Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
HANYA DIA YANG ADA DI HATIKU



"Om Aaron...." Dengan suara bergetar karena kaget setelah menyadari dia hampir saja terjatuh jika saja Aaron tidak memeluknya, Chiara berkata sambil sedikit menjauhkan tubuhnya dari Aaron, sehingga mau tidak mau, Aaron melepaskan salah satu lengannya yang awalnya sedang memeluk Chiara dengan begitu erat.


Bukan hanya sekedar berdebar karena kaget, jantung Chiara berpacu hebat karena untuk pertama kalinya, dia berada dalam pelukan seorang pria, yang bukan merupakan kerabatnya.


Dan yang membuat Chiara begitu sulit mengendalikan debaran itu, karena pria yang tadi sempat memeluknya begitu erat, adalah laki-laki yang beberapa waktu ini sudah memenuhi pikirannya, laki-laki yang disadari sepenuhnya oleh Chiara bahwa laki-laki itu, sangat disukainya.


Sedang Aaron sendiri, dengan kemampuan supernya, secara otomatis, dia bisa langsung mendengar dengan jelas bagaimana jantung Chiara berdetak dengan hebat saat tubuhnya berada dalam pelukannya, meskipun Aaron tidak berani serta merta mengartikan debaran jantung Chiara, apakah itu karena takut, atau karena hal lain.


Dan entah kenapa, dalam sudut hatinya yang paling dalam, meskipun Aaron berusaha keras untuk menyangkalnya, Aaron sempat berharap bahwa jantung Chiara berdetak dengan begitu kencang, bukan sekedar disebabkan karena kaget.


Menyadari itu, bukannya merasa tenang, dada Aaron justru semakin berdebar dengan begitu kencangnya seperti genderang perang yang ditabuh dengan cepat, membuat nafasnya hampir tersengal-sengal.


My little girl, kalau kita selalu saja mengalami kejadian seperti ini... bagaimana bisa aku dengan tenang pergi meninggalkanmu? Kamu membuatku semakin mengkhawatirkanmu. Tapi aku harus bisa menghentikannya, sebelum semuanya terlambat, dan aku menyesal di masa depan karena membuatmu celaka, jika aku terus berada di dekatmu.


Aaron berkata dalam hati sambil berdehem pelan, sebuah kebiasaan yang selalu dilakukan Aaron akhir-akhir ini untuk mengendalikan dirinya saat berada di dekat Chiara.


"Ap... apa kamu... baik-baik saja Chiara?" Aaron bertanya dengan suara tergagap, suatu hal yang belum pernah terjadi padanya yang selama ini selalu bisa tampil tenang dan datar tanpa ekspresi.


"Ba... baik... Om Aaron.... Aku tidak apa-apa." Dengan tidak kalah gugupnya, Chiara berusaha menjawab pertanyaan Aaron tentang kondisinya.


"Syukurlah... maaf karena aku langsung membuka jendela tanpa memikirkan kemungkinan kamu yang kaget karena kerasnya hembusan angin dari atas gedung ini." Aaron berkata dengan suara yang sudah mulai tenang kembali, dan mata ambernya menatap ke arah Chiara dari atas ke bawah, memastikan gadis itu memang baik-baik saja.


"Maaf Om Aaron, aku yang salah, karena melamun, jadi tidak awas dengan keadaan sekitar." Chiara berkata sambil menoleh ke belakang, dimana kaca itu sudah terbuka setengahnya.


"Iya, kita berdua sama-sama ceroboh hari ini. Lain kali, hati-hati jika kamu berada di dekat jendela ini." Aaron berkata pelan, ditanggapi dengan sebuah anggukan kecil dari Chiara yang sedang terpesona, menatap pemandangan yang ada di belakangnya.


Di luar sana, menunjukkan pemandangan malam yang sangat indah, disertai tiupan angin malam yang cukup dingin, tapi terasa begitu menyegarkan bagi Chiara.


Apalagi ini adalah untuk pertama kalinya Chiara merasakan kebebasannya dari segala tekanan yang dia dapat dari Mona dan Revina, membuat seolah-olah hembusan angin itu ikut membawa pergi semua beban dan rasa tertekan yang selama begitu menghimpitnya selama dia tinggal dengan Mona dan Revina.


Sampai pada akhirnya, Chiara menempelkan tubuhnya pada tembok pembatas balkon, dengan senyum ceria tersungging di wajahnya, menunjukkan kalau dia sangat menyukai pemandangan malam dari tempat itu.


"Pemandangan dari sini, sangat indah sekali ya Om. Om Aaron beruntung bisa memiliki kamar dengan posisi yang keren seperti ini. Om pasti juga suka menikmati suasana malam seperti ini." Chiara berkata sambil menoleh ke arah Aaron yang sudah berdiri di sampingnya, sambil meletakkan kedua tangannya yang terlipat, di atas tembok pembatas balkon.


"Benar." Aaron menjawab pendek, dengan mata ambernya menatap lurus ke depan, menembus gelapnya malam, yang bahkan bisa melihat dengan jelas lalu lalang orang yang berjan di trotoar saat ini, juga apa saja yang sednag dilakukan oleh beberpa orang di bawah sana dengan sangat detail, seolah dia sedang berada di sana


Chiara langsung tersenyum mendengar jawaban Aaron meskipun sangat singkat.


Sekilas, Chiara memandang ke arah Aaron dari samping, untuk waktu yang tidak sebentar.


Sosok Aaron dengan rahang yang memiliki garis tegas, membentuk wajahnya yang tampan, mata jenis amber, hidung mancung, bibr tipis, dengan pakaian santai berupa t shirt jenis slim fit, berlengan pendek dan celana jeans berwarna terang, membuatnya terlihat begitu tampan dan menarik, juga terlihat jauh lebih muda dari usianya sekarang.


Om Aaron, semoga setelah aku berhasil melewati 4 tahun ini dengan baik. Aku bisa menjadi gadis hebat seperti yang diharapkan om Aaron, sehingga om Aaron bisa benar-benar menyukaiku, dan tetap menjadikanku istrinya di masa depan. Aku benar-benar menyukaimu om Aaron. Rasanya di dunia ini, tidak akan pernah ada laki-laki yang bsia menggantikan om Aaron di hatiku.


Chiara berkata dalam hati sambil tersenyum dan dengan gerakan pelan, mulai mengalihkan pandangan matanya dari Aaron, yang tanpa diketahui oleh Chiara, melirik Chiara dari sudut matanya, melihat manisnya senyum Chiara saat memandanginya tadi, membuat Aaron menarik nafas panjang, dengan keningnya yang berkerut, seolah ada beban berat yang sedang menghimpit dadanya saat ini, yang tidak diketahui oleh siapapun.


Sebuah ketukan pelan dari arah pintu kamarnya, membuat Aaron maupun Chiara langsung menoleh ke arah pintu kamar secara bersamaan.


"Ayo kita masuk kembali ke kamar, sepertinya makan malam sudah siap." Aaron berkata sambil membalikkan tubuhnya, berjalan kembali ke arah dinding kaca yang terbuka, diikuti oleh Chiara yang mengekor di belakangnya, dengan wajah cerianya yang cantik, yang hampir saja membuat Aaron terus menoleh ke arahnya.


Setelah Chiara masuk kembali ke kamarnya, dengan gerakan cepat, Aaron segera menutup kembali dinding kaca kamarnya dengan remote yang kembali diraihnya dari atas meja, dan melanjutkan gerakannya untuk mendekat ke arah pintu kamar.


Begitu pintu dibuka oleh Aaron, tampak Zachary berdiri di balik pintu dan langsung tersenyum.


"Pak Aaron, makan malam sudah siap." Zachary berkata sambil tetap tersenyum.


"Baik, kita makan malam, setelah itu, kita selesaikan urusan kita selanjutnya sebelum aku pulang ke rumah. Apa kamu sudah menyiapkan semuanya Zachary?" Aaron berkata sambil berjalan keluar dari pintu kamarnya, sedang Chiara menyempatkan dirinya menoleh sekali lagi ke arah kamar Aaron, sebelum meninggalkan kamar Aaron yang meninggalkan kesan dingin bagi orang lain, tapi bagi Chiara, kamar itu sungguh terlihat nyaman untuknya.