
"Kalian datang?" Suara seorang pria mendekat ke arah mereka berdua. Berjalan dengan gagah dengan setelan jas rapi dan sepatu hitam mengkilat. Tiara dan Cantik menoleh secara bersamaan.
"Ya. Tentu kami datang! Makan enak siapa yang akan menolak! Hehe...." Tiara yang berucap membuat Cantik ikut tertawa kecil begitu pula dengan Romi. Tiara memutuskan untuk membuat dirinya jatuh di mata Romi, dia tidak ingin pria itu terus mendekatinya. Namun, pria ini seakan tak kenal lelah dan tak masalah dengan sikap urakan Tiara akhir-akhir ini.
"Kalian berdua sangat cantik sekali!" tapi pandangan Romi hanya tertuju pada Tiara seorang. Tiara sangat cantik dengan dress biru muda sebatas lutut. Rambutnya di gerai dibuat ikal di depan.
"Terimakasih, Pak Romi. Memang kami berdua cantik sedari dulu. Dan itu juga namaku. Cantik! Hehe..." kali ini Cantik yang berujar dengan tak tahu malunya. Tuhuannya membuat Romi kesal dan pergi karena sikapnya. Tapi namanya pria jika dia sudah suka, pepet terooos meski Tiara mengatakan jika sudah mempunyai calom suami.
Romi tersenyum. "Ya kau terlihat beda Cantik. Mana kacamatamu? Kau akan tersandung jika tak memakai kacamata!"
"Kau sedang perhatian atau sedang mengejekku, Pak?" tanya Cantik kesal. Romi tertawa. Memang terlihat sangat manis dan menawan, tapi Tiara sama sekali tak tertarik pasa pria ini. Pikirannya masih lekat pada kenyataan yang selalu dia anggap sebagai mimpi.
"Oh, Aku sungguh minta maaf kalau kau tersinggung dengan ucapanku. Tapi aku memang khawatir kalau kau tersandung, kau akan jatuh dan aku tak punya permen untuk menghentikan tangismu!" hardik Romi. Cantik memutar bola mata malas. Pria ini memang menarik tapi juga menyebalkan! Romi tertawa melihat wajah Cantik yang berubah kesal.
"Tidak apa-apa. Aku tidak butuh permen! Sekarang sana kau pergilah. Jangan membuat mood kami buruk dan membuat make up kami yang sudah maksimal ini jadi rusak dan terlihat jelek! Huss... Sana...!" Cantik menggerakkan tangannya membuat gerakan mengusir. Cantik tak peduli mau dia tidak sopan atau apalah, dia sudah kesal melihat pria ini. Romi hanya terkekeh tak peduli.
"Hehe... Kau sungguh lucu, Pak. Aku harap Bapak segera mendapatkan istri, supaya Bapak tidak lagi mengganggu yang lain dengan ucapan konyol Bapak!" ucap Cantik menatap malas pada Romi. Tiara hanya bisa tertawa kecil melihat perdebatan dua orang ini. Sepertinya akan sangat cocok jika mereka berdua bersama. Setiap hari akan selalu ada obrolan yang tak akan ada habisnya.
"Aku serius, Cantik. Aku bertanya kemana kacamatamu? Dan apa kau memakai softlens?" sanggah Romi.
"Ya aku memakai softlens, dan kacamata aku tinggal di kost-an. Tak nyaman memakai kacamata di acara seperti ini, tidak cocok dengan gaunku!" Cantik memutar dirinya ke kanan dan kiri bak anak TK yang memamerkan gaun barunya.
"Apa aku terlihat aneh tanpa kacamata?" tanya Cantik pada Romi lalu berganti menatap Tiara.
"Oh tidak. Kau sangat cantik, sesuai dengan namamu!" tukas Romi. Cantik tersenyum dengan lebar, senang akan pujian yang di berikan Romi.
"Ayo kita bergabung dengan yang lain. Aku akan kenalkan pada teman-temanku!" Romi menadahkan telapak tangannya pada Tiara untuk disambut.
"Terimakasih, Pak!" Senyum Romi lebar saat tangan halus itu menggapai tangannya. Dan semakin lebar saat menatap matanya....