DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 186



Tiara melihat keberadaan Romi yang tak jauh darinya. Segera dia berjalan mendekat ke arah pria itu.


"Pak Romi!" panggil Tiara. Yang di panggil menoleh dan berhenti berjalan.


"Iya, Ra?"


"Apa Bapak baik-baik saja? Emm soal kemarin aku minta maaf karena pulang duluan." ucap Tiara tak enak hati.


"Tidak apa-apa. Saya tidak ada luka sedikit pun. Kami hanya menyelesaikan sedikit masalah kemarin itu. Selebihnya tidak ada." ucap Romi dengan senyuman, tak menyangka jika Tiara akan peduli padanya.


Tiara menghela nafas lega. Dia sempat takut jika terjadi apa-apa dengan Romi, tapi ternyata laki-laki kemarin itu tidak berbohong. Tak nampak luka lecet atau lebam di tubuh Romi.


"Syukurlah, Pak." ucap Tiara sambil mengelus dadanya.


"Apa kamu khawatir dengan saya?" Romi tersenyum semakin senang.


"Tentu saja. Bapak sudah baik menawarkan kami tumpangan. Dan kami meninggalkan bapak begitu saja. Maaf." Tiara menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.


"Tidak apa-apa. Kamu sudah makan siang? Mau makan siang bersama? Sebagai permintaan maafku karena tidak bisa mengantar kalian sampai di depan rumah." tawar Romi.


"Emm... itu... maaf..."


"Ayolah, aku sudah lapar! Kita makan bersama!" Romi menarik tangan Tiara ke arah kantin, Tiara terkejut dengan perlakuan Romi.


"Maaf, Pak. Tolong lepaskan tangan saya. Banyak orang yang melihat disini." ucap Tiara. Romi berhenti melangkah membuat Tiara juga berhenti.


"Oh, maaf. Maafkan saya. Saya tidak sadar. Kalau begitu... Mari... " Romi melepaskan tangannya dari Tiara dan lalu memberi sikap untuk membiarkan Tiara berjalan terlebih dahulu.


Tiara berjalan di depan Romi. Dia merasa risih dengan tatapan orang lain yang menatapnya bak kerupuk yang nikmat di makan atau yang mudah untuk di remukkan. Romi adalah pria yang cukup populer di kalangan karyawan pria. Banyak wanita yang mengejarnya bahkan terang-terangan menyatakan cinta.


"Silahkan duduk!" Romi menarik kursi untuk Tiara. Tiara terdiam di depan meja. Dia lalu berjalan ke arah lain dan menarik kursinya sendiri. Romi hanya bisa melongo melihat hal itu. Jika biasanya para wanita suka dengan perlakuan nya kenapa Tiara tidak?


Tiara duduk dengan tenang. Sedangkan Romi duduk di kursi yang tadi diperuntukkan untuk Tiara tadi.


"Trimakasih untuk segala kebaikan dan penghormatan Bapak kepada saya selaku wanita, tapi Bapak tidak perlu melakukan itu. Maaf jika saya menyinggung, tapi jika Bapak melakukan hal itu orang lain akan mengira kalau ada hal lain di antara kita!" ucap Tiara berusaha sopan. Dia tak perlu takut dengan pria ini, toh dia bukan atasannya dan tak akan bisa memecatnya.


Romi tertawa lirih. "Ya Oke. Aku memang hanya sedang berbuat sopan kepada wanita. Maaf. Mau aku pesankan apa?" tanya Romi, dia menggerakkan tangannya untuk memanggil pekerja kantin. Tiara menyebutkan makanan dan minuman yang dia mau pada gadis belia itu. Romi memperhatikan Tiara dengan seksama. Dia sangat suka dengan gadis ini. Semua tingkah laku dan gerakan Tiara dia sangat suka meskipun kini Tiara hanya diam sepeninggal penjaga kantin.


Jujur Tiara merasa risih, dia ingin pergi saja, tapi juga merasa tak enak hati. Terpaksa dia hanya diam dan memainkan hpnya di tangan, meski tak tahu apa yang dia lihat. Ingatkan lain kali untuk tidak dekat dengan pria ini.


"Aww... Sakit..!" Tiara mengelus pundaknya seraya menatap teman barunya ini.


"Ih kamu. Sakit tahu! Sudah kejutkan aku, bikin sakit pula!" cerca Tiara sambil mengerucutkan bibirnya.


"Tega, kamu asyik disini berdua gak ajak aku!" Cantik menarik kursi dan duduk di antara Romi dan juga Tiara. Tiara menghela nafas lega. Beruntung ada Cantik, jadi Tiara tak akan terlalu canggung dengan pria ini. Sedangkan Romi merasa kesana dalam hati, niat ingin makan siang berdua malah ada nyamuk datang dan mengganggu kesenangannya.


"Waaah, ada gado-gado! Apa ini kamu pesankan buat aku, Ra?" Cantik berseru. Dia mengambil alih satu piring yang baru saja ditaruh pekerja kantin di atas meja. Mengaduknya dan mengambil sayuran yang ada disana memakannya dengan nikmat.


"Eh... Itu punya Pak Romi!" Tiara berseru.


"Upss... Ini punya Bapak? Hehe... Maaf, Pak. Aku kira Tiara memesankan ini untuk saya!" Cantik menyengir menatap Romi dengan malu, dia tersenyum meringis memperlihatkan deretan giginya yang putih. Menggeserkan piring gado-gado itu ke dekat Romi.


"Tidak apa-apa, buat kamu saja! Saya akan pesan yang lain!" ucap Romi menahan dongkol di hati.


"Kalau begitu, Bapak makan yang ini saja. Biar saya pesan yang lain. Maaf atas kelancaran teman saya!" Tiara meminta maaf pada Romi. Dia menggeserkan piring miliknya ke hadapan Romi.


"Tidak apa-apa, Ra. Saya tidak keberatan!"


"Benar, tidak apa-apa ini buat saya, Pak?" Romi mengangguk sebagai jawaban pertanyaan Cantik. "Trimakasih, Pak. Bapak memang yang terbaik!" Cantik berseru sambil mengacungkan dua ibu jarinya, tak lupa dengan senyum terbaik yang dia miliki.


"Kalau begitu saya akan pesan lagi. Kalian makan duluan saja makan, Oke?!" titah Romi.


"Oke, Pak!" Seru Cantik, sedangkan Tiara hanya tersenyum kecil. Romi bangkit dan berjalan meninggalkan dua orang gadis itu.


"Lumayan enak juga!" ucap Cantik dengan menaikkan kacamata tebalnya ke tempat yang benar.


"Kamu ini gak sopan!" Tiara memukul lengan Cantik atas kelakuannya tadi.


"Sakit, Ra. Aku kan ngelakuin itu karena lihat kamu kurang nyaman dengan dia." sungut Cantik pada Tiara. Memang benar apa yang di katakan Cantik. Tiara memang tak nyaman dengan pria itu.


"Lagian kamu juga tadi kenapa gak tunggu aku dari toilet?"


"Kamu lama, dan tadi aku lihat Pak Romi dan mendekat untuk meminta maaf soal kemarin, tapi malah diseret kesini!" sungut Tiara.


"Ya sudah, cepetan makan. Ntar dia keburi balik lagi kesini!" titah Cantik. Tiara segera memakan makanannya dengan cepat.