
Berkali-kali Chiara memandangi layar handphonenya, dimana di sana tertulis jelas beberapa nomer acak, yang berjajar, merupakan nomer dari nomer handphone Aaron yang tadi diberikan Aaron padanya sebelum laki-laki tampan itu dan keluarganya pamit untuk pulang, setelah membahas bagaimana pesta pernikahan antara Aaron dan Chiara yang akan diadakan 4 minggu lagi, tepat 2 hari sebelum keberangkatan Aaron ke Amerika.
Jika saja menuruti apa yang diinginkannya, sebenarnya Aaron ingin sehari setelah menikah, dia bisa langsung pergi ke Amerika. Tapi dia khawatir kalau-kalau keluarganya curiga dan akhirnya sadar kalau pernikahannya dengan Chiara hanya sekedar sandiwara agar dia bisa menyelamatkan Chiara dari rencana licik Mona.
Dengan cepat dan juga terlihat bersemangat, Chiara menyimpan nomer itu ke dalam kontaknya.
Setelah menyimpan nomer Aaron, bibir Chiara terlihat menyungingkan sebuah senyuman begitu dia mengklik gambar profile Aaron, dimana disana terlihat foto Aaron yang sedang berdiri di dekat mobil ferrari merahnya, memandang ke arah lautan lepas.
Di foto itu, Aaron tampak mengenakan celana jeans berwarna biru muda, dengan kemeja model slim fit dengan berwarna putih, yang menunjukkan bagaimana gagah dan sempurnanya tubuh Aaron sebagai pria.
Satu tangan Aaron tampak masuk ke dalam saku celana jeansnya, sedang tangannya yang lain berada di atas kap mobil ferrari miliknya dalam posisi ditekuk, dengan kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya.
Gambar yang diambil dari arah samping itu benar-benar menunjukkan bagaimana tampan dan mempesonnya seorang Aaron.
"Ternyata om Aaron benar-benar keren.... dengan pakaian model apapun, dan juga dengan posisi bagaimapun. Ist.... Aku baru tahu, ada laki-laki sekeren om Aaron di dunia ini." Chiara bergumam pelan, dengan matanya terus mengamati foto yang ada di profile Aaron, yang menunjukkan bagaimana sempurnanya tubuh laki-laki tampan itu dengan pakaian yang dia kenakan.
Chiara lalu bergerak, menggulingkan tubuhnya di atas tempat tidur, dengan tangannya mengangkat handphone miliknya ke atas dengan kedua tangannya, masih dengan setia mengamati penampilan keren Aaron di foto profilenya.
"Rasanya ingin sekali mengirimkan pesan buat om Aaron. Tapi... aku mau bilang apa ya?" Chiara bergumam pelan.
"Apa aku sebaiknya mengucapkan terimakasih karena pertolongannya hari ini?" Dengan ragu Chiara kembali berkata.
"Dengan posisinya yang ternyata adalah seorang CEO perusahaan yang sangat besar, dia pasti sangat sibuk. Tapi aku ingin sekali mengiriminya pesan.... Tapi kalau ternyata aku mengganggu kesibukan dan waktu istirahat om Aaron bagaimana? Atau pesanku hanya dianggapnya sebagai angin lalu? Hanya di baca, tapi tidak dibalas? Pasti membuat kesal nantinya. Hah...." Chiara mengakhiri kata-katanya dengan sebuah lenguhan pendek, dengan wajah terlihat sedikit frustasi.
Saat ini rasanya ingin sekali dia mengobrol dengan Aaron, entah mengobrol tentang apapun, atau bahkan hanya sekedar menyapanya.
Tapi dia masih merasa ragu, karena bagaimanapun, Aaron adalah laki-laki yang baru bertemu dengannya hari ini, dan juga laki-laki yang baru pertama kalinya membuat hatinya serasa jumpalitan tidak karuan.
Entah kenapa, Chiara sendiri begitu bingung dengan dirinya sendiri, yang baru pertama kalinya merasakan hal seperti ini pada seorang laki-laki, padahal laki-laki itu baru bertemu dengannya hari ini.
"Om Aaron benar-benar baik hati, bukan hanya tampan. Sepertinya, aku sangat menyukai Om Aaron." Chiara berkata lirih, sambil meletakkan handphonenya di dadanya.
"Aku sudah putuskan! Setelah dewasa, aku akan mengejarmu om Aaron. Aku akan mengejar cintamu." Chiara berkata sambil mendekatkan layar handphone yang masih menunjukkan foto Aaron ke arah bibirnya.
"Tunggu aku dewasa ya Om." Chiara berbisik pelan sambil mencium layar handphonenya beberapa saat, tepat pada foto yang menggambarkan sosok Aaron yang mengagumkan.
Sebentar kemudian Chiara menguap dan mulai membiarkan matanya terpejam, setelah sebelumnya, tanpa sadar tangan Chiara memencet ikon gambar berbentuk bulan sabit bewarna kuning, dengan di bagian atasnya ada tiga gambar bintang berukuran kecil, dan latar belakang gambar itu berwarna hitam, menunjukkan suasana malam.
Dan tanpa sadar juga, jari mungil Chiara mengirimkan gambar itu pada Aaron, sebelum akhirnya handphonenya terlepas dari tangannya yang mulai melemah, karena Chiara sudah mulai menikmati tidurnya.
# # # # # # # # #
Aaron yang sedang duduk menyendiri dengan topeng yang setia menempek diwajahnya, di atap salah satu gedung tertinggi di kota itu sambil mendongakkan kepalanya, menikmati pemandangan langit malam itu, langsung menoleh ke arah saku celananya, dimana handphonenya baru saja bergetar, dan menunjukkan adanya tanda ada sebuah pesan baru yang masuk untuknya.
Begitu melihat bahwa pesan itu berasal dari Chiara, Aaron terlihat sedikit mengernyitkan dahinya.
Dan setelah membuka pesan masuk itu, Aaron tampak menaikkan salah satu sudut bibirnya.
Tidak lama kemudian, tubuh Aaron melompat tinggi, melesat ke langit, dan mengarahkan handphonenya ke arah bulan purnama yang sedang bersinar terang malam ini, mengambil foto langit malam yang hari ini terlihat cerah.
Setelah itu, Aaron kembali turun, di tempatnya semula, untuk kemudian Aaron langsung mengirimkan hasil jepretan kamera handphonenya pada Chiara, untuk membalas pesan singkat dari Chiara barusan.
Beberapa saat kemudian, Aaron masih memandang ke arah langit, membiarkan angin malam yang dingin menerpa wajahnya.
Cukup lama Aaron berdiam dalam posisi yang sama sambil melamun, lalu matanya kembali memandang ke arah handphone di tangannya, seolah menunggu adanya respon dari Chiara.