
"Om Aaron... ayolah, tidak apa-apa. Aku juga sudah mengantuk sekali, jadi tenang saja... tidak mungkin aku mengganggu Om Aaron malam ini." Chiara berkata sambil menggeser tubuhnya ke salah satu sisi tempat tidur, menarik selimut, dan membaringkan tubuhnya tanpa sikap ragu sedikitpun, membuat Aaron hanya bisa menghela nafasnya mendengar kata-kata Chiara.
Kenapa justru sepertinya disini aku yang seolah-olah menjadi perawan di sarang penyamun? Gadis kecilku itu benar-benar tidak mengenal rasa takut.
Aaron berkata dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tindakan Chiara yang begitu santai malam ini, padahal untuk pertama kalinya, mereka berada dalam satu kamar yang sama, sebagai pasangan suami istri.
Kalaupun ada sesuatu yang terjadi pada mereka, memang tidak akan ada yang menyalahkan mereka, tapi Aaron tahu dia tidak akan berani bertindak ceroboh, apalagi jika dia mengingat peringatan keras dari George tentang kondisinya.
Kamu ini benar-benar... Ah, sudahlah. Mungkin hanya aku yang berpikir aneh-aneh, sedang dia masih seperti anak kecil yang polos.
Aaron berkata dalam hati sambil memandang ke arah Chiara yang sudah meringkuk di bawah selimut tebalnya.
Dengan gerakan pelan Aaron berencana ikut membaringkan tubuhnya di sofa seperti yang sudah dia rencanakan sejak awal, tapi entah kenapa ada sebuah dorongan dan rasa penasaran yang begitu mengusik Aaron, sehingga tiba-tiba tanpa sadar dia bangkit dari duduknya, dan berjalan ke arah tempat tidur berukuran ekstra besar itu, karena merupakan barang customization, yang secara khusus dipesan Aaron dari Italia.
(Customization adalah upaya untuk menyesuaikan produk dengan keinginan konsumen. customization mengacu pada proses menawarkan produk atau jasa secara tetap cocok dengan keinginan dan kebutuhan konsumen).
Antara ingin dan tidak, tapi pada akhirnya, entah kenapa Aaron tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mencoba merasakan berada dekat dengan Chiara dalam satu tempat tidur itu.
Chiara dengan kondisi setengah tidurnya, dan tubuh miring ke samping membelakangi sisi lain tempat tidur, tampak menyungingkan senyum tipisnya begitu merasakan Aaron yang akhirnya ikut naik ke atas tempat tidur dengan gerakan hati-hati karena tidak ingin mengganggu tidur Chiara.
Lima menit…. Lima belas menit…. Lima puluh menit…. Sampai akhirnya berlalu satu jam lebih, Aaron yang membaringkan tubuhnya dengan kedua tangan bersidekap di atas perutnya, dengan mata memandang ke arah langit-langit kamarnya, tetap dalam kondisi terjaga, sedangkan Chiara sudah melanglang buana di alam mimpi.
Apa yang sedang aku lakukan sekarang? Bisa-bisanya aku nekad untuk tidur di samping Chiara, yang membuatku bahkan tidak bisa memejamkan mata, dan dadaku tidak pernah mau berhenti berdetak keras sejak tadi.
Aaron berkata dalam hati sambil melirik ke arah Chiara dengan tatapan tidak percaya.
Bisa-bisanya, dia tertidur lelap seperti bayi, padahal aku tidak bahkan tidak bisa memejamkan mata barang semenit saja karena berada terlalu dekat dengannya.
Aaron kembali berkata dalam hati sambil tersenyum.
Meskipun Aaron merasa heran dengan Chiara yang sepertinya tidak terpengaruh dengan keberadaannya, tetap tidur dengan nyenyak, tapi Aaron juga merasa senang karena kondisi Chiara sekarang menunjukkan bahwa Chiara merasa nyaman dan aman bersamanya.
“Lebih baik aku membantu Chiara memindahkan semua barangnya mumpung dia sedang tertidur pulas, sehingga aku bisa menggunakan kekuatanku untuk melakukan itu.” Aaron berkata sambil kembali melirik ke arah Chiara yang masih tidur membelakanginya.
Tidak semuanya, tapi sebagian besar barang-barang milik Chiara sudah berpindah ke kamar Aaron, dan Aaron berhasil melakukannya kurang dari 5 menit.
Untuk saat ini, Aaron berdiri termenung di depan lemari yang ada di walk in closet kamar Chiara dengan wajah bingung.
“Aduh… untuk barang-barang itu? Apakah aku juga perlu memindahkannya sebagian?” Aaron berguman pelan sambil memandang ke tumpukan cd dan bra milik Chiara yang memang belum disentuh apalagi dipindahkannya sama sekali.
“Rasanya canggung sekali. Apa lebih baik biar besok Chiara saja yang mengambilnya sendiri ya? Tapi kalau besok mama dan papa melihat Chiara keluar masuk kamar ini, pasti akan jadi masalah besar.” Aaron kembali bergumam, berkata-kata pada dirinya sendiri.
Setelah beberapa saat merasa ragu, akhirnya dengan menahan nafas, dan juga sedikit memejamkan matanya, tangan Aaron terulur ke arah tumpukan cd dan bra Chiara, lalu mengambilnya beberapa dengan asal, dan dengna kecepatan supernya langsung memindahkannya ke lemari di walk in closet kamarnya.
Dengan gerakan super kilat, Aaron menutup pintu lemari begitu dia sudah meletakkan dan menata benda-benda yang dipegangnya ke dalam lemari, sebalum dia membayangkan yang tidak-tidak.
“Huft…. Untung saja sudah selesai.” Aaron berkata sambil menghembuskan nafas lega, dan tangannya memegang dadanya yang masih terasa bergetar hebat karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia memegang benda-benda pribadi wanita seperti itu.
“Untung saja itu milik istriku sendiri. Kalau tidak, aku tidak akan sudi memegangnya.” Aaron berkata sambil melangkah kembali ke arah tempat tidur, dimana Chiara masih tertidur lelap dengan posisi tidur sudah berganti dengan posisi terlentang.
Cantik sekali… istriku benar-benar gadis yang sangat cantik, tidak heran kalau ada begitu banyak laki-laki menginginkannya. Membuatku harus bisa menahan diri dengan baik saat harus melihat pria lain terpesona padanya. Hah… dengan bertambah dewasanya Chiara, aku tidak bisa lagi mengawasinya dari jauh, atau pria lain akan mengambilnya dariku. Dan sepertinya, aku yang egois, belum siap jika harus berpisah dengan Chiara, meskipun itu dengan alasan untuk melindunginya dari bahaya.
Aaron yang berdiri di samping tempat tidur, di sisi Chiara tidur, berkata dalam hati, meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusannya untuk kembali ke Indonesia adalah sebuah keputusan benar, dan sedikit banyak, bahkan membuatnya melupakan tentang rencana menceraikan Chiara setelah 4 tahun pernikahan mereka berlalu.
Bagi Aaron, untuk saat ini, dia merasa tidak rela jika sampai Chiara bersama dengan laki-laki lain, apalagi menjadi milik laki-laki lain di masa depan.
Setelah sekian lama waktu berlalu, dan Aaron semakin menyadari, bahwa ternyata bukannya semakin rela, justru dia yang semakin mencintai Chiara, semakin tidak rela untuk berpisah dengan istri kecilnya itu, apalagi jika dia harus membiarkan pria lain menjadi pengganti posisinya sebagai suami Chiara yang sah.
Aku harus segera menemukan cara untuk mengatasi masalahku saat berada di dekat Chiara. Aku mau selamanya, menjadikan Chiara sebagai satu-satunya istriku, baik sekarang ataupun di masa depan, hanya dialah yang akan menjadi istriku, wanita milikku. Jika George tidak bisa menemukan caranya, aku sendiri akan berusaha mencari orang lain yang bisa membantuku, atau aku harus berusaha sendiri untuk menemukan jalan itu.
Aaron berkata dalam hati sambil bergerak cepat ke arah sisi lain tempat tidur itu, dan membaringkan dirinya sambil memiringkan tubuhnya, sehingga dia bisa memandang wajah cantik Chiara yang tertidur di sampingnya, dengan wajah terlihat tenang.
NOTE: Untuk para pembaca setia, untuk satu episode berikutnya, akan up siang nanti, diharap sabar menunggu ya.S Terimakasih untuk kesetiannya mengikuti novel ini, dan semua supportnya berupa like, komen, rate dan favourite dari para pembaca tercinta.