
Tiara baru saja keluar dari kamar mandi. Dia memeluk handuknya yang melilit pada tubuh. Sejenak Tiara terdiam melihat Gio yang kini hanya bertelanjang dada. Di tangannya mengayun buku, mengipasi wajahnya yang terlihat merah.
Glek!
Tiara menelan ludah. Tubuh dengan keringat itu membuatnya kembali gerah.
Ya Tuhan ada apa denganku?! Batin Tiara bingung. Dia kembali merasa kepanasan, padahal baru saja selesai mandi. Apa harus mandi lagi?
"Kau kenapa, G? Wajahmu kenapa merah?" tanya Tiara bingung.
"Aku merasa panas. Padahal AC sudah ku stel sedingin mungkin. " Tiara terdiam. Dirinya sama kepanasan seperti Gio.
"Apa neraka bocor?" tanya Gio.
"Sepertinya begitu!" tutur Tiara lalu berjalan ke arah lemari dan mencari bajunya. Mercoba untuk menghilangkan perasaan aneh di dalam dirinya. Rasa aneh seperti ingin menerkan Gio... Eh 😅
"Kau mau mandi? Mau aku siapkan air hangat? "Tanya Tiara lagi. Sebagai istri yang baik dia harus melayani Gio dengan baik bukan?
"Air dingin saja!" ucap Gio lalu menyimpan buku di atas nakas. Gio mulai melangkah. Tiara hendak memakai ****** ********, tapi dia tersentak kaget saat benda segitiga miliknya itu ditarik dan terlempar jauh di lantai.
Tiara membalikan dirinya. "G, apa yang kau lakukan? Kenapa dilempar? Kan jadi kotor!" protes Tiara. Gio tidak menjawab, dia langsung memeluk Tiara dengan erat. Wangi aroma sabun menguar ke dalam indera penciumannya hingga memancing sesuatu yang kini menegang di bawah sana.
"G, apa yang kau lakukan? Lepas!" tiara menolak perlakuan Gio yang kini tengah menciumi leher jenjangnya. Rasa aneh menggelenyar seiring laju aliran darahnya.
"Aku tidak tahu, tapi tubuhku panas sekali.... dan aku merasa.... ingin. Tolong bantu aku, kepalaku pusing." keluh Gio, dia meneruskan aktifitasnya tanpa mendengar protes yang dilayangkan sang istri padanya.
Gio mendorong tubuh Tiara ke dinding lemari, menunduk untuk merasai tubuh istrinya yang sangat menggoda. Kulit putih Tiara, dengan wangi sabun yang manis membuat dirinya menggelap. Tak bisa lagi menahan hasrat diri yang menggebu.
"Ah...." Tak sadar Tiara mengeluarkan suara sens*alnya saat Gio menggoda tulang selangka nya. Satu tangan Gio menyentuh d*da Tiara, satu tangan yang lain mulai merambah di bawah. Menggoda milik Tiara hingga wanita itu kini menegang. Tiara membuka pahanya, memberikan akses agar Gio leluasa memainkan dan menggoda miliknya. Sesekali memelintir, menekan dan memasukkan jarinya di bibir bawah Tiara. Tiara kesal, pria itu malah bermain-main saja, tapi masih tetap menikmati permainan suaminya.
"Ah. Gio... Jangan nakal!" lirih Tiara masih tersengal suaranya. Inginnya tangan Gio memuaskan miliknya sebelum pergulatan nanti.
Gio hanya tersenyum smirk di bibirnya. Tidak ingin begitu saja membuat istrinya terpuaskan. Main-main dulu lah. Wajah Tiara terlalu indah saat sedang terangsang seperti itu.
Gio membuka handuk milik tiara hingga terjatuh begitu saja di lantai. Tidak ada sesuatu apapun yang kini menutupi tubuh Tiara. Semua milik nya. Hanya miliknya. Kulitnya, dadanya, perutnya, wajahnya. Semua milik Gio seorang.
Perlahan ciuman Gio dari tulang selangka turun ke bawah bermain di dua bukit kembar milik sang istri yang padat. Kata orang akan tambah besar dengan pijatan lembut, bukan? Oke. Gio akan dengan senang hati melakukannya!
"G. Jangan disini. Kakiku pegel. Lebih enak di kasur." pinta Tiara dengan nafas ngos-ngosan. Gio kembali menarik dirinya dari aktifitas meng*mut puncak. Dengan senyum senang, Gio segera menggendong tubuh Tiara. Tiara melingkarkan kakinya ke pinggang Gio dengan erat. Ciuman panas mereka lalukan hingga sampai di dekat ranjang.
Dada tel*njang mereka saling beradu menghantarkan hangat yang semakin membuat panas tubuh mereka memanas.
Tiara menarik dirinya karena Gio tidak lantas menurunkannya.
"Apa kita akan seperti ini dan terus berciuman, G?" Tanya Tiara. Gio tersenyum senang. Ternyata istrinya tidak sabaran!
Dibaringkannya tubuh Tiara di atas kasur. Tiara malu-malu, menutupi pangkal pahanya dengan kedua tangan.
"Kenapa di tutupi? tidak usah di tutup aku juga sudah pernah melihatnya!" Gio menyingkirkan tangan Tiara dari sana dan membuka paha Tiara lebar-lebar. Gio mendekat dan... happ...
Slurp...
"Ah... Gio...!" pekik Tiara tak tahan. Permainan lidah Gio di bawah sana membuat Tiara merem melek dengan mulut terbuka lebar.
Gio tidak menghentikan aktifitasnya. Satu tangannya menggoda milik Tiara sedangkan satu tangan yang lain membuka celana boksernya.
Tiara merasa hal aneh yang terjadi pada dirinya, seakan ada rasa panas yang teramat sangat di bawah sana.
"G, aku... Ingin pip.... Ah..." nafas Tiara tersengal. Gio tidak menghentikan aktifitasnya, terus menyedot cairan yang baru saja keluar dari sana.
Tiara terengah nafasnya, belum apa-apa dia sudah lelah.
"G. Apa kau mau terus seperti itu? kau menyiksaku!" tanya Tiara seraya menahan kepala Gio. Gio menatap wajah Tiara yang sudah dipenuhi rasa ingin .
"Hit, me! Come taste me again!" Lirih Tiara dengan nada menggoda, Tiara menarik kepala Gio untuk mendekat ke arahnya. Tiara melirik ke arah milik Gio yang sudah sangat membesar. Digerakkannya jari telunjuk Tiara dengan gerakkan mengundang.
"Oke. Kau yang meminta, maka jangan sekalipun memintaku berhenti." Gio tersenyum menyeringai, merangkak naik ke atas tubuh Tiara....
Tiara menelan salivanya dengan susah payah.
Rasa dingin dari AC tidak mereka hiraukan. Berbanding terbalik dengan suhu tubuh mereka yang semakin panas. Erangan nikmat dan racauan tak karuan keluar dari mulut keduanya menyebutkan nama masing-masing pasangannya.
Nafas mereka saling beradu, seirama dengan gerakan Gio yang naik turun di atas tubuh Tiara. Tiara menahan dada Gio sesekali memainkan tonjolan kecil yang ada disana. Satu tangan yang lain meremat bongkahan bokong milik Gio.
Hujan mulai turun di luar, udara semakin dingin, tapi keduanya tidak menghentikan aktifitas yang ada, melanjutkan sesi kedua dan ketiga di setiap sudut kamar mereka.
"G. Aku bingung. Kenapa kita melakukan ini banyak-banyak. Aku.... Capek!" ucap Tiara di sela deru nafasnya yang naik turun. Gerakkan Gio membuat suaranya terputus-putus. Keringat yang membasahi tubuh polos mereka terlihat mengkilap tertimpa cahaya lampu yang menyala di siang haru.
"Aku tidak tahu!"
"Apa mungkin karena jamu yang kita minum tadi?" tanya Tiara lagi.
"Sudah lah. Jamu atau tidak, kita nikmati saja waktu kita berdua. Apa kau keberatan?" tanya Gio. Dia tidak ingin menghentikan acaranya. Dirinya memang lelah, tapi keinginan dan hasrat yang menggebu seperti tidak mengizinkannya untuk menghentikan aktifitas panas mereka.
"Aku lelah G, setelah ini sudah, ya!." sekali lagi Tiara mengeluh, meminta pengertian dari pria ini. Yang sebenarnya adalah Tiara merasa kesakitan di bawah sana. Perih, tapi dia tidak mau membuat suaminya kecewa karena tidak mendapatkan pelepasannya.
"Kau bilang saja pada tongkat milikku. Jika dia kelelahan kau akan aku biarkan tidur sebentar!" Gio tersenyum licik.
Gio mendekat, memagut bibir Tiara lembut, mengabsen semua yang ada disana tanpa terkecuali. Memperdalam penyatuan tubuh mereka di atas ranjang yang berderit. Tiara hanya pasrah, menerima nasib yang enak-enak perih membuat ketagihan ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
...***...
"Apa mereka belum selesai?" tanya seorang gadis yang kini ditutup kedua matanya oleh seorang pria.
"Belum!"
"Mereka sudah melakukannya selama dua jam. Apa mereka tidak lelah?"
.
.
.
.
Nah loh ada yang ngintip!!