Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
RASA TAKUT DITINGGALKAN LAGI



"Om... aku akan ke kamar mandi sebentar." Chiara berkata sambil bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke arah toilet wanita yang ada di restoran itu, setelah melihat Aaron menanggapi perkataannya dengan sebuah anggukan kepalanya.


Apa yang terjadi dengan Chiara? Kenapa dia terlihat lesu seperti itu? Apa dia masih marah padaku karena selama setahun ini aku terus berusaha untuk menghindarinya? Dan tidak pernah membalas pesannya?


Aaron berkata dalam hati sambil berdiri dari duduknya, lalu berjalan mendekati salah satu pelayan dari restoran itu dan mengatakan sesuatu sambil menunjuk ke arah meja yang digunakan oleh dia dan Chiara untuk makan malam bersama.


Setelah itu dengan bergegas Aaron segera pergi menjauh, dengan sikap terburu-buru, seolah ada sesuatu hal penting yang sedang dikejarnya saat ini.


# # # # # # # #


Begitu Chiara kembali ke mejanya, mata Chiara langsung mengitari sekelilingnya, mencari sosok Aaron yang tidak ada di meja itu, dan juga tidak berhasil dia temukan dimanapun, meski setiap sudut restoran sudah diamati oleh Chiara dari tempatnya berdiri.


Om Aaron... kemana perginya Om Aaron? Kenapa Om Aaron tiba-tiba tidak ada di meja ini lagi?


Chiara bertanya-tanya dalam hati dan dengan wajah terlihat khawatir dan mata Chiara terus mencari sosok Aaron, di area restoran itu, sedang giginya menggigit bagian bawah bibirnya, hingga Chiara bisa merasakan sedikit amis, menunjukkan kalau bibirnya sudah terluka oleh giginya sendiri.


Saat ini, ada rasa cemas yang begitu besar sedang memenuhi hati Chiara, yang tiba-tiba merasa takut kalau-kalau Aaron tiba-tiba kembali meninggalkannya lagi ke Amerika, dan kali ini... bahkan meninggalkannya tanpa pesan.


Chiara berpikir kalau Aaron pergi darinya karena melihat sikap kekanak-kanakannya tadi di dalam mobil, dan itu membuatnya merasa sangat menyesal.


"Nona....?" Seorang pelayan yang tadi semapt berbicara dengan Aaron langsung berjalan mendekat ke arah Chiara yang wajahnya terlihat bingung.


"Permisi Nona.... Apa Nona sedang mencari kekasih Nona?" Pelayan yang berpikir bahwa Aaron dan Chiara merupakan sepasang kekasih langsung mengajak Chiara untuk berbicara.


"Eh... bukan kekas... eh iya, aku sedang mencari laki-laki yang tadi bersamaku di meja ini." Dengan ragu Chiara menjawab pertanyaan pelayan itu.


Ada desiran halus di hati Chiara begitu mendengar pelayan itu mengatakan kalau Aaron dan dia adalah sepasang kekasih, dan tiba-tiba saja, dia ingin mengakui pernyataan tersebut.


"Oo iya, tadi beliau berpesan, kalau Nona sudah kembali ke meja ini, saya diminta untuk menyampaikan pesan kalau beliau ada urusan sebentar, dan Nona diminta untuk menunggunya." Pelayan itu menjelaskan dengan sikap sopan.


"Ah... iya." Chiara menjawab singkat dengan nada lega, dan senyum manis kembali tersungging di bibirnya.


"Kalau begitu... silahkan Nona duduk dan kembali menikmati hidangan dari restoran kami. Kalau perlu sesuatu, Nona bisa memanggil saya. Saya akan standby di sana." Pelayan itu berkata sambil tangannya yang menunjukkan posisi dimana dia akan berdiri di sana, menunggu perintah.


Setelah melihat Chiara menganggukkan kepalanya, pelayan itu membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah yang tadi sudah ditunjuk olehnya.


Kira-kira kemana om Aaron pergi? Kenapa tiba-tiba dan tidak memberitahukan apapun kepadaku sebelumnya? Apa urusannya sangat penting hingga tidak sempat berpamitan padaku.


Chiara berkata dalam hati sambil memandang satu persatu sisa makanan yang terlihat masih banyak, yang ada di depannya, yang membuat selera makannya hilang karena Aaron yang tiba-tiba menghilang darinya.


"Kenapa wajahmu memberengut seperti itu Chiara?" Suara Aaron yang tiba-tiba muncul di dekatnya, lalu mengambil posisi duduk kembali di hadapan Chiara, membuat Chiara tersentak karena kaget.


"Apa kamu masih marah padaku?" Aaron bertanya sambil menyandarkan punggungnya ke kursi dan kedua tangannya terlipat di depan perutnya, membuatnya ttelihat begitu dewasa dan berwibawa saat ini.


"Eh... ti... tidak Om. Marah masalah apa?" Chiara yang begitu terpana pada pemandangan sososk laki-laki yang terlihat begitu tampan itu menjawab dengan sedikit terbata.


"Ya tentu saja tentang pesan-pesan itu." Aaron langsung menjawab sambil menjauhkan punggungnya dari sandaran kursi, dan menggerakkan tubuhnya ke depan, lalu melipat kedua tangannya di atas meja, menatap lurus ke arah wajah Chiara, membuat Chiara semakin gugup.


"Ooo.... ah... masalah itu...."


"Maafkan aku...." Ucapan permintaan maaf dari Aaron membuat Chiara langsung memandang ke arah Aaron dengan wajah bingung.


"Ke depannya aku akan berusaha untuk selalu membalas pesan-pesanmu, meskipun mungkin terlambat karena kesibukanku." Mata Chiara membulat sempurna karena kaget dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Aaron padanya.


Setelah selama setahun Aaron tidak pernah membalas pesannya, dan tiba-tiba sekarang laki-laki yang mampu mengobrak-abrik hatinya itu mengatakan akan berusaha untuk selalu membalas pesan-pesan darinya, tentu saja membuat Chiara menatap ke arah Aaron dengan tatapan tidak percaya.


"Aku berjanji untuk itu, jadi jangan marah lagi padaku ya." Aaron berkata sambil melirik ke arah makanan yang tidak berkurang meskipun Chiara sudah kembali dari kamar mandi lebih dahulu darinya.


"Selamat malam Tuan dan Nona...." Seorang dengan pakaian rapi tiba-tiba mendekati meja Aaron dan Chiara, menyapa mereka berdua sambil membawa sebuah kue tart berukuran kecil dan meletakkan di hadapan Chiara dan Aaron.


"Eh, rasanya kita tidak memesan kue kan Om?" Chiara berkata pelan sambil menatap ke arah Aaron yang langsung mengangkat kedua bahunya, sebagai tanda dia tidak tahu menahu tentang mini tart itu.