
"Aku benar-benar cape Dev, kamu keterlaluan!" aku memukuli Devan dengan bantal. Kami sudah selesai mandi dan berpakaian. Bahkan aku tidak bisa berjalan lututku lemas, kakiku bergetar karena lelah. Dan Devan tadi yang mengangkatku dari kamar mandi, dia juga yang memakaikan pakaianku. Devan benar-benar keterlaluan!
Dia hanya terkekeh. "Ibu hamil lebih nikmat."
Cih, dia enak, lah aku? Capek!
Aku memutar bola mata malas.
"Tunggu disini, aku akan bawakan makanan kesini saja." titahnya.
"Gak mau. Mau di luar saja, sambil nonton si kembar botak!" pintaku lalu mengulurkan kedua tanganku. "Gendong, aku gak sanggup jalan!" cicitku.
"Oke!" ucap Devan lalu menggendongku ke luar dari kamar dan mendudukanku di atas sofa. Aku menyalakan tv, sementara Devan ke dapur untuk mengambil makanan.
Dua piring nasi, sepiring udang, sepiring tahu tempe, semangkuk sambal dan ada kerupuk udang satu toples. Makanan sederhana tapi kami suka. Bahkan aku bisa tambah satu piring nasi lagi jika memang sedang bernafsu.
"Honey, ada ini meja pantry!" Devan duduk di sampingku menyerahkan lembaran seperti tiket ada dua lembar.
"Apa itu?" Devan membacanya.
"Tiket untuk naik kapal pesiar. Apa mungkin mama yang berikan untuk kita?"
"Kapal pesiar?" aku sangat antusias mendengar kapal pesiar, bisa aku bayangkan kapal itu mewah, berkelas, indah, apalagi saat malam hari. Oke, aku jadi senang yang berkelas setelah bergaul dengan Devan. Aku harus tahu semua yang berkelas agar nantinya tidak mempermalukan suami atau keluargaku.
"Lihat!" tanganku terulur menyambut tiket itu, dan benar saja, wow! Indah sekali gambaran yang ada disana, baik itu siang atau malam.
"Apa mama kasih ini buat honeymoon kita?" tanyaku pada Devan.
"Mungkin, nanti aku akan tanya sama mama." Devan menarik tiket di tanganku membuat aku sedikit kecewa, karena hal indah yang aku lihat baru saja di rebut olehnya.
"Makan dulu, apa kamu tidak lapar?" tanyanya.
"Suapi!" aku mau bermanja-manja dengannya. Hukuman karena membuatku lelah! Hehe...!
"Oh ya aku lupa." Devan menggantungkan tangannya di udara saat dia akan menyuapiku. "Tadi mama memang membicarakan soal kapal pesiar sih!"
"Terus bilang apa lagi?"
"Gak bilang apa-ap, kamu keburu pulang." Lalu aku membuka mulutku saat makanan itu mendekat.
Selesai makan. Devan langsung menelfon mama. Mama bilang memang itu untuk kami heloneymoon dan kapal itu akan berangkat besok sore dari salah satu dermaga besar di kota ini.
Memang kami belum pernah melakukan bulan madu karena Devan sangat sibuk akhir-akhir ini, apalagi papa menyerahkan semua tanggung jawab perusahaan pada Devan, dan papa hanya menjalankan bisnis hotel nya di beberapa daerah, itu sebabnya papa lebih sering di luar kota daripada di rumah.
Tiba-tiba saja bayangan salah satu adegan dalam film Titanic terlintas di otakku, dimana Jack berdiri di belakang Rose yang sedang naik di salah satu pagar pembatas, Jack memegangi pinggang Rose, dan Rose yang sedang merentangkan tangannya, menerima terpaan angin yang membelai kulitnya, sekilas mereka terlihat seperti sedang terbang melintasi lautan. Tapi aku yakin Devan tidak akan melakukan hal itu, karena kondisiku yang tengah berbadan dua. Aku yakin itu! 😒😒😒.
"Kenapa Dev?" tanyaku saat ku lihat wajahnya murung tidak bersemangat. Seperti sedang kebingungan.
"Itu... besok sepertinya aku tidak bisa. Aku harus ke Singapura selama tiga hari." sesalnya.
"Tidak bisakah kalau di batalkan atau di undur?"
Devan menghembuskan nafas kasar. " Masalahnya aku sudah lama mengincar kerjasama itu, dan kami juga sudah lama membuat janji." Devan merasa bingung, juga seperti tidak enak hati padaku, mungkin karena melihat wajahku yang seketika murung. Jujur aku kecewa. Aku sangat ingin pergi kesana.
"Ya sudah, lain kali saja!" ucapku, membuat Devan menjadi terlihat bersalah.
"Maafkan aku honey, aku tidak bisa mengirimkan Seno untuk proyek itu, pimpinannya ingin aku sendiri yang pergi."
"Ya, ya aku tahu Dev." Aku menatap Devan, tidak enak juga melihat wajahnya seperti itu.
"Ya sudahlah, kalau kamu inginkan proyek itu. Kamu pergi saja. Kita bisa pergi lain kali."
"Kamu marah?" tanya Devan.
"Tidak marah, cuma kecewa." aku berkata jujur membuat raut wajahnya semakin terlihat bersedih.
"Tapi kamu pergi saja, kalau berhasil dan sukses belikan aku kapal pesiar sendiri untuk kita pergi berlayar!" aku menyentuh rahangnya yang kokoh. Aku tersenyum menyembunyikan kekecewaanku.
Wajah Devan berubah sumringah. "Pasti, aku akan belikan satu yang terbaik buat kamu dan anak kita. Nanti kita berlayar bersama-sama."
"Janji?" tanyaku menyodorkan jari kelingking.
"Janji!" Devan menautkan jari kelingking nya padaku. Dia meraihku kedalam pelukannya dan menciumi kepalaku berulang kali.
"Trimakasih, karena kamu mau mengerti dan mengalah, sayang. Aku janji aku akan bahagiakan kamu." Aku bahagia, rasa kecewaku sirna karena janji yang Devan buat.
"Aku harap kamu gak akan ingkar!"
"Asal kamu jadi anak yang baik!"
"Selama ini aku kurang baik?" aku menjauh kan diriku darinya, tidak terima masih di bilang kurang baik padahal aku jadi anak penurut sekarang.
"Hehe, tidak, kamu hanya sedikit keras kepala." ucapnya.
"Satu sama dengan mu!" Devan terkekeh mendenggar penuturanku.