
Berharap apa aku? Devan malam ini tidak akan pulang, dan entah kapan dia akan datang. Mama bisa kapan saja berbuat kasar padaku! Dia mencoba membuat aku stress dan mungkin berharap aku gila, jika ia masih bisa sabar tentunya, dan jika ia tidak sabar mungkin akan menaruh racun pada minumanku. Instan!
Aku beranjak bangun dari atas kasur, mengambil tas sekolahku. Satu buah buku yang menjadi buku harianku, tepatnya aku hanya menulis jika ada sesuatu yang menyakitkan tapi tidak bisa aku ungkapkan. Semua perlakuan mama padaku selama ini, sisanya aku selipkan kesepian karena aku sendirian disini, ada kebahagiaan, kenangan manis dengan suamiku, dan perasaan bahagia dengan hadirnya buah hati kami.
Selesai dengan curahan hatiku. Aku menulis sesuatu untuk suamiku. Terserah dia mau baca atau tidak. Aku hanya sedang merasa marah sekarang, tidak bisa melampiaskan pada orang lain hanya bisa aku curahkan saja pada lembaran kertas putih ini. Aku benci kamu Dev, tapi aku masih cinta kamu! Kamu hanya sedang bingung, sedari dulu kamu tidak bisa menolak apa yang mama dan papamu bilang. Kamu masih saja menurut dan percaya pada mereka. Tapi aku yakin kamu juga tidak benci aku kan?
Aku menangis, rasanya berat sekali jika berfikir untuk pergi dari sini. Tapi aku juga tidak tahan melihat kamu, wajah kamu marah, tapi sorot mata kamu masih penuh cinta buat aku. Kamu hanya sedang bingung!
Bersiap dengan jaket di tubuhku. Satu buah koper kecil sudah aku tenteng, cukup beberapa baju dan uang cash yang aku punya, sisanya aku tidak bawa, semua kartu yang Devan berikan aku tinggalkan bersama buku tadi.
Cukup sudah! Maaf Dev, kamu sendiri yang ingin aku pergi tadi bukan? Biar kan saja kalau aku egois dan kekanakan. Aku memang belum terlalu dewasa! Tapi aku pasti bisa mengurus anakku sendirian, aku bisa bekerja. Hanya saja...aku bingung, kemana aku akan pergi?!
Berfikir beberapa saat, aku kira lebih baik ke rumah Nanda, itu pilihan yang cukup baik. Nanda sudah mengerti aku dan Devan sedari dulu. Sedangkan Sofia, dia pasti akan melapor pada bang Ed, aku tidak mau mengganggu pria itu, Bang Ed bisa saja murka dia pulang kesini dan membawaku kabur, meskipun itu kedengarannya bagus tapi aku tidak mau mengganggu. Dia sedang belajar untuk bisa menggantikan posisi papinya.
Nayara, dia terlalu ember! Kalau Devan cari aku bisa saja dia bilang aku ada disana, bagaimana kalau aku di seret pulang ke apartemen? Hahh... berharap apa aku? Dev akan cari aku dan bawa aku pulang? Aku gila, justru dia yang usir aku tadi!
Membuka pintu apartemen sedikit, bodyguard sedang berdiri disana. Devan ingin aku pergi, tapi masih menugaskan penjaga disini?
"Nona mau kemana?" tanya bodyguard itu menatap penampilanku ke atas dan ke bawah.
"Aku mau pergi!" ucapku.
"Tidak boleh pergi nona! Tuan muda melarang anda pergi!" dia berkata dengan nada dingin.
"Kamu tahu dia sendiri yang usir aku, lalu kenapa aku harus berada disini?"
"Maaf, tapi tuan muda benar-benar melarang anda untuk meninggalkan unit! Silahkan anda masuk kembali."
Aku kembali dan menutup pintu.
Dev itu kenapa sih? Bukannya dia sendiri yang usir aku tadi, dan sekarang bodyguard nya bilang aku tidak boleh pergi! Apa yang dia mau? Apa dia ingin siksa aku sampai aku mati disini?
Aku kembali ke kamarku. Berbaring di atas ranjang. Menutupi kedua mataku dengan menggunakan lengan. Jaket dan sepatu masih terpasang di badan.
Entah berapa lama aku seperti itu. Pintu kamar terbuka. Devan terlihat mendekat, penampilannya kacau dengan jas tersampir di pundaknya. Aku melihatnya dari sudut mataku.
"Mau kemana kamu?" Tanya Dev, nada suara dingin yang sudah terdengar biasa untukku.
"Tentu mau pergi." ucapku tanpa menurunkan tanganku dari sana.
"Kamu punya tempat tujuan?"
"Kemanapun, asal tidak disini!"
Kurasakan Devan menarik tanganku hingga aku terduduk.
"Bukanya kamu yang usir aku tadi? Kalau sudah tidak percaya buat apa aku bertahan disini Dev? Sikap kamu yang tidak percaya sama aku membuat kita berdua sakit hati!" ucapku dengan nada sama dinginnya. Menatap mata Devan yang terlihat berkaca-kaca.
"Itu karena kamu! Aku sudah salah selama ini membiarkan kamu dekat dengan pria itu!"
"Bukan dia yang salah! Kamu yang melarang aku keluar dari sini, aku tidak punya teman untuk bicara!"
"Hahh alasan!!" Devan mendorong ku ke kasur, di memagut bibirku dengan kasar pula, rasa pahit, dan bau yang tidak enak terasa jelas di tubuhnya, apa Devan mabuk?
Aku tidak bisa melawan saat Devan melucuti satu persatu baju di tubuhku. Tenaganya terlalu besar, apalagi dia mabuk, bisa saja dia menyakitiku lagi dan anakku. Aku hanya bisa pasrah menerima perlakuannya meski perutku terasa sedikit sakit karena aku juga masih belum pulih, dokter bilang untuk tidak melakukan hubungan selama seminggu, tapi sekarang...sudahlah aku kira tidak akan ada apa-apa, Dev juga melakukannya cukup lembut kali ini.
Devan tertidur dengan lelap. Wajahnya terlihat lelah, keringat di dahinya masih terlihat jelas. Kuusap pipinya yang kini sedikit kurus.
Aku cinta kamu Dev, tapi kalau aku terus bertahan disini aku tidak yakin akan kuat, bisa saja aku mati di bunuh atau bahkan aku yang membunuh diriku sendiri.
Ku kecup bibirnya yang manis, tidak akan pernah aku lupakan rasa bibir ini selamanya.
Setelah membersihkan diriku, aku segera bersiap. Hanya baju biasa dan aku memakai sandal jepit yang aku biasa kenakan. Hp ku masukan ke dalam dompet, beruntung tali dompet ini bisa aku kalungkan di leherku dan aku sembunyikan dompetku di balik baju.
Mengambil kunci kamar dan aku genggam erat di tangan. Lalu aku ke arah pintu, bodyguard tadi masih berdiri tegak disana.
"Hei, kamu." Panggilku, dia menoleh.
"Iya nona?"
"Devan sedikit demam, mungkin terlalu banyak minum, bisa kamu tolong periksa dan kalau perlu panggilkan dokter?" titahku.
"Kenapa tidak nona saja yang telfon dokter?" dia bertanya balik. Sungguh tidak sopan, tidak patuh. Dia menyebalkan! Aku melipat kedua tanganku bersikap seolah aku sedang benar-benar marah dan kesal.
"Tidak mau! Kamu tahukan kami sedang marahan. Aku tidak mau dia besar kepala dan fikir aku masih perhatian dengan dia, aku masih marah! Jadi sana, periksa dan panggilkan dokter!"
Dia menurut, melangkah sampai ke dalam kamar, lalu mendekat ke arah Devan sedangkan aku menunggu di depan pintu kamar. Memegang handel pintu kemudian menutupnya dan menguncinya.
Terdengar gedoran dari dalam kamar. Aku tidak peduli! Aku melemparkan asal kunci itu dan kemudian berlari. Perutku sebenarnya agak sakit, tapi akan lebih sakit lagi kalau aku tetap bertahan disini.
Sial. Aku tidak bisa pakai lift. Lift itu sedang ada yang pakai. Aku bisa perkirakan kalau itu pengawal Devan yang lain. Di bawah, di unit yang dulu di pakai Samuel, sekarang menjadi tempat dua pengawal baruku. Mereka akan bergantian saat malam menjaga unitku. Aku baru sadar kalau aku ini tahanan rumah!
Aku bersembunyi di lorong lain, di ujung sebenarnya ada tangga darurat, tapi akan butuh waktu lama jika aku pakai tangga itu. Dan aku tidak akan sanggup berlari dengan keadaan kondisi ku yang kurang fit!
Pintu lift terbuka, benar saja satu orang bodyguard keluar berlari dari sana, pastilah orang yang aku kurung tadi meminta bantuan segera.
Setelah menunggu beberapa saat dan aku yakin dia masuk ke dalam apartemen Devan, aku bersiap untuk berlari ke arah lift. Tapi seseorang membekapku dari belakang. Dan dia menyeretku ke ujung, ke arah tangga darurat.
Apa aku ketahuan?!