Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
MALAIKAT PENJAGA CHIARA



Dalam suasana yang begitu sunyi, Aaron bisa mendengar percakapan banyak orang melalui telinga supernya.


Mulai dari suara orang marah, pembicaraan antara penjual dan pembeli, ayah yang sedang bercanda dengan anaknya, ibu yang sedang meninabobokan anaknya, suara seorang bayi yang menangis karena lapar, suara orang yang sedang berbincang dengan teman-temannya, atau keluarganya, bahkan seorang pria yang sedang merayu wanitanya.


Suara-suara itu, termasuk satu suara indah yang membuat Aaron tersenyum, suara Chiara yang sedang melakukan panggilan telepon dengan Grace dan Jaka, sibuk memamerkan acaranya sepanjang sore sampai malam tadi dengan Aaron.


Juga sibuk menceritakan tentang bagaimana indahnya gaun pengantin yang akan dikenakannya saat hari pernikahannya.


Aaron bukan tipe orang yang suka dengan sengaja mencuri dengar pembicaraan oang lain, tapi entah kenapa, beberapa hari ini dia justru sibuk mendengarkan dan fokus pada suara Chiara, meskipun tidak setiap waktu dia mendengarkan.


Anak ini... hampir tengah malam masih sibuk mengobrol dengan teman-temannya, padahal besok dia masih harus masuk sekolah. Ke depannya Zachary harus membuat jadwal ketat untuk Chiara agar dia tidak terus-terusan bergadang. Setelah pindah ke apartemen, aku juga akan mencarikan asisten rumah tangga yang cukup disiplin agar Chiara tidak hidup seenaknya dan terlalu bebas meskipun dia tidak lagi dalam pengawasan om dan tantenya. Dia harus tumbuh menjadi gadis baik-baik dan mengagumkan.


Aaron berkata dalam hati sambil menarik nafas panjang, dengan keningnya yang sedikit berkerut karena mengetahui sampai jam semalam ini, Chiara masih mengobrol dengan Grace dan Jaka.


Hanya sekilas Aaron mendengarkan suara obrolan mereka karena dia juga tidak ingin dianggap sebagai orang kurang kerjaan dan tidak sopan, menguping pembicaraan orang lain, apalagi Chiara terdengar sudah berencana mengakhiri panggilan teleponnya dan berencana tidur.


Setelah beberapa waktu Aaron mencoba memejamkan matanya namun tidak berhasil, pada akhirnya dia memilih untuk mengganti pakaiannya dan mulai keluar, melompat dari atap gedung tinggi ke atap gedung lainnya, mencoba menikmati suasana malam yang hari ini tampak berawan, sehingga tidak ada bintang satupun yang terlihat.


Cukup lama Aaron berada dalam kegelapan dan seorang diri dalam kesunyian, berdiri menatap menembus kegelapan malam.


Namun suasana gelap malam hari ini, tidak membuat Aaron merasa kesepian, karena dari tempatnya berdiri, dilihatnya sosok gadis kecilnya sedang meringkuk, menikmati tidur malamnya, dengan jendela yang terbuka seperti biasanya.


Dengan gerakan cepat, Aaron bergerak ke arah balkon kamar Chiara, berdiri di sana selama beberapa saat ke depan, lalu menutup tirai jendela kamar Chiara.


Namun tiba-tiba Aaron menghentikan gerakannya, dan kembali membuka tirai jendela Chiara dengan gerakan hati-hati, seolah tidak rela membiarkan dirinya untuk tidak mengambil waktu sedikit lebih lama untuk bisa mengamati sosok Chiara lebih lama lagi.


"Semoga kamu selalu hidup aman dan bahagia my little girl. Jadilah wanita yang kuat dan sukses di masa depan, sehingga aku bisa bernafas lega sudah berhasil menjagamu dengan baik sesuai janjiku." Aaron berbisik pelan sambil menghela nafasnya, dengan mata ambernya yang terlihat memandang Chiara dengan tatapan mata yang sangat lembut.


Setelah itu, tangan Aaron kembali bergerak menutup kembali tirai jendela Chiara, seperti yang dilakukannya beberapa hari sebelumnya, setelah sekilas Aaron menatap Chiara yang tertidur dengan wajah damainya.


"Good night Chiara, have a sweet dream my little girl." Aaron berbisik pelan sebelum tangannya menutup rapat tirai, begitu juga jendela kamar Chiara, dan dia sendiri kembali bergerak dengan cepat kembali ke apartemennya, dan memaksa dirinya untuk bisa segera terlelap dan masuk ke alam mimpi.


Dan entah kenapa, setelah mengunjungi Chiara tadi, dengan cepat Aaron langsung terlelap tidur, tanpa perlu menunggu lama.


# # # # # # # #


Dalam diamnya, dengan telinganya yang sensitif, Aaron bisa mendengar langkah-langkah seseorang yagn tampak menuju ke arah kantornya dengan langkah yang begitu terburu-buru, sampai nafasnya sedikit tersengal.


"Brak!" Sebuah pintu yang dibuka dengan sedikit kasar dan cepat, membuat Aaron tetap tidak bergeming sedikitpun dari posisinya yang sedang serius, duduk di kursi kebesarannya, di balik meja kerjanya, dengan Zachary berdiri tegak di sampingnya.


Pintu yang dibuka, dan menimbulkan suara cukup keras itu membuat Zachary langsung menoleh, untuk melihat siapa yang datang, meskipun Zachary sudah mengira siapa dalang pembuat keributan itu.


Tidak akan ada orang lain yang berani menemui Aaron dengan cara seperti itu jika bukan sepupunya Diego.


"Aaron!" Sebuah teriakan keras dari Diego membuat Aaron mengalihkan pandangan matanya yang sedang fokus pada berkas-berkas di atas meja kerjanya, yang menunggunya untuk membubuhkan tanda tangannya di sana.


Hari masih pagi dan Diego sudah terlihat masuk ke dalam kantor Aaron tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu.


Kebiasaan dari Diego yang sudah membuat Aaron hafal dan tidak lagi ambil perduli dengan tindakan saudara sepupunya itu.


"Aaron!" Diego kembali memanggil nama Aaron dengan suara yang cukup keras, karena melihat bagaimana Aaron yang hanya memandanginya tanpa ekspresi melihat kedatangannya yang terburu-buru seperti pencuri yang sedang dikejar oleh polisi.


"Ada apa? Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kamu berteriak seperti orang kesetanan?" Aaron hanya berkata pelan dengan sikap tenang, setelah melihat sosok Diego sekilas dengan wajah paniknya dan begitu masuk ke ruangan Aaron, langsung berlari ke arah Aaron.


"Heh! Kenapa sikapmu bisa tetap setenang itu meskipun kamu sudah melakukan hal besar yang membuatku shock Aaron! Ternyata diam-diam kamu bergerak cepat dan membuatku tidak sadar kalau kamu justru merebutnya dariku tanpa aku sadari. Sepetinya sejak awal, kamu memang ingin merebutnya dariku...." Diego langsung berkata dengan memajukan bibirnya, dengan sikap tidak terima, seolah Aaron baru saja diketahuinya sudah berbuat curang di belakangnya.


Aaron sendiri hanya menanggapi omelan Diego dengan menaikkan salah satu alisnya, tanpa mengatakan apapun pada Diego.


"Aku baru saja mendengar dari mama kalau dalam waktu sebulan ini, kamu akan segera menikah. Benar-benar gila!" Diego berkata sambil menghempaskan tubuhnya di kursi yang ada di hadapan Aaron, dipisahkan dengan sebuah meja kerja Aaron yang cukup besar dan terlihat mewah sekaligus elegan, dengan kayu pilihan dengan kualitas terbaik.


"Aku yang akan menikah, bukan kamu. Lalu kenapa kamu yang ribut?" Tanpa perduli, Aaron bertanya dengan tangan dan matanya kembali fokus pada lembaran berkas di depannya.


Zachary yang berdiri di samping meja kerja Aaron, tampak berdiri tegap, tanpa memperdulikan apa yang terjadi di depannya, terlihat fokus menatap kertas-kertas yang ada di atas meja, setia menunggu Aaron menyelesaikan pekerjaannya, seolah tidak menyadari kehadiran Diego di sana.