DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 43



Apartemen Devan.


"Anye, honey!" Devan mengguncang bahuku pelan. "Ayo kita makan malam, dari siang tadi kamu makan cuma sedikit." Aku yang hanya pura-pura tidur membuka mata. Perkataan mama tadi membuat aku hanya ingin menangis menyendiri, tapi aku tidak bisa menangis. Sepertinya air mataku pilih-pilih waktu untuk di keluarkan.


"Aku gak lapar, Dev." cicitku masih malas bangun.


"Ke dokter ya?" aku menggeleng pelan.


"Aku gak sakit, Dev. Kamu saja yang makan." usirku mendorong tangannya.


"Kamu mau makan apa? Aku akan masak yang kamu mau, asal kamu mau makan." perhatiannya calon suamiku ini.


"Gak mau, tidur saja." ku naikkan selimut hingga menutupi seluruh tubuhku hingga kepala.


"Dasar kepala batu!" gumamnya kesal, masih bisa terdengar di telingaku. Devan masih belum mau menyerah. "Kita makan di luar?"


"Gak." ucapku dari dalam selimut.


Tiba-tiba tubuhku terangkat bersama dengan selimut. Siapa lagi kalau bukan Devan pelakunya.


"Kamu harus makan sayang, aku gak mau anakku sampai kelaparan!"


Devan membawaku ke pantry plus dengan selimutku. Dasar pemaksa!


Akhirnya kami makan. Devan terus saja menyuapiku dengan sayur sop penuh bakso dan sosis yang aku suka.


"Dev, besok aku mau ketemu mama ya." meminta izin lebih baik daripada dia harus tahu dari Samuel, dan berujung dengan kemarahan.


"Tapi aku besok ada meeting. Lusa saja ya?" tanya nya.


"Tapi aku kangen mama, aku juga ingin dengar cerita tentang ibu kandung aku." rengekku.


Devan menghela nafas berat. Dia pasti takut sepulang dari usaha untuk bertemu mama aku akan mengurung diri di kamar seperti sebelumnya. Aku memang belum berhasil bertemu dengan keluargaku lagi, mama ataupun kak Melati. Setiap kali aku kesana hanya cacian dan makin yang aku dapat dari kak Mel. Atau jika kak Melati tidak ada, satpam yang bersikukuh tidak membukakan pintu untukku.


"Ya Dev, boleh ya." memasang puppy eyes di mataku, berharap sayangku ini akan luluh. Ish sayang?😆


"Ya sudah, aku akan kirim satu pengawal lagi buat kamu. Dua pengawal lebih baik." Rasa takutnya berlebihan. Memangnya dia takut apa sih?


"Ya sudah terserah kamu. Aku cuma pengen ketemu mama." Tidak mau mendebat soal pengawal, daripada ujung-ujungnya tidak di perbolehkan keluar dari apartemen. Menerima suapan lagi untuk ke sekian kalinya hingga habis isi di atas piring.


Devan terkikik pelan.


"Kenapa ketawa?" tanyaku heran.


"Tidak lapar?!" tunjuknya pada piring kosong yang dia angkat. Ternyata aku sudah makan banyak. Aku memasang muka cemberut. Dia menertawakan aku? Dasar!


"Mau tambah tidak?" ucapnya sambil menyendok kembali nasi dan sayur.


"Sudah, kenyang." daripada nanti aku muntah, sayang makanan dan perutku.


"Oke." Lalu dia makan dengan memakai piring bekasku. Apa dia gk jijik gitu? Atau malas mencuci piring banyak-banyak? Devan makan dengan lahap. Sepertinya dia lapar, tapi dia selalu menyuapiku terlebih dulu sebelum dia makan, seperti itu lah hari-hari kami di meja makan.


Sebelum tidur Devan membuatkan ku susu khusus rasa strawberry. Aku penyuka strawberry sekarang!


"Minum dulu. Kalau sudah dingin gak enak." Devan duduk di tepi ranjang, memastikan aku menghabiskan susu itu di depan matanya.


Devan tersenyum saat aku minum dan menyerahkan gelas kosong itu. Mencium keningku lama, dan mengelus perutku. Terakhir, mencium perutku dan mengajak buah hati kami bicara. Ayah yang baik.


"Dev, kamu gak mau gitu tidur disini?" Aku menepuk ranjang kosong di sampingku. Devan tersenyum miring.


"Aku mau. Tapi takut!"


"Takut kenapa?" aku bingung.


"Takut kamu terkam!" bisiknya di telingaku. Membuat aku malu mengingat kejadian kemarin.


Cup.


Ciuman singkat di bibirku.


"Tidur!" titahnya. "Minggu depan saja kalau kita sudah halal." Aku menghambur ke pelukannya. Tidak menyangka Devan bisa berkata dengan bijak. Devan mengelus rambutku lembut. Kalau pria lain mungkin tanpa aku suruh, akan memaksaku tidur datu ranjang


"Maaf, gara-gara aku hidup kamu jadi susah." cicitnya lirih.


Aku mengurai pelukanku.


"Ya sudah sana tidur." usirku. Daripada Devan melihat aku menangis


Lagi, Devan mengecup lembut keningku sebelum keluar dari kamar.


"Happy nice dream!"


"You too."


Aku membaringkan tubuhku, Devan menaikkan selimutku hingga ke dada, lalu keluar dari kamar. Ku pandangi punggung Devan hingga menghilang di balik pintu.


......**......


Sepulang sekolah, aku kembali ke rumah mama dengan Samuel, dan satu lagi entah siapa namanya. Devan terlalu berlebihan!


Seperti biasa, aku harus mendebat pak satpam untuk bisa masuk ke dalam rumah. Kepalaku sampai pusing, aku emosi karena di larang bertemu dengan mama yang sudah membesarkanku.


Samuel dan rekannya mendekat lalu dengan sigap menarik satpam itu dari celah pagar hingga membentur pagar besi dan membekuk satpam itu dari luar pagar. Satpam merintih kesakitan, dengan tangan yang ada di belakangnya.WOW, hebat! Aku harus belajar bela diri seperti mereka!


"Silahkan masuk Nona." ucap Samuel membuka pintu dengan kunci yang di rebut nya dari tangan pak satpam. Aku segera berlari dengan Samuel di belakangku.


"Jangan lari nona, ingat pesan tuan muda!" Sam memperingatkan tapi aku tidak peduli, sudah tidak sabar ingin bertemu mama.


"Mama!" teriak ku mencari mama. Seorang asisten rumah tangga setengah berlari ke arahku.


"Mbak? Ada apa mbak kesini?" wajahnya terkejut, mungkin heran kenapa aku bisa ada disini.


"Mama kemana?" tanyaku cepat.


Awalnya asisten itu tidak mau membuka mulutnya, tapi karena ancaman Samuel akhirnya dia memberitahu kalau mama di lantai atas, di kamarku. Ada gunanya juga membawa dua pengawal kesini!


Kembali aku melarikan diriku namun di tahan Samuel.


"Jangan lari nona! Ingat kandungan anda!" Ah ya ampun!


"Iya baiklah!"


"Saya akan tunggu disini. Berjaga-jaga kalau dia tidak akan macam-macam!" ucap Samuel.


"Oke, terserah kamu!" lalu dengan berjalan cepat aku menaiki tangga tidak sabar ingin bertemu mama.


Pintu kamarku terbuka. Ku lihat mama sedang menangis dengan memeluk boneka milikku.


"Mama." panggilku. Mama menoleh dan terkejut melihat aku berdiri disini.


"Anye?" mama bangkit menyimpan boneka ku ke kasur. "Benar ini Anyelir anak mama?" kami saling mendekat dan saling memeluk dengan erat. Air mataku tidak bisa ku bendung lagi. Rasa rindu yang sudah menggunung pada mama setelah lebih dari seminggu pergi dari rumah ini.


Tubuh mama berat, pasti kakinya lemas. Aku memapahnya ke atas kasur. Mama menciumi wajahku berkali-kali.


"Mama kangen kamu nak. Kamu baik kan? Anak kamu bagaimana?" mama memberondongku dengan pertanyaan.


"Anye baik ma. Mama gak usah nagis lagi, Devan menjaga Anye dengan baik kok." Mama mengangguk.


"Maafin Anye ma. Maaf."


"Mama sudah tahu. Itu semua bukan salah kamu. Beberapa hari yang lalu Nanda dan yang lainnya kesini. Mereka sudah cerita apa yang menimpa kamu. Kamu di jebak nak? Kenapa kamu gak pernah cerita sama mama, hem? Kamu gak anggap mama?" mama memukul dadanya. Aku berusaha menahan tangan mama.


"Mama percaya?" tanyaku. Mama mengangguk.


"Aku cuma takut ma. Aku gak mau kak Mel sampai bunuh diri lagi seperti dulu. Makanya aku gak cerita sama kalian. Maaf." mama mengusap air mata di pipiku.


Mama berdiri dan mengambil sesuatu di dalam laci. Sebuah foto seorang wanita muda cantik, mirip diriku sedang menggendong seorang bayi. Aku tidak ingat ada foto itu di laci nakasku.


"Apa ini ibuku?" tanyaku. Mama mengangguk. "Ceritakan semua tentang ibuku ma. Kenapa Kak Melati menyebut ibuku wanita penggoda?" Mama menangis semakin tergugu.


"Jangan sekarang Anye. Sebentar lagi papa pulang. Mama akan cerita kan nanti. Lebih baik kamu pulang saja. Ingat ibu kamu bukan wanita penggoda. Dia wanita baik-baik." tutur mama. Lalu mama menarikku turun ke bawah membawaku ke kamarnya. Dengan cepat mama membuka lemari dan mengeluarkan sebuah kotak.


"Ini. Jika mama tidak bisa hadir pada hari pernikahan kalian, mama minta maaf. Ini milik kamu sejak bayi. Dan ini..." Mama membuka satu lagi kotak yang lain dan memberiku sebuah cincin dengan berlian kecil sebagai penghiasnya. "...anggap ini hadiah untuk pernikahan kamu. Maaf, mama tidak bisa menyiapkan hadiah buat kamu sayang. Semoga kamu bahagia bersama suami dan anak kalian. Jangan fikirkan Melati. Mama yang akan urus Melati."


Seandainya mama tahu apa yang sudah kak Melati perbuat kemarin.


"Cepat pergi, sebentar lagi papa akan pulang. Mengenai satpam dan asisten biar mama urus mereka supaya tidak melapor pada papa. Mama tidak mau papa mengamuk melihat kamu disini." ucap mama dengan berlinang air mata.


"Bagaimana dengan mama?" tanyaku. "Ikut sama Anye, ma!"


"Mama baik-baik saja. Cepat."


Aku menurut. Mungkin lebih baik seperti ini daripada membuat mama semakin kesulitan karena aku.


Mama memelukku erat, dan mengelus perutku, masih berderai air mata.


"Jaga cucu mama dengan baik."


Dengan berat hati aku pergi meninggalkan mama. Setidaknya aku tenang setelah mama bilang ibuku bukan wanita penggoda.


"Maafin Anye, ma." lirihku. Mama mengangguk dengan senyuman di wajahnya. Tapi air mata terus mengiringi padangannya akan kepergianku.


Samuel membukakan pintu mobil. Aku masuk dan melambaikan tangan pada mama. Berat sekali rasanya meninggalkan mama yang selama ini membesarkanku dengan kasih sayangnya.


Kenapa hidupku penuh drama seperti ini?


...