
Melihat senyum Aaron, dan juga merasakan kedua lengan Aaron yang kokoh sedang melingkar di tubuhnya, membuat berangsur-angsur ketakutan Chiara tergantikan dengan rasa tenang.
Dengan perlahan, Chiara mulai berani menundukkan kepalanya, memandang ke arah bawah.
Begitu mata Chiara berkeliling mengamati pemandangan di bawahnya, matanya kembali berbinar cerah, menunjukkan tatapan takjub sekaligus terpesona, membuatnya berdecak kagum.
"Wah... Om Aaron... ternyata indah sekali pemandangan dari atas sini di malam hari...." Chiara berkata sambil terus mengamati pemandangan kota tempat tinggalnya di malam hari dari ketinggian, dengan bibir terus menyungingkan senyum lebar.
Chiara tampak begitu menikmati pemandangan indah yang terhampar luas di bawah kakinya, nun jauh di sana, sedangkan Aaron tampak begitu menikmati wajah ceria dan bahagia istrinya yang begitu cantik, meski sebagian wajahnya tertutup dngan kain.
"Apa kamu suka Chiara?" Aaron bertanya dengan suara pelan.
Chiara yang mendapatkan pertanyaan dari Aaron langsung mengalihkan padangannya dari pemandangan di bawahnya, dan fokus menatap wajah Aaron.
"Suka Om Aaron.... suka sekali. Indah... indah sekali Om. Terimakasih sudah memberiku kesempatan untuk bisa menikmati indahnya pemandangan ini. Kesempatan yang pastinya tidak akan bisa didapatkan oleh orang lain." Chiara berkata sambil meringis.
Aaron yang tidak bisa melihat bibir Chiara, tetap bisa menebak gadis kecilnya itu sedang meringis dari bentuk matanya yang menyipit.
"Sayangnya aku tidak bisa terlalu sering mengajakmu pergi seperti ini, sampai aku bisa mengendalikan kekuatanku saat berada di dekatmu. Sampai tubuhmu tidak memberikan reaksi yang berlebihan terhadap kekuatanku sehingga bisa membahayakan keselamatanmu." Aaron berkata sambil memandang secara intens ke arah mata Chiara yang juga sedang menatap lurus ke arahnya.
"Om Aaron, aku benar-benar beruntung bisa memiliki laki-laki seperti Om Aaron, yang selalu berada di saat-saat tersulitku. Terimakasih Om... sampai kapanpun aku tidak akan bisa membalas kebaikan Om Aaron." Chiara berkata pelan dengan tatapan penuh haru memandang ke arah wajah tampan suaminya yang langsung tersenyum begitu mendengar kata-kata Chiara padanya.
"Mana ada hutang piutang diantara dua orang yang saling mencintai Chiara. Bagaimana dengan kamu yang sudah membuat hidupku menjadi begitu berarti karena kehadiranmu di sisiku? Apakah itu juga menjadi hutangku padamu? Kamu tidak pernah berhutang apapun padaku." Aaron membalas kata-kata Chiara yang wajahnya terlihat memerah, merasa terharu sekaligus malu-malu karena pujian dari Aaron untuk dirinya, dan langsung mengalihkan pandangan matanya ke arah langit di atasnya, dimana beberapa bintang tampak bersinar cerah malam ini.
"Om Aaron.... apa foto bintang yang Om Aaron kirimkan malam itu... Om Aaron foto dari tempat tinggi seperti ini?" Melihat keindahan langit malam dengan bertabur bintang malam ini, membuat Chiara teringat dengan foto yang dikirimkan Aaron malam itu, dua tahun lalu, setelah dia menerima lamaran Aaron, dan mencoba mengirimkan pesan singkat untuk Aaron.
"Benar... tapi saat itu, aku terbang jauh lebih tinggi dari tempat ini." Aaron berkata tanpa mengalihkan tatapan matanya dari wajah Chiara yang sedang mendongak, menikmati keindahan bintang-bintang di langit.
"Om Aaron... bagiku Om Aaron seperti bintang-bintang di langit itu. Menerangi kehidupanku yang terasa begitu gelap sejak papa dan mama meninggalkanku untuk selamanya malam itu. Bagiku, Om Aaron adalah cahaya dalam hidupku.... Begitu indah, begitu bersinar, begitu membuatku terkagum-kagum...." Chiara berkata lirih dan tanpa sadar, airmata haru menetes dari salah satu ujung airmatanya.
Ingatan tentang kedua orangtuanya, dan juga kehidupannya yang menyedihkan bersama Mona sebagai walinya, membuat dirinya merasa begitu beruntung bisa bertemu dengan Aaron yang ternyata selalu ada untuknya, meskipun mungkin selama dua tahun ini, sosok Aaron berada di Amerika.
Jauh... tapi Chiara tahu Aaron selalu mengamati dan melakukan semua yang terbaik untuknya, sebagai teman, kakak, kekasih, juga pengganti kedua orangtuanya, Aaron sudah mengambil semua posisi itu untuk Chiara.
"Om Aaron adalah bintang dalam hidupku...." Chiara berkata pelan sambil salah satu tangannya bergerak, mencoba menghapus cairan bening yang masih menggantung di ujung matanya, sebelum sempat jatuh menestes.
Dengan wajah masih mendongak, mata menatap ke arah bintang-bintang, Chiara tersenyum lebar, menyadari bahwa untuk sekarang, tidak perlu lagi ada ketakutan dan kekhawatiran, karena adanya sosok Aaron yang begitu nyata, yang sedang memeluknya dengan erat.
Aaron sendiri setelah Chiara mengucapkan banyak kata-kata indah untuknya, tanpa sadar, tiba-tiba tangannya bergerak ke arah belakang kepala Chiara, dan melepaskan ikatan kain yang sedang menutupi sebagian wajah Chiara.
My little girl, my most beautiful wife. I really really love you. And I wil always love you.
Aaron berbisik dalam hati dan menatap wajah cantik Chiara dengan begitu mesra.
Chiara yang awalnya bahkan tidak sadar kalau Aaron sedang melepaskan kain yang menutupi wajahnya langsung tersentak kaget, dengan mata yang melotot, karena tiba-tiba saja sesuatu yang kenyal, terasa dengan lembut menyentuh bibirnya, dan sedikit demi sedikit bergerak melllum… matnya.
Om Aaron....
Begitu tersadar bahwa bibir Aaron saat ini sedang mencium bibirnya, Chiara menyebutkan nama Aaron dalam hati dengan begitu lembut dan penuh dengan perasaan.
Dan dengan gerakan perlahan, kedua tangan Chiara bergerak ke atas, lalu melingkar di leher Aaron, bergelayut di sana dengan mesra, dan dengan mata yang mulai terpejam, karena menikmati ciuman Aaron yang saat ini benar-benar membuat hatinya melayang, dipenuhi dengan kebahagiaan yang tidak terkira.