DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 143



Kami menunggu Daniel keluar dari gerbang sekolah. Sudah hampir satu tahun aku meninggalkan Daniel dengan ayah. Aku harap Daniel tidak membenciku karena aku pergi waktu itu.


"Uncle!" teriak suara mungil seorang anak laki-laki lalu berlari mendekat ke arahku. Bukan! Tapi ke arah Samuel! Menyebalkan!


Mereka seperti ayah dan anak saja. Saling memeluk mencium dan juga bercanda. Bisakah Daniel seperti itu dengan Devan?


"Hei, ada mama disini kenapa kau hanya memeluk uncle mu?" tanyaku iri. Daniel tertawa lalu menghambur ke pelukanku.


"I miss you mom!" ucap Daniel. Benarkah ini? Daniel-ku bilang rindu padaku?


"Aku rindu mama ku yang cerewet!" sambungnya. Dasar anak nakal!


"Keterlaluan! Sudah lama tidak bertemu dan sekarang kau bilang rindu aku yang cerewet?" tangan mungilnya ia lingkarkan ke leherku. Di kecupnya pipiku dengan bibirnya.


"Aku sangat rindu mama." ucapnya lagi.


"Sepertinya aku harus pergi lagi supaya aku bisa sering mendengarmu bilang rindu padaku!" sindirku.


"Mama, aku mau pizza! Kakek tidak pernah belikan aku pizza selama mama dan uncle tidak ada!" dia membujuk atau sedang mengadu ya?


"Bagaimana uncle, bisakah kita mampir saat pulang nanti?" aku mengalihkan tatapanku pada Sam.


"Tidak masalah!" ucapnya.


"Come on!" seru Daniel lalu berlari masuk ke dalam mobil.


Tak jauh dari sekolah Daniel ada restoran pizza yang menjadi favorit bocah itu. Kami masuk ke sana dan memesan satu jenis pizza kesukaan Daniel, vanila milkshake untukku, dan black coffee untuk Samuel.


Daniel sangat menikmati makanannya sedangkan aku hanya menyeruput minumanku dengan fikiran yang bercabang. Devan apa kabar? Jangan sampai ayah melakukan sesuatu yang aneh-aneh pada Devan.


Ku ambil hp ku dan mencari nomor butler.


"Pak Didi. Ayah tidak melakukan hal yang aneh pada Devan kan?" tanyaku saat suara di seberang sudah terdengar.


'Saya rasa tidak nona. Tuan besar dan Tuan Devan belum keluar sedari tadi dari ruangan.'


"Bisa bapak periksa?" tanyaku khawatir.


'Saya tidak berani nona. Tapi sekarang saya sedang berjaga di depan pintu ruangan kerja tuan besar."


"Oh, ya sudah lah. Begitupun tidak apa-apa. Tolong jika ada sesuatu pada Devan bantu dia ya pak." mohonku.


'Baik, nona!'


Klik.


Panggilan ku akhiri. Setidaknya aku sedikit tenang dengan adanya pak Didi di luar ruangan ayah. Bukannya apa-apa. Ayah memang orang yang lemah lembut pada keluarga, tapi di luar dari itu ayah juga orang yang cukup kejam!


Dari cerita Samuel, hidup ayah bersama kakek angkat cukup keras, bahkan ayah di latih untuk berhati dingin supaya bisa memegang tampuk kekuasaan kakek. Aku hanya tahu bisnis yang ayah kelola. Dan belakangan aku baru tahu kalau ayah juga pernah memegang bisnis lain, bisnis hitam.


"Tidak usah gelisah. Dia tidak akan apa-apa. Kehilangan satu jari tidak akan membuatnya mati!" ucap Samuel enteng. Bisa tidak sih orang ini sedikit saja menghiburku? Kenapa malah membuat ku takut dan semakin khawatir?!


"Siapa yang akan kehilangan satu jari?" tanya Daniel. Mulutnya penuh dengan makanan.


"Aku mau lihat!" Daniel berseru, dia mengunyah dengan cepat dan meminum jus alpukat miliknya.


"Daniel, habiskan dulu makanan kamu!" seruku mengingatkan.


"Bungkus saja. Nanti biar aku makan sambil melihat kakek mengeksekusi orang itu!" ucapan Daniel membuatku melongo. Apa yang sudah ayah cekoki pada anakku? Ini tidak benar! Aku tidak mau anakku punya sifat psikopat!


Daniel beranjak pergi menarik tangan Samuel ke arah luar. Aku memijit pangkal hidungku yang berdenyut.


Sampai di mobil. Daniel duduk di kursi belakang, sedangkan aku di depan bersama Samuel.


"Sam, jangan racuni anakku dengan hal-hal yang berbau kekerasan! Dia masih anak kecil!" ucapku berbisik.


"Ini untuk melatih mentalnya! Dunia ini kejam, sayangku. Apalagi dengan status Daniel yang akan menjadi pewaris utama keluarga Rudolf! Orang ketiga terkaya di daratan Eropa!" ucap Samuel.


"Iya itu memang benar, tapi gak pantes juga kalian mengajarkan Daniel hal-hal yang belum waktunya!" kesalku.


"Kamu akan tahu kenapa ayah mengajarkan Daniel hal-hal seperti ini!" Samuel menjalankan mobilnya dan berbaur bersama dengan kendaraan lain.


Sampai di mansion utama. Daniel berlari kecil masuk ke dalam rumah, begitu juga aku. Selain mengkhawatirkan anak itu, aku juga mengkhawatirkan Devan.


Daniel berlari ke arah ruang kerja ayah.


"Pak Didi!" seruku saat melihat pria paruh baya itu di ujung lorong. Ku biarkan Daniel terus berlari dan menghilang ke dalam pintu ruang kerja ayah.


Pak Didi mendekat.


"Mana Devan? Ayah tidak melakukan hal yang aneh kan?" tanyaku memotong ucapannya yang sama sekali belum terucap.


"Tuan Devan ada di kamar nona!" ucap Pak Didi.


"Dia baik-baik saja kan?"


"Dia tidak..." sebelum pak Didi menyelesaikan ucapannya aku sudah berlari ke arah tangga. Aku lupa harusnya aku menaiki lift saja supaya lebih cepat sampai.


Pintu kamar aku buka. Terlihat Devan sedang duduk termenung di tepian ranjang. Aku mendekat, menatap Devan dari ujung kepala hingga kakinya. Tidak ada yang kurang dari sesuatu apapun. Aku menghela nafas lega. Jika ada yang bilang aku lebay, ya sudah lah. Terserah! Aku benar-benar khawatir dengan dia.


"Dev, kamu tidak apa-apa?" tanyaku. "Ayah tidak melakukan hal yang mengerikan kan?"


Devan menggeleng serah tersenyum. "Tidak, aku baik!" ucap Devan dia menarikku ke dalam pelukannya erat.


"Aku akan berjuang meski ayah kamu menolak!" ucap Devan. Ayah tidak melukai Devan secara fisik, tapi ayah melukai Devan secara psikis.


"Aku percaya kamu bisa!" ucapku.


"Ya, aku harus bisa!" Devan menambahkan.


"Mau ketemu Daniel?" tanyaku. Devan melonggarkan pelukannya dan menatapku. Ragu, takut, dan juga gugup.


"Ayo. Setelah makan siang Daniel harus latihan menembak. Dia tidak suka jika ada yang mengganggu!" ucapku.


"Daniel latihan menembak?" tanya Devan mengulangi ucapanku. Aku mengangguk. Devan menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa di percaya. Anakku lebih hebat dari pada aku!" ucap Devan. Huhhh... aku kira Devan akan protes mendengar Daniel latihan menembak di usianya yang masih kecil!