan masuk dia dan Cantik duduk dan mengatakan apa yang menjadi tujuannya datang ke sini.


"Sayang sekali kau mau keluar, padahal pekerjaan mu sangat bagus dan aku juga atasan senang dengan kinerja mu." ucap wanita cantik yang terlihat glowing dan elegan itu.


Tiara tersenyum. "Aku akan mengikuti suamiku ke Kalimantan." Tiara berujar.


"Jauh juga ya? Memang suamimu kerja apa disana?" dia bertanya.


"Batu bara." jawab Tiara singkat.


Wanita itu melihat Tiara dengan tatapan mengejek, satu alisnya terangkat ke atas dengan senyuman menyebalkan.


"Kau yakin mau mengikuti sumimu yang bekerja di batu bara? Gaji berapa dia untuk menghidupi mu disana?" Cantik menahan tawa mendengar ucapan atasannya ini. Dia menanyakan gaji. Apa ia tidak tahu kalau gaji suami Tiara bisa untuk membeli armada pesawat?


"Anda tidak tahu saja, Bu Kalau suami Tiara ini. Aw..." Cantik menoleh dengan cepat ke arah Tiara yang mencubit pahanya dengan keras. Tiara melotot meminta Cantik tidak berbicara lagi.


"Sakit, Ra."


Atasannya itu menatap heran pada keduanya.


Tiara tersenyum kepada atasannya itu dengan canggung, begitu juga dengan Cantik.


"Setidaknya gaji suamiku cukuplah untuk makan dan juga menabung. Bisa juga untuk pulang kampung jika waktunya tiba. Bisa tolong cepat uruskan pengunduran diriku ini? Aku sudah harus berangkat menyusul suamiku siang ini." ucap Tiara meminta atasannya itu menyetujui surat pengunduran diri miliknya.


"Lalu, kau? Apa alasanmu untuk resign dari sini?" tunjuknya pada Cantik.


"Aku hanya ingin jadi pengangguran. Menikmati waktuku di rumah dengan santai sampai ada pria yang ingin meminangku dan membawaku untuk tinggal bersamanya." ucap Cantik dengan tenangnya, kedua orang yang lain memutar bola matanya dengan malas. Gadis berkacamata ini terlalu konyol alasannya ingin resign dari kantor.


"Aku tidak bisa memberi izin untukmu keluar kalau kau alasannya begitu." ucapnya pada Cantik.


"Ayolah Bu. Alasanku memang begitu, tapi yang utama aku ingin menemani dan mengurus ibuku, kasihan dia di rumah sendirian tidak ada teman. Kakaku akan pergi jauh dan mungkin jarang pulang, jadi aku harus di rumah menunggui ibuku. Masa ibu tega tidak mengizinkanku untuk resign. Aku tidak mau jadi anak durhaka untuk ibuku, dan aku yakin ibu juga punya orangtua kan. Bayangkan kalau ibu ada di posisi aku dan dalam keadaan seperti ku, Ibu pasti juga akan melakukan hal yang sama denganku. Aku yakin Ibu akan memilih orangtua daripada pekerjaan, iya kan?" tanya Cantik berorasi panjang lebar.


Tiara dan atasannya itu hanya menatap pada Cantik dengan wajah yang tidak peduli.


"Kau ini banyak bicara sekali, membuatku pusing saja! Sudah sana. Kalian ke bagian HRD untuk mengambil gaji terakhir." usir wanta itu. Cantik dan Tiara langsung bangkit dengan senang dan segera pergi dari sana setelah mengucapan kata terima kasih.


Tak lama urusan mereka disana, Tiara dan Cantik keluar dari kantor itu dan bersiap untuk pulang. Romi yang melihat keduanya keluar dari gedung mengejar dan menyapa mereka. Sudah ada satu minggu lebih dia tidak melihat keduanya masuk kantor, betapa bahagianya dia melihat mereka hari ini.


"Ara, Cantik." panggil Romi yang kini berlari mendekat ke arah mereka. Cantik yang mendengar seseorang memanggil namanya menoleh.


"Pak Romi."


Romi mengatur napasnya dan tersenyum ke arah Tiara dan Cantik


"Sudah lama tidak melihat mu, apa kabar?" tanya Romi.


"Baik."


"Cantik, kau juga lama tidak kelihatan. kemana saja?" tanya Romi pada Cantik.


"Aku bersantai saja di rumah, jadi pengangguran! Ra aku pergi dulu, aku akan tunggu di mobil." ucap Cantik dengan nada kesal tertuju pada Romi. Tiara yang melihat tingkah aneh Cantik hanya bisa melihat wanita itu pergi ke arah tempat parkir dengan bingung. Romi pun sama, dia menatap kepergian Cantik dengan tatapan yang lain dan itu terlihat oleh Tiara.


Tiara mendekat ke arah Romi yang masih melihat Cantik, wanita itu kini sudah masuk ke dalam mobil.


"Hei, kau berbuat salah ya dengan Cantik sampai dia kesal seperti itu?" tanya Tiara menebak. Romi yang mendengar suara bisikan Tiara menoleh, dan mengedikan bahunya tanda tidak mengerti juga.


"Apa yang kau lakukan dengan dia? Apa kau punya salah sampai dia ngambek seperti itu?" tanya Tiara lagi.


"Waktu itu aku memang ajak dia makan malam, tapi aku tidak bisa datang karena aku ada urusan mendadak. Mungkin karena itu dia marah." Romi hanya tersenyum terkekeh melihat Tiara yang melotot tajam.


"Aduh kau ini, tahu Cantik sifatnya bagaimana, kau malah membuat dia marah!"


"Terus aku harus bagaimana?" tanya Romi meminta saran pada Tiara. Tiara hanya mengangkat bahunya tinggi-tinggi.


"Aku mana tahu. Kau yang mau pedekate sama dia ya kau harus usaha sendiri bagaimana caranya supaya dia mau memaafkan mu!" tutur Tiara.


"Sudah ah, aku mau pulang. Kau pikirkan saja sendiri caranya bagaimana. Selamat berjuang!" Tiara tertawa sambil menepuk bahu Romi dan kemudian berlalu dari sana.


Romi hanya menatap kepergian Tiara dan juga Cantik, mobil mereka berlalu keluar dari area perkantoran.


Cantik mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, Tiara hanya tertawa geli melihat Cantik yang kini bermuka masam di wajahnya.


"Hubungan kalian sudah sampai mana? Ada kemajuan?" tanya Tiara kepo.


"Biasa saja. Tidak sampai mana-mana," ujar Cantik dengan cuek.


"Kalau biasa kenapa muka mu masam begitu? Kau ini jelek kalau sedang cemberut, Cantik!" Tiara menjawil pipi Cantik.


Cantik semakin kesal karena perlakuan Tiara, dia menepis tangan Tiara marah.


"Hentikan Ara! Aku kesal karena dia membatalkan makan malamnya denganku!" ujar Cantik dengan seruan akhirnya. Cantik cemberut seraya terus berdecak dengan kesal, mendumel tida jelas. Tiara tertawa kcil, tidak disangka wanita ini bisa juga seperti itu, seperti nenek-nenek yang terus mengoceh karena tidak dituruti keinginannya.


"Aku kan sudah senang dia akan mengajakku makan malam. Aku sudah ada di restoran dengan dandanan terbaikku, dan ternyata dia tidak datang. Sialnya dia juga tidak mghubungiku. Coba kau bayangkan, Ra. Dua jam aku menunggu dia dan dia tidak muncul sama sekai. Aku telpon juga dia tidak angkat. Kalau kau ada dipsisiku kau juga pasti akan marah kan?" tanya Cantik dengan mengebu-gebu meminta dukungan.


"Tidak tahu! Aku tidak pernah ada di possi mu." Tiara berucap dengan cuek dan terkekeh membuat Cantik kesal luar biasa. Wanita itu kini kembali mengoceh tidak jelas.


"Dasar kau ini, wanita tidak berperasan. Berilah kasihan sedikit pada ku, Ra. Aku gadis yang sangat menyedihkan saat itu lama menunggu, kesal, bosan, malu juga dengan orang lain yang melhatku terus menerus."


Tiara hanya tertawa mendengar keluhan temannya ini. Cantik kesal luar biasa karena Tiara hanya tertawa dan terus tertawa mengejeknya.


"Ih Ara! Kau ini terus aja mengejekku. Kau keterlaluan!" Cantik memukul lengan Tiara karena gemas sampai dia memalingkah wajahnya dari jalanan.


"Ara, apa aku baru saja menabrak seseorang?" tanya Cantik yang kini sulit untuk menggerakkan kepalanya.


"Aku kira tidak. Coba kau lihat."


"Aku takut." Cantik tidak berani menoleh ke depan begitu juga dengan Tiara.


"Aku juga takut. Bagaimana ini?" tanya Tiara pada Cantik.


Sementara itu di luar sana, orang yang baru saja mereka serempet mengetuk kaca mobil dengan keras.


Tiara dan Cantik menoleh secara bersamaan ke arah asal suara itu. Seorang pria terlihat di luar sana dengan memakai jaket dan juga helm sedang mengetuk kaca mobil mereka.


Cantik mengintip ke arah depan. Sebuah motor masih tergeletak di jalanan. Cantik menutup matanya sejenak.


"Ra, aku baru saja menabrak seseorang." tutur Cantik.


"Hem ... Aku rahu dan orang itu sedang mengetuk kaca jendela kita."


Suara ketukan di jendela terdengar lagi, dia menggerakkan jari relunjuknya, mengisyaratkan jika mereka harus keluar dari mobil.


Tiara menurunkan kaca mobilnya sedikit, takut sebenarnya. Dia tidak permah ada di dalam posisi seperti ini.


"Kalian turun!" titah suara bariton pria itu. Wajahnya tertutup masker membuat Tiara tidak bisa melihat wajah itu dengan jelas.


"Ra jangan keluar. Kita kabur saja." bisik Cantik, dia sudah bersiap untuk memutar kembali kunci mobil.


"Hei kau ini jangam suka kabur dari masalah! Ayo turun!"


Pria itu masih menggerakkan jarinya memerintahkan Tiara untuk turun. Tiara pun membuka pintu mobil dengan perlahan dan turun dari sana.


"Apa teman mu bisa mengendarai kobil? Lihat apa yang terjadi pada motorku? Kalian membuat motor ku rusak!" ucap pria itu dengan menunju ke arah motornya.


"Maaf, Pak. Kami tidak sengaja. Memang kami yang salah. Kami minta maaf. Kami akan membayar semua kerugian yang kami lakukan." Tiara berbicara sambil sesekali menundukkan tubuhnya.


"Maaf kamu bilang? Motor ku itu mahal, biayanya juga tidak sedikit untuk perbaikan. Kalian kalau tidak bisa pakai mobil jangan pakai mobil, ini baru motor kalau aku yang celaka bagaimana?" tanya pria itu dengan membentak. Cantik yang mendengar pria itu marah-marah keluar dari mobil melewati kursi Tiara. Tangannya mendorong tubuh Tiara untuk menyingkir dari jalannya.


"Kamu tahu gak sih, kalian bisa dipenjara kalau sampai menghilangkan nyawa orang. Ini bahaya....!"


"Pak!" Cantik memotong ucapan pria itu yang belum selesai. "Temanku tidak tahu apa-apa. Aku yang menyetir disini. Kalau anda mau marah, marah saja denganku. Jangan padanya!" Cantik berkata dengan kesal. Pria itu salah sasaran.


"Oh jadi kau yang menyetir ugal-ugalan?" Pria itu menatap Cantik dari atas ke bawah lalu sebaliknya, dia mengernyitkan keningnya menatap wanita itu yang kini sedag manaikkan kacamatanya yang melorot.


"Iya aku yang menyetir disini. Kenapa kau marah pada temanku?" tanya Cantik dengan kesal. Semua pria sudah membuat dia kesal akhir-akhir ini.


Pria itu tiba-tiba menadahkan tangannya. Cantik yang mengerti apa maksud pria itu kini masuk ke dalam mobil dan mengambil dompet di dalam tasnya.


"Berapa yang kau butuhkan untuk perbaikan motormu?" tanya Cantik sambil mengeluarkan uang yang dia punya. Beberapa lembar uang ruiah dan juga uang dollar ada di dalam dompetnya. Cantik mengeluarkan dua lembar uang doar dari dompet dan menyerahkannya ke tangan pria itu.


"Apa itu cukup?" tanya Cantik.


'Dasar pria, tidak mau mengalah dengan wanita!' batin Cantik kesal dengan pria ini. Seharusnya lelaki itu mengalah pada wanita meski memang wanita salah, apa mereka tidak mengangap kalau wanita itu orang spesial yang telah melahirkan umat manusia?


"Eh ... Apa yang kau lakukan?" tanya Cantik terkejut saat pria itu mallah mengambil dompetnya dan mengambil kartu identitas dan juga ATM miliknya. Dia lalu mengembalikan dompet itu pada Cantik.


"Aku gak butuh uang yang sedikit. Motorku rusak parah dan aku tidak yakin jika dua ratus dolar akan cukup untuk memperbaiki motorku. Bahkan untuk biaya mengecat saja lebih dari itu."


Pria itu kemudian mengambil pulpen dari balik saku bajunya dan menuliskan sesuatu di telapak tangan Cantik.


"Aku akan bawa KTP dan kartu ATM mu. Kau akan dapatkan lagi setelah kau punya uang untuk menggantinya." Cantik melongo dengan sikap pria tu yang arogan. Dia lalu pergi dari hadapan keduanya dan mengambil motorya tang terguling.


"Hei tidak bisa begitu! Itu keterlaluan!" Dengan langkah yang cepat Cantik berlari ke arah pria itu, tapi terlambat, dia sudah pergi dengan mengendarai motornya yang kini mulai menjauh dari pandangan mata.


"Ah! Sial!" Cantik berteriak saat dia tidak bisa mendapatkan kembali apa yang menjadi miliknya. Dia kembai ke arah dimana Tiara berdiri. masih terdiam mematung melihat kejadian itu.


"Ra, ayo kita pulang!" Cantik menarik tangan Tiara masuk ke dalam mobil.


"KTP dan ATM mu ...."


Sudah ah, dia bisa apa dengan KTP itu? Aku akan buat KTP baru, dan juga ATM baru. Biarkan saja dia. Dikasih uang untuk perbaikan motornya dia gak mau, ya sudah. Makan saja tuh KTP ku." ujar Cantik dengan kesal.


Cantik masuk ke dalam mobil dari tempat tadi dia keluar. Tiara hanya menggelengkan kepalanya saat gadis itu merangkak masuk dan berpindah ke belakang kemudi.


"Kau tidak ada elegan-elegannya sama sekali!" Tiara mencibir kelakuan temannya ini setelah dia menjatuhkan bokongnya di atas kursi penumpang."


Cantik yang akan memutar kunci mobil terhenti tangannya dan menatap Tiara dengan bingung.


"Hah, yang mana dari aku yang tidak elegan?" tanya Cantik.


"Semua. Lihat sikap mu tadi, kau bisa keluar atau masuk lewat sana kenapa kau keluar masuk lewat sini?" tanya Tara dengan menunjuk ke arah pintu mobil.


"Kejauhan!" Cantik berkata seraya tidak peduli. Dia menyalakan mobilnya dan melajukannya ke jalanan yang kini mulai ramai.


"Sial sekali aku hari ini." Cantik merutuki nasib dirinya.


"Itu karena kau memang teledor."


Cantik mencebikkan bibir bagian bawahnya.


"Itu karena kau juga. Aku sedang serius menyetir kau yang membuat aku hilang fokus."


"Enak saja. Kau tidak fokus karena sibuk ingin menganiayaku. Coba kalau kau tadi tidak memukulku. Ini balasan karena kau mau menganiayaku. Terima saja karma yang kau dapat!" ujar Tiara dengan kekehan di bibirnya.