DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel. part 19



"Tidak ada!" jawab Renata salah tingkah karena ketahuan mengagumi sosok prianya. Tiba-tiba saja ia merasa malu. Prianya? Renata menunduk dengan wajah memerah.


Axel berjalan mendekat. Dia ingin menatap wajah Renata sebelum ia pergi ke kantor. Hal ini akan menjadi moodboosternya dari mulai pagi ini.


"Jangan menunduk. Aku ingin lihat wajah kamu sebelum aku pergi ke kantor!" ucap Axel.


Renata melirik sebentar lalu menundukkan wajahnya lagi. Tak kuat menatap wajah tampan nan rupawan di hadapannya. Dia semakin tersipu malu.


"Apa kamu yakin mau bekerja? Wajah kamu saja masih terlihat lebam!" ucap Renata pada akhirnya.


"Aku harus bekerja. Sudah terlalu lama meninggalkan perusahaan. Tidak bisa terus-terusan meminta bantuan papa." ucap Axel.


"Tapi kamu masih sakit, tangan kamu saja pasti belum sembuh."


Axel tersenyum senang kini ada seseorang selain sang mama yang perhatian padanya. Dia mengambil dagu Renata dan menariknya hingga pandangan mereka beradu. Wajahnya semakin bersemu merah saat Axel tersenyum, tiba-tiba saja fikiran liarnya terlintas.


Apa yang aku fikirkan? Ini masih pagi dan aku memikirkan seperti itu? batin Renata.


Dia merasa kecewa saat apa yang ia fikirkan tidak menjadi kenyataan. Nyatanya Axel melepaskan tangannya dari dagunya, dan hanya mengusap lembut kepalanya.


"Aku pergi ya. Baik-baik di rumah. Aku akan baik-baik saja. Maaf hari ini aku tidak bisa temani kamu di rumah. Ada hal yang harus aku kerjakan di kantor." ucap Axel.


"Boleh aku pulang, Xel?" tanya Renata.


Axel menghelanya nafasnya berat.


"Untuk sementara, kamu disini saja dulu. Aku fikir, belum aman untuk kamu pulang ke kost-an. Ya!" pinta Axel. Mau tak mau Renata mengangguk pasrah. Semalam ada seseorang yang menelfonnya, dan berkata akan mengejar kemanapun Renata pergi.


Renata melepas kepergian Axel dengan berat hati.


Tinggal di tempat asing. Meskipun ini adalah kediaman kekasihnya, dan para maid juga sangat hormat padanya selaku wanita milik Axel. Nyatanya membuat jiwa seorang Renata menjadi bosan. Renata hanya berdiam diri di kamar, lalu keluar, ke taman belakang, kembali lagi ke kamar. Jika di izinkan untuk membantu pastilah Renata tidak akan sebosan ini.


Renata melemparkan dirinya di atas kasur yang empuk nan lembut. Sudah sangat lama sekali dirinya tidak merasakan kasur seperti ini. Dia terlalu biasa merasakan kasur lepek dan bau apek setelah beberapa tahun hidupnya yang sulit dan kacau.


Di keluarkannya kalung berbatu giok hijau dengan ukiran bunga tulip dari lehernya, dia menatapnya dengan seksama. Di bawahnya terdapat sebuah ukiran lain. Sebuah cap yang menandakan siapa identitasnya.


Renata menghela nafas lelah. Selama ini hidupnya serasa tidak pernah tenang. Bagaimana mau tenang jika mereka terus saja menerornya.


Terlintas di benaknya sebuah masa depan yang cerah dengan Axel. Mungkin dia terlalu pede. Tapi siapa tahu kan Axel memang berjodoh dengannya. Meski baru mengenal pemuda itu beberapa bulan lalu, tapi entah kenapa pemuda itu seperti punya sesuatu yang lain yang bisa menggetarkan hatinya. Seperti ada sebuah ikatan tak nampak yang mengikatnya.


"Ayah, ibu. Apa yang harus aku lakukan? Aku sudah tidak tahan lagi. Aku ingin hidup tenang." ucapnya, lalu memegang kalung itu erat.


Sementara itu di sebuah gedung perkantoran megah. Axel menatap pada selembaran kertas putih di tangannya.


Rahangnya mengeras, tangannya terkepal hingga buku-bukunya memutih. Giginya bergemeletuk. Matanya seakan memancarkan kemarahan atas apa yang baru saja ia baca. Sepenting ini dan dia baru tahu?


Axel menatap Gio dengan tajam Tapi yang di tatap hanya menundukan kepalanya.


Dia mengusap wajahnya kasar. Memikirkan Renata yang ternyata tak mudah hidupnya dalam beberapa tahun belakangan ini.


Gio menatap Axel dengan diam, lalu menunduk saat Axel melemparkan kertas itu ke udara.


"Habisi perusahaan ini! Aku mau dalam waktu kurang dari seminggu, perusahaan itu sudah ada di tangan kita. Dan cari orang yang sudah buat gadisku menderita, temukan dia dan kuliti mereka hidup-hidup!" Axel dengan nada dinginnya.


Dia seorang pemuda yang hangat, tapi dalam beberapa hal dia bisa juga menjadi terlihat sangat menakutkan.


Gio mendekat dan memungut kertas itu. Sebuah nama perusahaan yang cukup terkenal, dan beberapa nama berderet disana. Tidak ia sangka ternyata ada hubungannya dengan penyerangan semalam pada dirinya dan juga Renata.


Bukan perkara sulit bagi Gio untuk mengambil paksa milik orang lain. Nyatanya dengan kekuasaan yang mereka miliki semua akan terasa lebih mudah. Hanya saja, untuk mencari seseorang yang sudah hampir tujuh tahun menghilang, entahlah. Jika kedua orang itu tidak mengubah identitasnya, pastilah mereka akan dengan mudah melacak keberadaan keduanya.


Gio pamit undur diri. Dia kembali ke ruangannya, menyalakan komputernya lalu menggerakkan jarinya di atas keyboard. Sebelum dia turun tangan secara nyata, dia akan bermain-main sebentar.


Gio tersenyum smirk, jari tangannya masih lincah bergerak kesana kemari.


Gio adalah pria yang serba bisa. Dia bisa melakukan apapun asalkan bisa membuat Axel bahagia. Bahkan dia juga bisa mengesampingkan keinginan dan juga kepentingannya untuk pria itu. Pria yang sudah ia anggap sebagai saudaranya. Bahkan dia berjanji untuk selalu mengabdi pada keluarga Aditama. Keluarga yang mana telah membuat dirinya hidup dalam kesempurnaan. Merasakan kasih sayang meski dia terlahir bukan dari keluarga Aditama.


Gio tersenyum puas. Apa yang dia lakukan barusan telah membuat sistem perusahaan NineOne kacau. Dan dia yakin sebentar lagi akan ada seseorang yang bisa mengendus siapa penyebabnya. Dia akan mundur saat mereka hanya mengenali bayangannya.


Bukan hanya satu atau dua perusahaan yang sudah ia retas jaringannya. Entahlah sudah berapa banyak, ia tak menghitungnya. Sekali mencoba dan ia ketagihan. Rasanya seperti ia sedang memainkan game kucing-kucingan yang seru.


Meski sebenarnya Axel melarangnya karena bisa saja terendus dan menyebabkan kerusuhan, tapi Gio berani bertaruh dirinya bisa bermain bersih tanpa jejak.


Ada suatu kebanggaan pada dirinya bisa menjadi seorang hacker.


Gio menatap layar komputernya, dia tersenyum senang. Dia menang kali ini. Selalu seperti itu!