Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
KEMARAHAN RAKSA



"Aku harap semuanya akan baik-baik saja seperti kata Om Aaron. Aku sungguh mengkhawatirkan tentang rumah peninggalan papa, dan juga kondisi Revina yang pasti akan jadi bulan-bulanan kemarahan tante Mona beberapa hari ini. Dan aku sangat kasihan membayangkan bagaimana Revina harus menghadapi pesta pernikahan yang undangannya sudah tersebar luas itu. Pasti sekarang dia bingung memikirkan bagaimana cara membatalkan acara pernikahan itu. Tapi dia juga pasti akan merasa malu sekali jika harus membatalkannya. Orang pasti akan mempertanyakan alasannya. Dia akan menjadi pergunjingan banyak orang di kota ini." Chiara mengomel panjang lebar, membuat tangan Aaron terulur dan mengelus lembut rambut Chiara tanpa mengalihkan pandangan matanya dari jalanan yang terlihat ramai.


"Seperti harapanmu, semua akan baik-baik saja. Kita akan membantu apa yang bisa kita bantu. Setelah mereka semua tenang, Revina juga sudah pulang dari rumah sakit, kamu bisa megnhubunginya, menanyakan kabarnya, dan menawarkan bantuan kalau kamu sudah tidak merasa sakit hati dan ingin membalas dendam pada mereka." Perkataan Aaron membuat Chiara menoleh dengan cepat.


"Kenapa aku harus sakit hati pada mereka?" Aaron langsung tersenyum mendengar pertanyaan bernada protes dari Chiara, karena sebenarnya Aaron tahu kalau pemikiran Chiara tidaklah sesempit itu.


"Mengingat perlakuan buruk mereka dari dulu, bahkan sampai saat ini ternyata sudah menggadaikan rumah peninggalan orantuamu, orang lain yang melihatnya, mungkin menganggap kamu berhak untuk marah dan sakit hati...."


"Isttt.... buat apa aku merasa sakit hati. Toh Revina sudah meminta maaf padaku tadi. Melihat Revina benar-benar menganggapku sebagai saudara sekarang, itu merupakan hal yang sangat membahagiakan bagiku." Senyum di bibir Aaron semakin melebar mendengar perkataan Chiara.


"Itu baru istriku, Chiara Indarto yang selalu baik dan murah hati pada orang di sekitarnya, bahkan rela memberikan uang beasiswa dari perusahaan Romi kepada anak pejaga sekolah, padahal kamu sendiri juga butuh uang, karena uang bulananmu sendiri banyak diambil oleh tante Mona dan Revina." Mata Chiara langsung membulat sempurna mendengar perkataan Aaron.


"Darimana Om Aaron tahu? Apa Jaka? Atau Grace yang memberitahu Om?" Aaron langsung menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan dari Chiara.


"Tidak, aku mendengarnya sendiri." Aron berkata sambil jari telunjuknya menunjuk ke arah telinganya sendiri.


"Ah...." Chiara hanya bisa mendess…aah pelan karena ingat bahwa suaminya itu memiliki telinga super yang bisa mendengar suara seseorang dari jarak belasan kilometer, jika dia menginginkannya.


“Ternyata Om Aaron suka menguping ya?” Chiara langsung menggoda Aaron yang langsung mengangkat kedua bahunya pelan begitu mendengar pertanyaan dari Chiara.


“Tergantung sih… kalau ornag lain mana perduli aku. Terlalu banyak mencampuri urusan orang lain akan membuatku sakit kepala. Tapi kalau itu tentang kamu… sejak 7 tahun yang lalu, saat sedang sendiri dan tidak lagi sibuk dengan pekerjaan, mendengar celotehanmu bersama para sahabatmu, atau kebiasaanmu menyanyi sampai suaramu serak di kamar mandi adalah hiburan terbaik untukku….” Perkataan Aaron membuat mata Chiara terbeliak kaget.


“Ah… ternyata Om Aaron mesum ya sejak lama?” Aaron yang mendengar pekikan kecil dari Chiara langsung menoleh ke arah Chiara yang sedang meringis dengan mata menyipit, sengaja mengolok-olok Aaron yang hanya bisa tersenyum.


“Kalau mau tahu apa itu mesum yang sebenarnya, tunggu sampai besok malam ya. Kamu sudah bilang kalau besok pasti bisa kan? Sudah bersih…. Sudah waktunya bercocok tanam kembali.” Aaron berkata sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat Chiara melongo, karena sejak mengenal Aaron dua tahun lalu, Chiara tahu Aaron bukanlah orang yang mudah untuk diajak bercanda karena selalu  bersikap serius dan berwajah datar tanpa emosi.


Tapi sejak mereka sudah saling mengungkapkan perasaan mereka satu dengan yang lain, beberapa waktu ini sikap Aaron padanya terasa sangat berbeda bagi Chiara.


Meski Chiara tahu Aaron sangat memperhatikan semua keperluannya, selalu melakukan hal indah yang tidak pernah diduganya, seperti saat dia berulang tahun ke 17 tahun waktu itu, tapi Aaron yang dikenal Chiara jaang sekali menunjukkan emosi dan ekspresi wajahnya.


Namun sekarang, rasanya Aaron jadi lebih sering tersenyum saat di dekatnya, menggodanya dan tanpa ragu menunjukkan sikap mesranya, membuat Chiara semakin tidak bisa untuk tidak jatuh cinta dan terpesona dengan suaminya yang baginya tampak begitu manis sikapnya.


# # # # # # #


"Raksa! Apa-apaan kamu ini! Lepaskan aku!" Mona berkata dengan nada tinggi, sambil berusaha melepaskan cekalan tangan Raksa dari lengan atasnya.


"Aku yang seharusnya bertanya padamu, apa-apaan dengan semua yang kalian katakan tadi di depan Aaron dan Chiara? Kenapa kita harus menjadi gelandangan? Kenapa rumah yang kita tempati sekarang terancam diambil alih oleh pihak bank? Apa yang sudah kalian berdua lakukan pada rumah peninggalan kak Raksa?" Tanpa melepaskan cekalan tangannya, Raksa balik bertanya kepada Mona sambil melotot dengan aura kemarahan tampak memenuhi wajahnya.


Pertanyaan-pertanyaan Raksa yang diucapkannya sambil melotot ke arah Mona, membuat Mona terdiam.


Raksa yang tidak pernah berani menentangnya, apalagi membentak dan melotot dengan wajah marah padanya, kali ini membuat nyali Mona benar-benar menciut, tidak menyangka kalau suaminya bisa bersikap sekeras itu padanya.