
"Bercanda Om. Om pasti banyak pekerjaan di Amerika. Om pasti lelah ya. Kata Diego, ada beberapa masalah yang terjadi pada bisnis baru Grup Malverich. Apapun itu, semoga Om Aaron bisa segera menyelesaikannya." Chiara mengakhiri kata-katanya dengan menjauhkan tangannya kembali dan tangan Aaron, dan menguap lebar.
"Apa kamu sudah mengantuk? Lebih baik kamu kembali ke kamarmu sekarang." Aaron berkata sambil memandang ke arah Chiara yang sedang menutup mulutnya yang masih menguap beberapa kali tanpa bisa dia hentikan.
"Tidak Om. Aku tidak mau menyia-nyiakan waktu yang ada bersama Om. Sudah lama kita tidak bertemu. Aku ingin mendengar kabar Om Aaron, apa saja yang sudah terjadi pada Om Aaron selama di Amerika. Aku mau mendengar cerita Om Aaron selama di sana." Aaron tersenyum mendengar perkataan Chiara dengan wajah sayunya yang terlihat jelas sedang menahan kantuknya.
"Aku memiliki banyak pertanyaan buat Om Aaron...." Chiara berkata sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, dengan posisi santai di kursinya.
"Apa yang mau kamu tanyakan padaku?" Aaron berkata sambil ikut menyandarkan punggungnya di kursi, sehingga posisi duduk mereka jadi sejajar.
Sebenarnya Chiara ingin sekali menyakan tentang hubungan Aaron dengan Angelina, tapi pada akhirnya, Chiara tidak berani untuk mempertanyakan hal itu pada Aaron.
Takut jika Aaron tersinggung, dan yang lebih parah... takut kalau jawaban Aaron merupakan jawaban yang tidak ingin dia dengar.
"Aku mau tahu kapan Om kembali ke Amerika?" Aaron menahan nafasnya sebentar sebelum menjawab pertanyaan Chiara.
"Kenapa? Apa kamu masih memerlukan kehadiranku di sini?" Aaron berkata sambil tersenyum, ingin sedikit menggoda Chiara.
Entah sejak kapan, tapi sejak kehadiran Chiara di hidupnya, Aaron menjadi lebih banyak tersenyum, dan membawa suasana ceria baginya, membuat karakter Aaron sedikit berubah, tidak sekaku dan sedingin sebelumnya.
Apalagi jika berada di dekat Chiara.
Seperti saat ini, entah kenapa, tiba-tiba Aaron ingin menggoda Chiara dengan kata-katanya, suatu hal yang selama ini tidak pernah dilakukannya pada orang lain, mengingat dia orang yang selalu serius dan dingin.
"Mmmm...." Sebuah gumaman pelan dari Chiara sebagai jawaban dari pertanyaannya, membuat Aaron menoleh, tepat bersamaan dengan kepala Chiara yang tiba-tiba terjatuh ke samping, ke arahnya dan bersandar di bahu Aaron karena rasa kantuk yang sudah tidak bisa ditahannya.
Melihat itu, dengan cepat Aaron menahan kepala Chiara yang matanya sudah terpejam rapat, agar gerakannya tidak melesat dan membuat tubuh Chiara terjatuh dari kursi.
"Sepertinya kamu sudah sangat mengantuk sedari tadi, tapi masih saja bersikap bandel tidak mau kembali ke kamarmu." Aaron berkata sambil tangannya mengelus lembut rambut di kepala Chiara dengan kepalanya yang menoleh ke arah Chiara, matanya menatap Chiara dengan penuh cinta.
Untuk waktu yang cukup lama, Aaron membiarkan Chiara tidur dengan kepala dan sebagian tubuhnya bersandar padanya, sambil lengannya melingkar ke bahu Chiara, memastikan agar tubuh Chiara aman dalam pelukannya.
Langit hari ini terlihat cerah sekali, padahal prakiraan cuaca hari ini seharusnya mendung. Semoga masa depanmu selalu cerah baik siang ataupun malam my little girl.
Aaron berkata dalam hati sambil tersenyum, dengan matanya menatap lurus ke arah langit.
Aaron tetap dalam posisinya, tanpa bergerak sama sekali untuk beberapa saat, sampai Aaron yakin Chiara sudah benar-benar tertidur lelap.
Begitu Aaron yakin Chiara sudah benar-benar terlelap, Aaron menggerakkan tangannya, untuk menjauhkan kepala dan tubuh Chiara dengan hati-hati.
Dengan satu tangannya, Aaron berusaha menahan kepala Chiara, sedang tubuhnya bangun dari duduknya, lalu berjongkok di depan tubuh Chiara.
Beberapa saat Aaron tampak terpaku dan menatap wajah Chiara yang tampak terlihat damai dalam tidurnya.
"My little girl. My most beautiful girl. Loving you is both my biggest weakness and greatest strength to face the world." (Gadis kecilku. Gadisku yang paling cantik. Mencintaimu adalah kelemahan terbesar dan kekuatan terbesarku untuk menghadapi dunia).
Aaron berbisik pelan dengan mata ambernya menatap lurus ke arah Chiara, membiarkan dadanya saat ini berdetak dengan begitu kencangnya.
Meskipun terasa sedikit menyesakkan, tapi Aaron tahu bahwa rasa cintanya pada Chiara membuatnya selalu ingin berada di dekat gadisnya itu, dan begitu sulit untuk menjauh darinya, apalagi tidak perduli padanya.
Setelah itu dengan gerakan pelan dan hati-hati, Aaron mulai mengarahkan lengannya yang lain ke arah punggung Chiara, menelusupkan lengannya diantara punggung Chiara dan sandaran kursi, agar dia dapat membopong tubuh Chiara.
Dengan langkah pelan dan hati-hati, Aaron berjalan memasuki kamarnya dengan tubuh Chiara yang sedang tertidur lelap berada dapam gendongannya.
Sekilas Aaron melirik ke arah tempat tidurnya yang terlihat masih rapi.
Dalam hati kecilnya, Aaron ingin sekali membaringkan tubuh mungil itu di tempat tidurnya, tapi pikiran sehatnya langsung membuatnya menghentikan niatnya, jika dia tidak ingin benar-benar kehilangan kendali dirinya yang akan membawanya pada penyesalan seumur hidupnya.
Bu Ida dan Tia yang sengaja menunggu perintah selanjutnya dari Aaron langsung bangkit dari duduk mereka begitu mereka mendengar suara pintu kamar Aaron dibuka meski dengan perlahan.
Begitu Aaron melihat kehadiran dua orang asisten rumah tangganya, sambil tetap menggendong tubuh Chiara, Aaron meletakkan salah satu jari telunjuknya ke bibirnya, memberi tanda kepada mereka agar tidak membuat suara yang bisa membangunkan Chiara.