
“Ada banyak hal yang harus aku ceritakan padamu, dan aku sungguh berharap, kamu tidak menganggapku orang yang aneh karena apa yang akan aku ceritakan nanti.” Aaron berusaha mengawali perkataannya dengan sikap tenang, meskipun saat ini hatinya sedang bergejolak.
Sikap Aaron saat ini justru lebih seperti seorang mahasiswa yang sedang menghadapi ujian skripsi di depan para dosen penguji yang menentukan gagal atau keberhasilannya untuk lulus dan diakui pantas menjadi seorang sarjana.
(Pada dasarnya sidang ujian skripsi adalah suatu bentuk ujian terbuka untuk mempertahankan hasil penelitian. Hasil penelitian yang di susun dalam bentuk skripsi oleh seorang mahasiswa jenjang strata satu (S1) yang akan dipertahankan di depan dewan penguji yang memenuhi syarat penguji.
Ujian skripsi merupakan ujian terakhir yang mesti dilalui seorang mahasiswa agar bisa meraih gelar Sarjana. Ujian skripsi sendiri merupakan rangkaian dari beberapa tahapan ujian yang akan menentukan layak atau tidaknya seorang mahasiswa untuk menyandang gelar Sarjana.
Proses Sidang Skripsi yakni mahsiswa yang bersangkutan harus hadir dalam forum ujian skripsi beserta dengan dewan penguji dan pembimbing (Dosen yang membimbing mahasiswa yang bersangkutan selama penyusunan skripsi). Namun di beberapa kampus kadang mahasiswa tidak didampingi oleh dewan pembimbing skripsi (semua tergantung dari aturan/regulasi masing-masing kampus).
“Om Aaron bebas mengatakan apapun tentang diri Om Aaron, entah itu baik atau buruk. Dan aku akan tetap menjadi pendukung terbaik untuk Om Aaron. Kalau ada masalah, ayo kita hadapi berdua. Bukannya berdua lebih baik daripada sendirian Om?” Chiara berkata pelan.
Perkataan Chiara, mau tidak mau membuat hati Aaron merasa jauh lebih tenang, dan membuatnya semakin mantap untuk menceritakan semuanya kepada Chiara, tanpa perlu adalagi yang dia sembunyikan.
“Terimakasih untuk dukunganmu Chiara. Mungkin ini bukanlah hal yang masuk akal untuk diceritakan, tapi aku harus tetap mengatakannya padamu. Sebenarnya, kondisi fisikku, tidak seperti manusia normal pada umumnya.” Aaron menghentikan kata-katanya sebentar, mencoba melihat perubahan aura wajah pada Chiara, tapi Chiara tetap pada sikapnya semula, terlihat tenang dan menatapnya dengan konsentrasi penuh.
“Maksudku… ada sesuatu yang berbeda padaku dibanding manusia normal… Sebenarnya, aku memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dari manusia normal, yang mungkin tidak pernah bisa kamu bayangkan….” Lagi-lagi Aaron menghentikan bicaranya, tapi Chiara masih dengan setia duduk diam, menatapnya dengan penuh perhatian.
“Tepat di hari kelahiranku dulu, ada sebuah meteor yang berukuran cukup besar jatuh di dekat wilayah kedua orangtuaku tinggal. Dan tanpa disadari meteor itu memiliki kadar radiasi yang cukup besar, sehingga mampu mengubahnya susunan genetik seseorang, tanpa pandang bulu dengan usia dan juga jenis kelamm…min, apalagi bayi baru dilahirkan dan belum memiliki cukup imun untuk mempertahankan sistem kekebalan tubuhnya seperti aku, meskipun tidak semua bayi di tempat itu terkena efek radiasi dan mengalami mutasi. Akibat radiasi itu secara genetik, aku mengalami mutasi. Dan itu membuatku memiliki kekuatan seperti dalam cerita-cerita komik atau film-film seperti tentang superhero yang ada selama ini. Aku bisa berlari secepat cahaya, dan juga memiliki kekuatan yang bisa menghancurkan baja. Selain itu, aku memiliki kemampuan ekstra untuk melihat jauh dan dan juga mendengar sesuatu berjarak kiloan meter.” Aaron menjelaskan panjang lebat tentang kondisinya, sambil menatap ke arah Chiara dengan harap-harap cemas, takut jika tiba-tiba Chiara merasa kaget dan memberikan respon yang tidak terduga olehnya, dan bisa saja menolak keberadaannya.
“Aku juga memiliki kemampuan untuk mengenali adanya mutan di sekitarku, sehingga aku bisa menghindar atau justru mendekatinya untuk bergabung dengan kelompokku. Di samping itu adalagi kemampuan teleportasi, yang membuatku mampu berpindah tempat yang cukup jauh, hanya dengan hitungan detik atau menit.” Aaron kembali menceritakan kekuatan yang dimilikinya, sambil tetap mengamati perubahan wajah dari Chiara.
Akan tetapi sampai di akhir kata-katanya, Aaron tidak melihat sedikitpun perubahan dari wajah Chiara, entah itu takut, apalagi jijik.
Wajah Chiara tetap terlihat tenang, dan bahkan justru cenderung terlihat bersemangat mendengarkan penjelasan Aaron sampai akhir, seolah sedang mendengar seseorang menceritakan dongeng untuknya.
“Ya Om?”
“Kenapa… kamu diam saja? Apa kamu... tidak ada yang ingin kamu katakan mendengar ceritaku tadi?” Akhirnya justru Aaron yang bertanya kepada Chiara.
“Ah ya Om… tentu saja ada… Om Aaron ternyata keren sekali…. Benar-benar seperti sosok superhero yang selama ini hanya bisa aku lihat di film, atau aku baca di komik. Keren Om… Sangat keren sekali….” Chiara berkata sambil mengacungkan kedua jempolnya ke arah Aaron, membuat Aaron yang justru terlihat bingung, karena tidak menyangka dengan respon Chiara yang justru terlihat begitu senang dan bersemangat, dengan tatapan seperti fans sedang menatap sosok artis idolanya.
“Chiara… apa kamu tidak merasa takut? Menyesal atau….”
“Ah, Om Aaron ada-ada saja. Yang ada justru aku semakin bangga memiliki Aaron sebagai suamiku. Mana bisa orang lain mendapatkan suami superhero seperti aku. He he he.” Chiara berkata dengan nada begituceria dan bersemangat, membuat Aaron terdiam sesaat.
“Chiara… jujur saja selama ini aku begitu takut menceritakan tentang siapa sebenarnya diriku, karena aku takut… kamu justru pergi dariku.” Aaron berkata lirih, membuat Chiara menghentikan tawa kecilnya.
“Om Aaron, sudah aku bilang… aku akan selalu menjadi yang pertama dan selalu mendukung Om Aaron, bagaimanapun kondisi Om Aaron. Dan aku juga ingin jujur dengan Om Aaron… sebenarnya… aku sudah curiga dengan kemampuan Om Aaron itu….karena aku pernah tanpa sengaja melihat saat Om Aaron mengeluarkan kemampuan super Om Aaron, meskipun bukan semua kemampuan yang Om Aaron sebutkan tadi.” Mata Aaron langsung terbeliak begitu mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Chiara.
“Bagaimana mungkin…. Kapan kamu….”
“Apa Om Aaron ingat, kalau aku memliki kebiasaan buruk tidak menutup tirai dan jendela kamarku? Meskipun aku ceroboh dan seenaknya, tapi aku bukan orang bodoh dan ingatanku cukup tajam Om Aaron. Berkali-kali aku selalu berusaha mengingat, kenapa tiba-tiba tirai kamar tertutup sedangkan aku dengan jelas ingat kalau sebelumnya aku sudah membuka tirai itu dan lupa menutupnya.” Chiara berkata sambil menatap Aaron dengan senyum dan tatapan mata begitu hangat dan penuh cinta, juga rasa kagum.
“Penah suatu waktu tanpa sengaja aku membuka mata, terbangun dari tidur, tepat saat Om Aaron menutup tirai jendela kamarku. Dan waktu itu, dengan mengendap-endap, tanpa suara aku berjalan ke arah jendela. Dan saat aku mengintip dari celah tirai yang masih sedikit terbuka, aku melihat dengan jelas sosok Om Aaron yang berdiri dengan membelakangi posisiku, sebelum tiba-tiba tubuh Om Aaron melesat pergi dalam hitungan kurang dari 1 detik dan menghilang begitu saja.” Penjelasan Chiara yang diucapkannya dengan terus menyungingkan senyum di bibirnya, membuat Aaron menelan ludahnya sebelum akhirnya menggerakkan tuhuhnya ke arah Chiara, dan langsung memeluk tubuh mungil itu dengan begitu erat, hatinya meluap, dipenuhi dengan perasaan bahagia yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata oleh Aaron.
Terlalu bahagia untuk dapat diceritakan dan diungkapkan oleh Aaron yang tidak menyangka kalau sejak awal, Chiara sudah menerima dirinya apa adanya.