Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
BERTEMU TETANGGA



"Eh, Chiara...." Brandon langsung menghentikan perkataannya, karena Chiara sudah berlari menjauh darinya, sehingga tidak mungkin untuk mendengar perkataannya.


Chiara harus mengantri kembali, dan kebetulan tempat itu sedang ramai-ramainya, sehingga Chiara harus rela menghabiskan waktunya selama 15 menit untuk menunggu gilirannya.


Sambil menunggu, Chiara mengirimkan beberapa fotonya kepada Aaron seperti biasanya, tanpa menyadari kalau salah satu foto yang dikirimkan Chiara kepada Aaron, juga ada foto Brandon yang ternyata ikut kembali ke toserba dan menunggu Chiara di dekat kasir.


Aduh! Kenapa tiba-tiba ada foto kak Brandon di foto yang aku kirim ke om Aaron?


Chiara berkata dalam hati dengan sikap panik, sambil menggigit bagian bawah dari bibirnya, apalagi menyadari bahwa saat itu juga, tepat setelah Chiara mengirimkan fotonya, langsung terlihat tanda bahwa Aaron sudah melihat pesan yang dikirimkan Chiara berupa foto itu, sehingga Chiara tidak memiliki kesempatan untuk menghapusnya.


Wahh... benar-benar kacau. Semoga om Aaron tidak berpikir macam-macam tentang foto yang tidak disengaja itu.


Chiara kembali berkata dalam hati, dengan masih merasa khawatir, karena setelah diamatinya, Chiara bisa melihat kalau foto Brandon yang tidak sengaja ikut dia ambil, menunjukkan kalau laki-laki itu sedang tersenyum dan memandang ke arah Chiara.


Apa aku perlu menjelaskan kepada om Aaron tentang siapa kak Brandon? Ist... tapi kan om Aaron tidak emngenal kak Brandon? Bukannya itu justru akan membuat seolah-olah aku sednag mencari-cari pembenaran? Seolah-olah memang aku bersalah? Dan ada sesuatu antara aku dan kak Brandon?


Chiara terus berkutat dengan pikirannya sendiri dan berbicara dalam hati, sampai sebuah tepukan tangan di pundak Chiara membuat Chiara tersentak kaget.


"Eh... ya Kak Brandon?" Dengan sikap salah tingkah Chiara bertanya kepada Brandon yang tiba-tiba menepuk bahunya.


"Itu... waktunya membayar." Brandon berkata sambil matanya mengarah ke petugas kasir yang hanya bvisa tersenyum karena melihat Chiara yang awalnya melamun sehingga tidak merespon panggilannya beberapa kali tadi.


"Silahkan Kakak...." Dengan sikap ramah petugas itu mempersilahkan Chiara yang buru-buru berjalan ke arahnya, dan menyodorkan minyak kayu putih kepada petugas kasir itu dengan wajah memerah, sedikit merasa malu karena ketahuan orang lain kalau tadi dia sedang melamun.


# # # # # # #


"Tempat tinggalmu ke arah mana Chiara?" Pertanyaan dari Brandon membuat Chiara merasa bingung untuk menjawabnya, karena terus terang, dia tidak ingin memberitahukan kepada Brandon kalau mereka tinggal di gedung apartemen yang sama.


"Lho, kalian saling kenal ya?" Suara bariton yang tiba-tiba terdengar dari arah belakang mereka, membuat Brandon dan Chiara langsung menoleh ke belakang secara bersamaan.


"Eh, selamat malam Pak...." Chiara langsung menyapa seorang laki-laki berusia pertengahan 30 an yang tadinya menyapa mengajak mereka bicara.


Laki-laki itu beberapa kali bertemu dengan Chiara di lift apartemen atau di lobi apartemen.


Meskipun mereka tidak saling kenal, tapi karena beberapa kali sempat berpapasan atau bertemu, dan sama-sama tahu mereka tinggal di gedung apartemen yang sama, akhirnya setiap mereka bertemu, baik Chiara maupun laki-laki itu saling melempar senyum jika bertemu.


"Lho, kalian juga saling kenal?" Brandon bertanya dengan wajah bingung, sehingga mengulang pertanyaan yang sama yang sebelumnya diucapkan oleh laki-laki itu.


"Sepertinya, belum perkenalan resmi sih." Laki-laki itu berkata sambil mengulurkan tangan kananya ke arah Chiara yang akhirnya ikut mengulurkan tangan, menjabat tangan itu.


"Chiara Mal... Chiara Indarto." Chiara berkata sambil tersenyum dalam hati, hampir saja dia menyebutkan dirinya sebagai Chiara Malverich, karena di tengah-tengah keluarga Malverich sendiri, dia sudah dipanggil dengan nyonya Malverich karena pernikahannya dengan Aaron.


"Sebentar Arya... kok kamu bisa kenal dengan Chiara?" Mendengar bagaimana Brandon memanggil Arya yang jauh lebih tua darinya dengan sebutan namanya langsung, membuat Chiara melapaskan jabatan tangannya dari Arya sambil mengernyitkan dahinya.


Dan hal itu terlihat oleh Brandon yang langsung tersenyum melihat wajah keheranan dari Chiara.


"Eh, iya, aku lupa memperkenalkan padamu Chiara. Arya ini adalah sepupuku yang aku ceritakan tinggal satu apartemen denganku. Dia anak dari adik papaku, karena itu, seberapa tuanya dia, tetap secara garis keluarga, dia adalah adik sepupuku. Karena itu jangan heran kalau kamu mendengar aku memanggilnya dengan namanya langsung." Penjelasan Brandon membuat Arya tersenyum kecil.


"Benar Nona, tapi aku tidak akan memanggil Brandon Kak Brandon, karena dia sendiri yang tidak mau dipanggil Kak olehku, takut pasarannya turun katanya." Arya berkata sambil tertawa.


"Pak... jangan panggil aku nona, panggil saja Chiara, sepertinya lebih enak didengar."


"Oke-oke, tenang saja... sesuai permintaanmu Chiara. Begitukah?" Arya berkata sambil melihat ke arah Chiara dan Brandon bergantian.


"Darimana kalian saling mengenal? Teman SMA atau teman kuliah? Tapi Brandon kok tidak pernah cerita punya teman SMA atau teman kuliah secantik ini?" Arya berkata sambil tersenyum, sengaja mengatakan itu karena dia bisa melihat sedari tadi Arya beberapa kali terlihat mencuri pandang ke arah Chiara.


"Adik tingkat di kampus. Satu jurusan, hanya saja dia angkatan baru tahun ini." Brandon segera memberikan penjelasan kepada Arya yang langsung mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar itu.


"Pantas saja, aku merasa belum pernah melihat Chiara di kampus kita." Perkataan Arya membuat Chiara kembali mengernyitkan dahinya.


"Tentu saja tidak pernah, buat apa Chiara bertemu dengan dekan fakultas lain." Mata Chiara sedikit terbeliak mendengar bahwa laki-laki yang meskipun tidak semuda mahasiwa, tapi di usianya yang tampak masih lumayan muda sudah menjabat sebagai dekan di fakultas dari universitas bergengsi itu.


(Di Indonesia, dekan adalah pejabat yang memimpin suatu fakultas. Dalam bentuk ideal, ia adalah pemimpin administratif sekaligus pemimpin keakademikan tertinggi di fakultasnya. Meskipun demikian, di banyak perguruan tinggi Indonesia posisi dekan masa kini lebih banyak berfungsi sebagai pemimpin administrasi.


Dekan sendiri merupakan jabatan yang bertanggung jawab dengan pelaksanaan pendidikan dan urusan-urusan lain yang ada di fakultas. Dalam menjalankan tugasnya, seorang Dekan biasanya dibantu oleh Wakil Dekan. Sama dengan Kaprodi, biasanya jabatan ini juga diisi oleh dosen yang berada di lingkup fakultas).


"Aduh, jangan kaget seperti itu Chiara, sepupuku Arya ini, dari semenjak kuliahnya memang sudah digadang-gadang untuk menjadi dosen berprestasi di kampus kita. Makanya begitu dia benar-benar menjadi dosen di sana, dengan mudah dia mencapai jabatan dekan yang sekarang sejak 6 tahun yang lalu. Menjadi dekan paling muda dan paling berprestasi di kampus kita." Dengan bangganya Brandon menceritakan tentang kehebatan seorang Arya yang hanya tersenyum kecil melihat bagaimana Brandon menceritakan tentang prestasinya kepada gadis yang disukainya.


"Hebat... Bapak masih muda dan sudah menjadi seorang dekan di universitas terkemuka." Chiara ikut memuji Arya.


"Eh, sebentar, ngomong-ngomong, darimana kamu kenal dengan Arya, Chiara?" Akhirnya pertanyaan yang sebenarnya begitu ingin dihindari oleh Chiara itu, terucap juga dari bibir Brandon.


"O, kami sering bertemu di lift atau lobi apartemen." Pertanyaan Brandon segera dijawab oleh Arya, membuat mata Brandon membulat, dengan tatapan matanya yang langsung terlihat berbinar senang.


"Lho... berarti kita tinggal di gedung yang sama?" Dengan suara ceria Brandon langung berkata sambil menatap dengan intens ke arah Chiara yang jadi merasa canggung dengan sikap Brandon.