DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 138



Setelah pertemuannya dengan Renata beberapa hari yang lalu akhirnya Renata bersedia ikut pulang dengan Axel. Semua orang bahagia, apalagi mama. Hanya saja ada satu orang yang merasa tak begitu bahagia dengan kembalinya Renata. Yang berarti dia akan kehilangan masanya dengan pria itu.


Tiana menarik nafasnya dan kemudian menghembuskannya dengan kasar. Melihat kebersamaan Axel dengan Renata yang begitu mesra membuat hatinya sakit. Apalagi Axel terlihat sangat memanjakan dia, menyuapi potongan buah ke dalam mulut wanita itu. Dia harus bagaimana? Harus pura-pura bahagia tapi hatinya terluka?


"Akh... maaf!" ucap Tiana saat dia tiba-tiba berbalik dan menabrak dada keras seseorang.


"Apa yang kamu lihat?" kepala Gio menunduk menatap Tiana yang hanya setinggi dagunya. Sekilas Tiana menatap mata Gio sambil mengusap hidungnya yang sakit, lalu membuang pandangannya ke arah lain. Tak ingin dia ketahuan dengan perasaan hatinya.


"Tidak apa-apa. Aku haus, mau ke dapur." Tiana melangkahkan kakinya menuju ke arah belakang. Gio mengalihkan pandangan, terlihat Axel sedang duduk di bangku taman berdua dengan Renata tersenyum senang.


Kini Gio tahu, itu lah sebab Tiana terlihat bersedih. Entah Axel tahu atau tidak, gadis itu memendam rasa padanya sedari dulu.


"Kau suka dengan Axel?"


Pertanyaan Gio membuat Tiana yang tengah minum terkaget dan menyemburkan air yang ada di dalam mulutnya. Baju bagian depannya basah. Dia mengusap bibirnya dengan punggung tangannya.


"Apa maksudmu?" Tiana menatap mata Gio dengan tajam. Pria itu hanya membalas tatapan Tiana dengan tawa, tawa yang mengerikan.


"Jujur saja. Aku gak akan biang pada dia. Ini aka aku jadikan rahasia tersendiri." ucap Gio sambil mengelus dadanya.


Tiana terdiam, tangannya menyimpan gelas di atas meja. Pandangannya tiba-tiba saja kosong. Sayu. Apa terlihat sejelas itu sampai Gio tahu dengan keadaan hatinya?


"Aku harus jujur apa? Aku tidak suka dengan dia. Dia itu adikku. Kau ingat? Mana mungkin aku suka denga adikku!" Tiana mengelak. Dia memilih pergi dari sana. Tak mau lagi mendengarkan omong kosong Gio yang memang benar adanya.


Gio menatap kepergian Tiana yang kini sudah menaiki tangga menuju ke kamarnya di atas. Dia tak berniat sama sekali untuk menyusul gadis itu.


Tiana menjatuhkan dirinya dengan kasar di atas kasur. Dia menatap langit-langit kamar yang berwarna putih. Matanya terasa panas. Dadanya terasa sakit. Ingat perlakuan pria itu yang terlihat manis pada kekasihnya.


"Hiks ... kenapa ini sakit sekali?!" Tiana meremas dadanya yang terasa sakit. Satu tangannya mengusap air mata yang kini turun melewati telinganya.


Gio masih menatap pintu kamar Tiana yang tertutup rapat. Kasihan sekali gadis itu, Axel cinta pertamanya dan dia tak bisa meraihnya sama sekali. Meskipun mereka tak ada ikatan darah sama sekali, tapi perasaan kekeluargaan antara Ibu Melati dan juga Mama Anyelir sangat kuat. Mungkin itu yang menjadi permasalahan di antara mereka.


Sampai di apartemen, Gio merasakan sepi disana. Mungkin karena beberapa hari ini dirinya tinggal bersama dengan mama dan juga papa, dan juga pria bucin itu tentunya.


Huh... Menghembuskan nafasnya dengan pelan, ia tatap langit-langit kamar berwarna putih bersih. Axel sudah menemukan wanita yang dia cinta, apa kabar dengan dirinya? Dia masih tak ingin membuka hati, rasanya tak percaya dengan cinta meski dia tahu kalau mungkin dirinya memang tak beruntung. Bukan cinta yang salah, karena cinta memang tak pernah salah, tapi si empunya hati yang terlalu pemilih dan juga terlalu banyak maunya.


Ya sudahlah, pasrah saja. Toh tak masalah jika mungkin sampai akhir hayat dia tak menemukan jodoh.


Kruukkk...


Suara perutnya terdengar nyaring, serasa ada lubang kosong disana. Dia ingat dia meninggalkan rumah mama tanpa makan malam. Tadi siang dia juga makan hanya sedikit.


"Sial. Kenapa tadi tidak sekalian beli makanan di luar!" dengusnya pada diri sendiri.


Gio bangkit dari atas kasur dan mengambil jaket yang tersampir pada tiang gantungan lalu mengambil kunci mobilnya. Hari ini memang dia tak bekerja karena akhir pekan, tapi entah kenapa dia merasa lelah luar biasa, hatinya sebenarnya, terasa ada yang kurang namun entah apa.


Malas sebenarnya pergi ke luar, tapi jika dia tak mencari makanan dia pasti akan kelaparan dan membuat perutnya sakit. Pesan makanan online... Dia bukan tipe pria yang suka memesan apapun dalam bentuk online.


Gio menghentikan mobilnya saat melihat seorang pria tengah mendorong seorang wanita di tepi jalan hingga terjatuh. Mereka terlihat saling berebut, seperti dompet atau tas?


Si wanita mencoba mempertahankan miliknya. Namun, pria itu melayangkan tamparan keras pada si wanita hingga tubuhnya terhuyung dan kembali terjatuh ke jalanan yang kotor.


"Hei apa yang kamu lakukan?!" teriak Gio setelah menutup pintu mobilnya.


Mendengar teriakan itu si pria tadi membuka dompet dan mengambil uang yang ada disana lalu melemparkan dompet itu di kepala si wanita kemudian berlari saat Gio mendekat.


"Kamu tidak apa-apa?" Gio berjongkok menyetarakan tingginya dengan wanita itu. Wanita itu menggeleng hingga rambut yang menutupi wajahnya bergoyang ke kanan dan ke kiri. Dia menggerakkan tangannya dan menyibak rambut yang menutupi wajahnya.


"Tiara?!"